Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Jumat, 26 JUNI 2026 • 05:00 WIB

Belajar Angka dalam Bahasa Jawa 1-100, Ngoko dan Krama serta Makna Filosofinya

Belajar Angka dalam Bahasa Jawa 1-100, Ngoko dan Krama serta Makna FilosofinyaIlustrasi seorang bapak yang sedang mengajarkan menghitung pada anakanya. Belajar Angka dalam Bahasa Jawa 1-100 (Nano Banana/gemini.google.com)

INDOZONE.ID - Bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa daerah di Indonesia yang sangat kaya akan nilai budaya dan sejarah. Menerjemahkan angka dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Jawa ternyata tidak semudah kelihatannya, karena ada sistem dan pola penamaan yang spesifik.

Mempelajari bilangan dalam budaya daerah bukan sekadar menghafal kosakata asing, melainkan menyelami logika dan sejarah suatu peradaban. Dalam artikel ini, INDOZONE telah merangkum panduan mengenai angka dalam bahasa Jawa, mulai dari tingkatan bahasanya, tabel lengkap 1 sampai 100, hingga rahasia filosofi di balik penyebutan bilangan-bilangan khusus.

Baca juga: Daftar 100 Kosakata Bahasa Jawa Halus Lengkap dengan Terjemahannya

Mengenal Tingkatan Bahasa Jawa dalam Penyebutan Angka

Bahasa Jawa dikenal dengan perbedaan penyebutannya yang disesuaikan dengan tingkatan kesopanan (unggah-ungguh). Menurut buku 'Asal/usul & Sejarah Orang Jawa' (2017) karya Sri Wintala Achmad, bahasa Jawa pada dasarnya terdiri dari tiga tingkatan utama:

  • Bahasa Jawa Ngoko
    Digunakan oleh seseorang untuk berbicara kepada orang lain yang sudah akrab atau mencerminkan rasa tak berjarak (informal).
  • Bahasa Jawa Krama Madya
    Digunakan untuk berbicara kepada orang lain yang memiliki kesamaan tingkatan atau sederajat.
  • Bahasa Jawa Krama Inggil
    Digunakan oleh seseorang untuk berbicara kepada orang lain yang lebih tua atau sangat dihormati (formal/halus).

Penggunaan tingkatan bahasa Jawa ini tidak hanya terbatas pada kata kerja, kata benda, atau kata sifat saja, tetapi juga berlaku dan diwajibkan untuk penulisan angka atau bilangan.

Menguasai perbedaan tingkatan Ngoko dan Krama dalam berhitung menunjukkan kesantunan sekaligus wujud nyata dari pelestarian budaya kita.

Baca juga: Asal-usul Istilah Ngabuburit, Ternyata Diambil dari Kata Burit Dalam Bahasa Sunda

Tabel Lengkap Angka dalam Bahasa Jawa 1-100

Berikut adalah tabel komprehensif yang memuat urutan angka 1 sampai 100 dalam bahasa Jawa Ngoko dan Krama yang bersumber dari Kamus Bahasa Jawa-Bahasa Indonesia Kemdikbud. Tabel ini akan mempermudah Anda dalam menghafal pola bilangannya.

Angka Bahasa Indonesia Bahasa Jawa Ngoko Bahasa Jawa Krama
1 Satu  Siji Setunggal
2 Dua Loro Kalih
3 Tiga Telu Tiga
4 Empat Empat Sekawan
5 Lima Lima/limo Gangsal
6 Enam Enem Enem
7 Tujuh Pitu Pitu
8 Delapan Wolu Wolu
9 Sembilan Sanga/songo Sanga/songo
10 Sepuluh Sepuluh Sedasa/sedoso
11 Sebelas Sewelas Sewelas
12 Dua belas Rolas Kalih welas
13 Tiga belas Telulas Tiga welas
14 Empat belas Patbelas Sekawan welas
15 Lima belas Limolas Gangsal welas
16 Enam belas Nembelas Enem welas
17 Tujuh belas Pitulas Pitulas
18 Delapan belas Wolulas Wolulas
19 Sembilan belas Songolas Songolas
20 Dua puluh  Rong puluh Kalih doso
21 Dua puluh satu Selikur Selikur
22 Dua puluh dua Rolikur Kalih likur
23 Dua puluh tiga Telulikur Tigang likur
24 Dua puluh empat Patlikur Sekawan likur
25 Dua puluh lima Selawe Selangkung
26 Dua puluh enam Nemlikur Nemlikur
27 Dua puluh tujuh Pitulikur Pitulikur
28 Dua puluh delapan Wolulikur Wolulikur
29 Dua puluh sembilan Sango likur Sangolikur
30 Tiga puluh Telung puluh Tigang doso
31 Tiga puluh satu  Telung puluh siji Tigang doso setunggal
32 Tiga puluh dua Telung puluh loro Tigang doso kalih
33 Tiga puluh tiga Telung puluh telu Tigang doso tigo
34 Tiga puluh empat Telung puluh papat Tigang doso sekawan
35 Tiga puluh lima Telung puluh limo Tigang doso gangsal
36 Tiga puluh enam Telung puluh enem Tigang doso enem
37 Tiga puluh tujuh Telung puluh pitu Tigang doso pitu
38 Tiga puluh delapan Telung puluh wolu Tigang doso wolu
39 Tiga puluh sembilan Telung puluh songo Tigang doso sogo
40 Empat puluh Patang puluh Sekawan dasa
41 Empat puluh satu Patang puluh siji Sekawan dasa setunggal
42 Empat puluh dua Patang puluh loro Sekawan dasa kalih
43 Empat puluh tiga Patang puluh telu Sekawan dasa tigo
44 Empat puluh empat Patang puluh papat Sekawan dasa sekawan
45 Empat puluh lima Patang puluh limo Sekawan dasa gangsal
46 Empat puluh enam Patang puluh enem Sekawan dasa enem
47 Empat puluh tujuh Patang puluh pitu Sekawan dasa pitu
48 Empat puluh delapan Patang puluh wolu Sekawan dasa wolu
49 Empat puluh sembilan Patang puluh songo Sekawan dasa songo
50 Lima puluh Seket Seket
51 Lima puluh satu  Seket siji Seket setunggal
52 Lima puluh dua Seket loro Seket kalih
53 Lima puluh tiga Seket telu Seket tigo
54 Lima puluh empat Seket papat Seket sekawan
55 Lima puluh lima Seket limo  Seket gangsal
56 Lima puluh enam Seket enem Seket enem
57 Lima puluh tujuh Seket pitu Seket pitu
58 Lima puluh delapan Seket wolu  Seket wolu
59 Lima puluh sembilan Seket songo Seket sogo
60 Enam puluh Sewidak Sewidak
61 Enam puluh satu Sewidak siji Sewidak setunggal
62 Enam puluh dua Sewidak loro Sewidak kalih
63 Enam puluh tiga Sewidak telu  Sewidak tigo
64 Enam puluh empat Sewidak papat Sewidak sekawan
65 Enam puluh lima Sewidak limo Sewidak gangsal
66 Enam puluh enam Sewidak enem Sewidak enem
67 Enam puluh tujuh Sewidak pitu Sewidak pitu
68 Enam puluh delapan Sewidak wolu Sewidak wolu
69 Enam puluh sembilan Sewidak songo Sewidak songo
70 Tujuh puluh  Pitung puluh  Pitung dasa
71 Tujuh puluh satu Pitung puluh siji Pitung dasa setunggal
72 Tujuh puluh dua Pitung puluh loro Pitung dasa kalih
73 Tujuh puluh tiga Pitung puluh telu Pitung dasa tiga
74 Tujuh puluh empat Pitung puluh papat Pitung dasa sekawan
75 Tujuh puluh lima Pitung puluh limo Pitung dasa gangsal
76 Tujuh puluh enam Pitung puluh enem Pitung dasa enem
77 Tujuh puluh tujuh Pitung puluh pitu  Pitung dasa pitu
78 Tujuh puluh delapan Pitung puluh wolu  Pitung dasa wolu
79 Tujuh puluh sembilan Pitung puluh songo Pitung dasa sogo
80 Delapan puluh Wolung puluh  Wolung dasa
81 Delapan puluh satu Wolung puluh siji Wolung dasa setunggal
82 Delapan puluh dua Wolung puluh Wolung dasa kalih
83 Delapan puluh tiga Wolung puluh Wolung dasa tigo
84 Delapan puluh empat Wolung puluh Wolung dasa sekawan
85 Delapan puluh lima Wolung puluh Wolung dasa gangsal
86 Delapan puluh enam Wolung puluh Wolung dasa enem
87 Delapan puluh tujuh Wolung puluh Wolung dasa pitu
88 Delapan puluh delapan Wolung puluh Wolung dasa wolu
89 Delapan puluh sembilan Wolung puluh Wolung dasa songa
90 Sembilan puluh  Sangang puluh Sangang dasa
91 Sembilan puluh satu Sangang puluh Sangang dasa setunggal
92 Sembilan puluh dua Sangang puluh Sangang dasa kalih
93 Sembilan puluh tiga Sangang puluh Sangang dasa tiga
94 Sembilan puluh empat Sangang puluh Sangang dasa sekawan
95 Sembilan puluh lima Sangang puluh Sangang dasa gangsal
96 Sembilan puluh enam Sangang puluh Sangang dasa enem
97 Sembilan puluh tujuh Sangang puluh Sangang dasa pitu
98 Sembilan puluh delapan Sangang puluh Sangang dasa wolu
99 Sembilan puluh sembilan Sangang puluh sanga Sangang dasa songa
100 Seratus Satus Setunggal atus

Baca juga: Panggilan Sayang dalam Bahasa Jerman untuk Pasangan, Teman, dan Keluarga

Keunikan dan Filosofi Angka Pengecualian (21-29, 50, dan 60)

Dalam matematika modern yang menggunakan sistem basis 10, nilai 25 selalu dipandang secara linier sebagai 2 × 10 + 5. Namun, bahasa Jawa memiliki nomenklatur kultural tersendiri yang mendobrak pola berulang tersebut dengan menyelipkan filosofi siklus kehidupan manusia.

1. Pola Likuran (Angka 21 hingga 29)

Penyebutan dengan akhiran kata likur pada rentang angka 21 hingga 29 diyakini berasal dari singkatan "lingguh kursi". Istilah likur bermakna bahwa pada usia ini, seseorang seharusnya sudah matang, duduk di kursi profesi, dan tekun bekerja keras untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya.

Namun, ada satu pengecualian historis yang sangat penting, yakni pada angka 25. Angka 25 tidak disebut dengan lima likur, melainkan selawe (dalam bahasa Ngoko) atau selangkung (dalam bahasa Krama).

Selawe sering dimaknai sebagai singkatan dari "Seneng-senenge lanang lan wedok" yang berarti masa puncak ketertarikan antara pria dan wanita. Secara filosofis, selawe bermakna bahwa pada rentang usia ini seseorang biasanya tengah berada di puncak asmara yang erat kaitannya dengan dimulainya rencana untuk menikah dan membangun bahtera rumah tangga. Selain itu, secara historis agraris, angka 25 juga merujuk pada satu lawe (untingan benang atau uang kepeng).

2. Pola Puluhan Khusus: Seket (50) dan Sewidak (60)

Keunikan linguistik lainnya juga muncul pada bilangan puluhan. Jika angka 30 disebut telung puluh dan 40 adalah patang puluh, maka untuk angka 50 dan 60 bahasa Jawa justru memberikan istilah leksikal tunggal:

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Belajar Angka dalam Bahasa Jawa 1-100, Ngoko dan Krama serta Makna Filosofinya

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!