Ilustrasi orang yang kecanduan judi. (Freepik)
INDOZONE.ID - Judi kompulsif atau gambling disorder, merupakan gangguan kesehatan mental, yang ditandai dengan dorongan kuat dan sulit dikendalikan.
Bahkan, seseorang bisa terus berjudi meskipun perilaku tersebut telah menimbulkan dampak buruk terhadap kehidupan pribadi, keluarga, pekerjaan, maupun kondisi keuangan.
Berjudi pada dasarnya adalah aktivitas mempertaruhkan sesuatu yang bernilai, dengan harapan memperoleh keuntungan yang lebih besar. Namun, pada sebagian orang, aktivitas ini dapat berkembang menjadi kecanduan yang serius.
Para ahli menjelaskan, perjudian dapat merangsang sistem penghargaan (reward system) di otak, mirip dengan efek yang ditimbulkan oleh alkohol atau narkoba.
Akibatnya, seseorang dapat terus mengejar sensasi kemenangan meskipun mengalami kerugian berulang kali.
Baca juga: Jauhi Judi Online, Mulailah Investasi: Tips dari Ahli Keuangan untuk Anak Muda
Dalam banyak kasus, penderita judi kompulsif menghabiskan tabungan, menumpuk utang, menyembunyikan kebiasaan berjudi dari keluarga.
Bahkan yang lebih parah, terlibat dalam tindakan penipuan atau pencurian demi mendapatkan uang untuk berjudi.
Ilustrasi orang yang stres kalah judi. (Freepik)
Dikutip Mayo Clinic, gangguan judi kompulsif dapat dikenali melalui sejumlah tanda dan gejala berikut:
Penjudi rekreasional, biasanya berhenti setelah mengalami kekalahan atau menetapkan batas kerugian.
Sedangkan penderita judi kompulsif, cenderung terus bermain dengan harapan dapat mengembalikan uang yang hilang. Pola ini sering kali berujung pada kerugian yang semakin besar.
Penyebab pasti judi kompulsif belum sepenuhnya diketahui. Namun, para peneliti meyakini, kondisi ini muncul akibat kombinasi faktor biologis, genetik, psikologis, dan lingkungan.
Sama seperti bentuk kecanduan lainnya, perjudian dapat mengubah cara kerja otak dalam merespons kesenangan dan penghargaan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Mayo Clinic