INDOZONE.ID - Kalau ngomongin soal dunia hiburan, rasanya nggak bisa lepas dari istilah populer yakni fan culture.
Mau itu dari penggemar film, musik, olahraga, dan aktivitas lainnya, fan culture udah jadi hal yang paling melekat yang bisa mengidentifikasi sekelompok orang yang punya kesukaan yang sama.
Terlebih lagi sekarang aktivitas fans datang dari berbagai platform publik yang bikin jangkauan komunikasinya semakin luas.
Nah, kalau ngomongin soal fan culture, kita juga nggak bisa jauh-jauh dari bahasan sisi positif dan negatif yang ada di dalamnya.
Baca juga: Tips Memilih Rak Piring yang Tepat, Bikin Dapur Rapi Tanpa Pusing
Sisi Positif dari Fan Culture
Bertemu dan menjalin komunikasi sama orang yang punya selera yang sama udah bukan hal yang aneh lagi dalam fenomena fan culture.
Melansir dari Verywell Mind, jadi bagian dari fandom bisa bikin kita terlibat secara sosial dalam komunitas penggemar meskipun komunikasi yang dilakukan terbatas dalam jarak.
Apalagi di era digital ini, yang mana komunitas online udah banyak terbentuk sehingga memudahkan kita sebagai seorang penggemar bisa ikut berkenalan dengan orang-orang baru di ruang maya.
Ditambah lagi, biasanya tiap fandom itu punya dedikasi khusus kepada idolanya dengan membuat berbagai projek menarik yang bisa diikuti oleh siapa aja.
Baca juga: 65 Caption Aesthetic Sunset dalam Bahasa Inggris yang Singkat dan Keren
Mulai dari fan art yang berbentuk foto, video, projek saat konser, bikin freebies, bikin fanfiction, bikin acara amal seperti donasi kemanusiaan dan sosial atas nama idola atau grup kesukaannya, dan masih banyak kegiatan seru lainnya yang bikin kita jadi lebih terhubung satu sama lain di antara penggemar.
Selain bisa jadi ajang bertemu dengan komunitas online, sebagian orang juga ada yang menjadikan fenomena ini jadi ladang bisnis.
Mereka menjual berbagai hasil kreatif yang biasanya dalam bentuk hand banner, pin, gantungan kunci, mini figure, hingga lightstick ala-ala.
Sebagian lainnya juga ada yang menjalankan bisnis khusus seperti pembelian album resmi maupun merchandise lainnya yang bisa memudahkan kita dalam membeli barang yang dimau.
Baca juga: 5 Tipe MBTI Cowok Setia yang Selalu Bikin Pacarnya Bahagia
Sisi Toxic dari Fan Culture
Nah, walaupun banyak hal seru dan positif yang bisa didapatkan saat berada dalam fandom, kita pasti sering juga nemuin aktivitas toxic di dalam komunitasnya.
Ini biasanya berakar dari stereotip negatif yang akhirnya bikin satu fandom ke fandom lainnya jadi saling serang. Istilah populernya adalah fanwar.
Fanwar yang terjadi biasanya juga nggak jauh dari permasalahan soal selera individu yang saling mengunggulkan kesukaannya masing-masing.
Tapi perbedaan itu berujung menjatuhkan sisi lainnya yang berseberangan dengan seleranya. Bisa juga timbul karena masalah perbandingan jumlah streaming, voting, shipper, dan masalah lainnya yang bisa diributkan.
Baca juga: 7 Cara Bertahan Hidup di Tengah Banyaknya Tantangan Duniawi
Situasi fanwar kayak gini akhirnya pun nimbulin reaksi yang berlebihan. Bentuknya bisa berupa ujaran kebencian, tindakan yang merujuk pada rasisme, cyberbullying, hingga doxing yang dilakukan cuma karena pengen mempertahankan argumen dan membela idola mereka yang dihina.
Bentuk toksisitas dalam fan culture yang lebih ekstrem mungkin juga bisa ditemukan ketika seseorang mulai terjerumus pada sikap fanatisme berlebihan, yang justru turut merugikan idolanya sendiri.
Selain itu, cancel culture dalam fenomena fan culture juga sering banget jadi bahan diskusi yang sampai sekarang masih sering diterapkan.
Biasanya cancel culture itu terjadi ketika idolanya dirumorkan terkena skandal tertentu, sehingga menimbulkan ragam reaksi di publik bahkan mass-bullying yang menekan pihak idola, agensi, hingga fandomnya itu sendiri.
Baca juga: 7 Puisi Singkat tentang Pelabuhan yang Romantis dan Bikin Hati Adem
Padahal belum tentu info yang tersebar di dunia maya bisa langsung dibenarkan.
Sisi toxic ini yang akhirnya bikin banyak orang juga ngerasa kalau fan culture bisa jadi menyeramkan lewat serangan dramanya.
Orang yang ada di dalam komunitasnya bisa ikutan ngerasa overwhelming, bahkan bisa juga ngerasa terancam apabila dijadikan sebagai bahan sasaran bullying.
Cara Menjaga Fan Culture Tetap Sehat
Meskipun sisi toxic dari fan culture kedengarannya menyeramkan, kita bisa kok menjaga ruang tersebut untuk tetap sehat.
1. Fokus ke Idola Sendiri Tanpa Harus Nyenggol yang Lain
Hal mendasar yang perlu kita sadari saat menyukai sesuatu adalah paham kalau tiap orang itu punya selera yang berbeda.
Baca juga: Minuman Sehat yang Bisa Bantu Kinerja Otak
Jadi daripada energi kamu abis ngomentarin selera orang lain, mending fokus aja sama apa yang kamu suka.
Kamu juga bisa manfaatin fitur mute atau block yang ada di sosial media buat ngurangin aktivitas yang berhubungan sama hal yang kamu nggak suka, daripada jadinya malah ikut terprovokasi sama dramanya yang bikin mumet.
2. Bikin Grup Chat Khusus
Untuk menghindari sisi toxic dalam fan culture, kamu juga perlu membatasi ruang interaksi yang bikin kamu bisa terlibat perkelahian di dalamnya.
Caranya, kamu bisa bikin grup chat khusus yang isinya orang-orang yang punya kesukaan yang sama kayak kamu.
Baca juga: Buah-buahan dengan Proses Penanaman Paling Rumit
Dari grup itu, kamu bisa deh bikin rencana kegiatan seru-seruan bareng sama anggota grup. Misalnya kayak streaming party, nobar, voting, dan kegiatan seru lainnya yang berhubungan sama kesukaan anggota grup chat.
Tapi perlu diingat juga buat hindari topik sensitif yang bisa jadi bumerang buat kamu.
Kalau ngerasa grup chat yang kamu ikuti udah nggak cukup baik untuk kesehatan mental kamu, kamu boleh kok untuk izin mengundurkan diri dari sana, daripada melibatkan diri kamu dalam situasi negatif.
3. Tetapi Batasan, Jangan Terlalu Fanatik
Menetapkan batasan dalam fan culture ini juga nggak kalah penting karena dunia fangirl/fanboying yang kamu lakuin itu cuma jadi sarana di mana kamu bisa merasa terhibur.
Menetapkan batasan seperti ini juga bakal bikin kamu terus ingat kalau kamu nggak kenal seutuhnya sama idola yang kamu kagumi dari balik layar.
Baca juga: 17 Caption Singkat tentang Pelabuhan yang Bikin Feed Kamu Estetik
Mereka juga manusia yang bisa melakukan kesalahan, sehingga perlu juga untuk nggak menetapkan standar kesempurnaan kepada mereka.
Ingat juga kalau idola kamu pun bisa merasakan terancam kalau ada sesuatu yang mengusiknya, apalagi kalau yang sifatnya udah berujung pada rasa fanatisme berlebihan.
Menjadi bagian dari fandom bisa jadi hal yang menyenangkan lewat rangkaian acara dan konten yang bikin kita bisa terhibur dari penatnya pikiran.
Tapi nggak bisa dimungkiri kalau fan culture bisa juga jadi ruang yang menambah rasa stres akibat dramanya yang nggak berujung.
Baca juga: 17 Caption Singkat tentang Pelabuhan dalam Bahasa Inggris, Bikin Feed Makin Estetik
Buat bisa terhindar dari toksisitas yang ada di dalamnya pun semua tergantung pada diri kita sendiri.
Penting untuk bisa ciptakan ruang hiburan yang tetap sehat dan aman untuk kesehatan mental.
Jadi, daripada ikutan nimbrung ribut nggak jelas yang nggak ada manfaatnya sama sekali, mending fokus sama hal-hal positif yang bisa kamu dapetin keseruannya dalam komunitas yang kamu ikuti.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Verywell Mind, Psychology Today