Ilustrasi anak flu. (Pexels/Andrea Piacquadio)
Mungkin kamu sering mendengar istilah pneumonia disebut-sebut di masa pandemi virus corona. Memang pneumonia kerap dihubungkan dengan Covid-19 karena gejalanya yang hampir sama.
Pneumonia merupakan penyakit yang berbahaya dan bisa dialami oleh anak-anak dan orang dewasa. Lalu apa sebenarnya pneumonia?
Menurut Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A(K), Ketua Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia, pneumonia adalah suatu radang paru akut.
"Pneumonia itu merupakan suatu peradangan yang akut yang paling banyak penyebabnya infeksi, dan ini mengenai jaringan paru," kata dr. Nastiti dalam sebuah webinar baru-baru ini.
Ia menjelaskan, pneumonia berbahaya dan dapat menimbulkan kematian bagi penderitanya karena melibatkan jaringan paru yang sangat penting untuk pertukaran oksigen. Jika jaringan paru terganggu, maka fungsi pertukaran oksigen pun akan terganggu.
"Jadi kalau ada gangguan di jaringan paru, misalnya anak terkena pneumonia. Kemudian paru-paru yang tadinya berfungsi untuk pertukaran oksigen terisi oleh sel radang dan cairan, maka fungsi untuk pertukaran oksigennya terganggu, sehingga anak bisa jadi kekurangan oksigen. Kalau tidak ditangani maka akan berakhir pada kematian," jelasnya.
BACA JUGA: Pneumonia: Penyebab, Gejala, Diagnosis, Pengobatan dan Pencegahan
Karena sifatnya yang akut, artinya terjadi dalam waktu yang singkat. Dokter Nastiti mengatakan, biasanya proses suatu penyakit yang akut terjadi mendadak dan dalam waktu yang cepat.
"Bisa dalam beberapa hari dan biasanya perjalanan penyakitnya selesai dalam waktu kurang dari dua minggu. Nah ini yang menyebabkan angka kematian pneumonia tinggi, karena kalau terlambat dibawa ke fasilitas kesehatan bisa menjadi berbahaya," ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Public Affairs Director Pfizer Indonesia Bambang Chriswanto mengatakan, pneumonia masih menjadi tantangan kesehatan yang serius di Indonesia. Data UNICEF menyebutkan bahwa pneumonia penyebab kematian kedua terbesar pada balita di Indonesia dan di tahun berikutnya lebih dari 11 ribu balita di Indonesia telah menjadi korban dari penyakit yang mematikan ini.
"Artinya lebih dari dua anak di Indonesia di setiap jam menjadi korban pneumonia, padahal sebenarnya kasus pneumonia dapat dicegah. Dengan pemahaman yang baik tentang pneumonia serta upaya-upaya pencegahan seperti imunisasi untuk pneumonia, banyak kematian anak akibat pneumonia yang seharusnya dapat dihindari," kata Bambang.
Oleh karena itu, Hari Pneumonia Sedunia yang diperingati setiap 12 November akan menjadi waktu yang tepat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya pneumonia, khususnya untuk anak-anak. Dalam peringatan itu, akan digelar acara Festival Anak Sehat Indonesia yang mengkampanyekan Stop Pneumonia.
"Kampanye Stop Pneumonia ini adalah kampanye terintegrasi, kita ingin menyasar pada perubahan perilaku masyarakat dan peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang penyakit pneumonia. Karena kita tahu penyakit pneumonia bukan disebabkan oleh satu dua hal," kata Selina Sumbung, EO Save the Children Indonesia.
Menurutnya, kampanye ini juga menyangkut perubahan perilaku kesehatan serta memperhatikan nutrisi dan gizi anak, melakukan imunisasi, dan memastikan anak-anak mendapat akses ke fasilitas kesehatan yang memadai, dan juga memberikan ASI selama enam bulan kepada anak dan MPASI hingga dua tahun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: