Kamis, 25 SEPTEMBER 2025 • 13:10 WIB

Sering Merasa Tertinggal dari Teman Sebaya? Ini 6 Cara Hadapi Perasaan Itu

Author

Ilustrasi merasa tertinggal oleh teman sebaya (freepik)

INDOZONE.ID - Pernah ga sih kalian merasa tertinggal dari teman sebaya? Kaya ngeliat temen udah nyampe di tahap tertentu tuh suka kepikiran: “Kenapa dia sudah lulus, dia cepet banget dapat kerja yang bagus, dia dapat pacar yang baik, dia liburan terus, sementara aku masih di titik yang sama?” 

Kalau Kamu pernah mikir kayak gitu, santai, Kamu nggak sendirian. 

Rasa “tertinggal” dibanding teman seumuran itu lumrah banget, terutama di era media sosial di mana setiap milestone bisa langsung dilihat oleh semua orang. 

Tapi jangan biarkan itu bikin Kamu down terus. Yuk, kita bahas kenapa perasaan ini muncul dan gimana cara menanganinya agar Kamu bisa move on dengan kepala tegak.

Baca juga: 105 Caption untuk Anak Perempuan Pertama, Bahasa Inggris!

Kenapa Rasanya Begitu?

1. Perbandingan sosial (social comparison)

Media sosial bikin kita tahu apa yang dilakukan teman-temanmu. 

Tapi Kamu tahu ga sih? Kalau yang mereka tunjukan tuh kadang cuma highlight terbaik mereka, dan  hal ini membuat kita fokus ke “apa yang belum kita punya” daripada mensyukuri apa yang sudah ada. 

2. Ekspektasi dari luar & ekspektasi diri sendiri

Kadang orang tua, keluarga, atau lingkungan memberikan standar, seperti harus lulus cepat, punya kerja bagus, punya pasangan, punya rumah, dll. 

Ditambah ekspektasi kita sendiri tentang kapan “harusnya” sudah mencapai sesuatu. Kalau belum mencapai hal itu, Kamu merasa panik atau malu.

Baca juga: 7 Puisi Singkat Tentang Keikhlasan, Biar Hidup Lebih Tenang dan Bahagia

3. Fenomena FoMO (Fear of Missing Out)

Kadang kita merasa kegiatan teman-teman selalu lebih seru, sampai merasa seperti ketinggalan sesuatu. 

Perasaan seperti ini disebut FoMO, atau takut ketinggalan. Studi di sini menunjukkan, makin sering kita merasa FoMO, biasanya kita jadi kurang puas dengan hidup kita sendiri.

4. Transisi hidup & marker setiap orang berbeda-beda

Transisi menuju dewasa dan tanda-tandanya memang berbeda-beda bagi setiap orang. 

Setiap orang punya jalan hidup, prioritas, dan situasi yang unik, entah itu soal keluarga, keuangan, minat, atau kesempatan kerja. 

Jadi, kenapa harus ada satu patokan yang sama untuk semua orang?

Baca juga: Mengenal Otrovert, Kepribadian Baru yang Unik di Antara Introvert dan Ekstrovert

5. Dampaknya Kalau Dibiarkan

Kalau kita terus merasa seperti selalu tertinggal, perlahan-lahan perasaan itu bisa bikin kita cemas, stres, bahkan kadang sampai merasa depresi ringan. 

Ada sebuah studi yang menarik, judulnya “Falling Behind and Feeling Bad: Unmet Expectations and Mental Health during the Transition to Adulthood.” 

Studi ini menunjukkan, ketika kita merasa harapan-harapan soal tanda-tanda kedewasaan, misalnya punya pekerjaan tetap atau bisa mandiri secara finansial gak tercapai sesuai yang diharapkan, hal itu sering kali berhubungan erat dengan munculnya rasa cemas dan depresi.

Baca juga: Diadopsi Keluarga Kaya Setelah Diculik, Pria di China Ini Kembali ke Keluarga Kandung yang Ternyata Lebih Kaya

Cara Hadapi Perasaan Tertinggal

Supaya nggak stuck terus, coba beberapa langkah berikut:

1. Ubah sudut pandangmu tentang “tertinggal". 

“Tertinggal” bukan berarti gagal. Semua orang memiliki waktu dan peluang masing-masing. Coba lihat teman bukan sebagai pesaing, tapi sebagai inspirasi atau pengingat bahwa “setiap orang punya waktunya sendiri.”

2. Set goals yang realistis & personal

Jangan pakai standar orang lain kalau itu nggak cocok untukmu. Buat target yang kecil tapi jelas, misalnya “nabung dulu Rp X per bulan”, “belajar skill baru”, atau “selesaikan kursus online”. Setiap langkah kecil terasa membanggakan.

Baca juga: 5 Rahasia Sukses Orang Introvert, Pasti Kamu Gak Bakal Nyangka

3. Kurangi konsumsi media sosial / lebih selektif

Kalau melihat teman-teman posting kesuksesan terus-terusan bikin Kamu nggak nyaman. Batasi waktu men-scroll, unfollow atau mute akun yang bikin perasaan Kamu down, atau fokus pada konten yang membangun. 

Atau bisa juga dengan deactive semua akun media sosial dan fokus pada diri Kamu saat ini.

4. Latih self-compassion & bersyukur

Jadilah baik pada diri sendiri. Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan, punya kelemahan, dan menjalani hidup dengan ritme yang berbeda-beda. 

Coba luangkan waktu untuk mencatat hal-hal positif dalam hidupmu, sekecil apapun itu. 

Karena dari situ, kita bisa mulai melihat betapa berharganya perjalanan kita sendiri.

Baca juga: 5 Hal yang Akan Kamu Sadari Setelah Menjalani HTS Tanpa Closure

5. Bangun support system

Teman dekat, keluarga, atau komunitas yang mendukung bisa jadi tempat curhat yang aman. 

Kadang cuma dengan dengar pendapat orang luar yang melihat kita secara objektif, perasaan “tertinggal” bisa jauh mereda.

6. Terapi atau konseling jika diperlukan

Kalau perasaan tersebut sudah sangat mengganggu (susah tidur, sering sedih, tidak semangat), konsultasi dengan psikolog bisa sangat membantu. 

Mereka dapat bantu Kamu memahami akar masalah dan strategi coping yang sesuai.

Tertinggal dari teman sebayamu bukanlah akhir dari dunia. Sering kali apa yang kita lihat di luar sana hanya sebagian dari cerita, bukan keseluruhan. 

Baca juga: Heboh Bule di Ponpes Darussalam, Antusias Coba Ikuti Budaya Islami Lokal

Kamu punya cerita sendiri, punya waktu sendiri, punya proses sendiri. Kuncinya, jangan bandingkan bab satu dengan bab sepuluh miliknya orang lain. 

Jadi jangan minder sama apa yang Kamu punya dan jangan merasa tertinggal lagi ya! Semua orang punya garis start yang berbeda dan punya garis finish yang berbeda-beda.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU