Minggu, 21 SEPTEMBER 2025 • 14:10 WIB

Ini Perbedaan Quiet Quitting vs Job Hugging, Tren Baru di Dunia Kerja yang Lagi Viral

Author

Ilustrasi Quiet Quitting dan Job Hugging, tren viral di tempat kerja (freepik)

INDOZONE.ID - Beberapa tahun ini, dunia kerja lagi rame sama istilah-istilah unik. Setelah ada quiet quitting yang sempat viral, sekarang muncul lagi istilah baru, job hugging.

Keduanya sama-sama bicara soal hubungan kita sama pekerjaan, tapi ternyata punya makna yang beda. Yap, banyak yang susah membedakan karena sekilas hampir mirip. Nah, biar nggak bingung, yuk kita bahas bareng perbedaan quiet quitting vs job hugging ini!

Apa Maksud Quiet Quitting?

Quiet quitting adalah istilah buat orang yang kerja secukupnya aja, sesuai jobdesk, nggak lebih, dan nggak kurang.

Mereka tetap terima gaji, kerja, tapi nggak mau lagi lembur, ekstra effort, atau ikut kegiatan tambahan di luar kewajiban. Jadi, sebenarnya ini bukan malas, cuma berhenti berlebih-lebihan aja.

Baca juga: Quarter Life Crisis: Fase Hidup Menuju Dewasa, Penyebab, dan Cara Menghadapinya

Sejak Kapan Tren Ini Muncul?

Fenomena ini mulai rame di awal 2020-an, apalagi setelah jadi bahan obrolan di medsos. Menurut Los Angeles Times, Bryan Creely, mantan perekrut yang jadi career coach, pertama kali menyebut istilah ini di TikTok & YouTube pada 4 Maret 2022.

Namun, banyak juga yang nanya, ini tren baru atau cuma cara baru buat bilang kita udah capek sama kerja?

Dilansir dari Investopedia, Survei Gallup Juni 2022 bilang lebih dari 50% pekerja AS itu quiet quitters. Dari data tersebut, cuma 32% karyawan yang benar-benar happy sama kerjanya, 18% terang-terangan nggak puas, sisanya (50%) setengah hati alias quiet quitting.

Akan tetapi, nggak semua percaya. Derek Thompson, seorang jurnalis, bilang data Gallup sebenarnya mirip tren di tahun 2000-an. Jadi, ini lebih ke istilah baru buat fenomena lama burnout dan bosan kerja.

Baca juga: Quarter Life Crisis: Fase Hidup Menuju Dewasa, Penyebab, dan Cara Menghadapinya

Gimana Respons Para Pemberi Kerja?

Respon bos beda-beda. Ada yang santai karena mencari pengganti susah, ada juga yang pakai trik quiet firing alias bikin pekerja nggak nyaman biar orangnya resign sendiri.

Namun, ada yang nyaranin bos lebih tegas sampai harus introspeksi. Jack Zenger & Joseph Folkman (HBR 2022) bilang, kalau banyak karyawan quiet quitting, mungkin masalahnya ada di gaya kepemimpinan.

Apa Bedanya Quiet Quitting dan Job Hugging?

Secara sederhana, job hugging berarti tetap bertahan di satu pekerjaan meski sebenarnya udah nggak terasa cocok lagi.

Alasannya macam-macam, ada yang karena faktor keamanan finansial, loyal sama tim, atau takut kehilangan benefit.

Soalnya, rasa takut kehilangan pekerjaan sekarang nyata banget. Banyak orang lebih milih stay demi keamanan. Apalagi setelah lihat teman atau diri sendiri mengalami PHK, tentu jadi lebih hati-hati.

Nah, perilaku ini sebenarnya udah ada sejak lama, tapi istilahnya sekarang pas banget menggambarkan situasi dunia kerja sekarang.

Sama seperti istilah quiet quitting, job hugging juga ngasih label buat hal yang sebenarnya udah familiar. Bedanya, istilah ini lebih ke rasa cemas karyawan soal karier mereka di tengah pasar kerja yang lagi nggak stabil. Soalnya, job opening dikit, perusahaan juga lagi jarang merekrut.

Terakhir, nyaman di tempat sekarang emang bagus. Namun, kalau ada kesempatan yang lebih baik, jangan lupa pertimbangkan potensi untungnya juga. Kadang, pindah justru bikin kita lebih cepat maju, nabung lebih banyak, atau bayar utang lebih cepat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Investopedia

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU