INDOZONE.ID - Dunia maya lagi-lagi dihebohkan oleh dua skandal besar dari Asia yang bikin geleng-geleng kepala.
Pertama datang dari Tiongkok, di mana seorang pria bernama Jiao menyamar sebagai perempuan dan viral dengan nama Sister Hong.
Gayanya feminin, penuh pesona, dan aktif di medsos. Tapi ternyata, di balik wig dan make-up, dia merekam diam-diam hubungan intim dengan ratusan pria—lalu jualan videonya secara ilegal.
Baca juga: IdeaFest 2025 Siap Digelar, Tampil dengan Logo Fresh hingga Tema Budaya
Klaimnya: sudah lebih dari 1.600 pria jadi korban! Meski angka itu dibantah polisi, yang jelas kasus ini langsung bikin #SisterHong jadi trending di Weibo.
Belum juga reda, muncul lagi kabar panas dari Thailand. Kali ini bukan soal tipu identitas, tapi soal pemerasan kelas berat di lingkungan kuil.
Seorang perempuan bernama Wilawan Emsawat alias Miss Golf diduga menjalin hubungan seksual dengan banyak biksu senior, lalu merekam semua aksinya secara diam-diam.
Videonya? Nggak main-main—ada lebih dari 80.000 file! Modusnya: video itu dipakai buat memeras para biksu selama bertahun-tahun, dan hasilnya pun fantastis—Wilawan disebut mengantongi sekitar Rp190 miliar dari hasil memeras para pemuka agama itu.
Baca juga: Hari Anak Nasional, Begini Cara Menyenangkan Lindungi Diri dari Pelecehan
Skandal ini bikin dunia keagamaan di Thailand goyah. Raja Thailand sampai turun tangan, mencabut gelar para biksu yang terlibat.
Pemerintah pun buru-buru bikin aturan baru: semua kuil wajib lapor soal keuangan, gak boleh lagi ada transaksi cash sembarangan. Reformasi ini bakal dimulai Oktober 2025.
Dua kasus ini—meski beda negara dan beda latar—punya benang merah yang mirip: penyalahgunaan kepercayaan dan lemahnya sistem pengawasan.
Sister Hong bermain di ranah identitas digital dan privasi, sementara Miss Golf bermain di ranah moralitas dan kekuasaan spiritual. Sama-sama bikin gempar, sama-sama membuka mata soal betapa mudahnya kepercayaan disalahgunakan di zaman serba online kayak sekarang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Globalvoice.org, The Guardian