INDOZONE.ID - Siapa sih yang gak pernah denger kata “healing”?
Buat Gen Z, istilah ini udah kayak mantra sakti, entah itu liburan ke pantai, staycation di hotel, me-time di kafe lucu, atau sekadar rebahan sambil nonton series favorit.
Healing udah jadi bagian penting dari gaya hidup mereka.
Tapi, yang bikin menarik, tren ini ternyata sering “ngalahin” keinginan buat nabung atau investasi.
Banyak yang mikir, “Ngapain mikirin masa depan jauh-jauh kalau sekarang aja udah stres?”
Fenomena ini nggak muncul tanpa alasan. Gen Z tumbuh di tengah kondisi yang penuh tekanan, mulai dari krisis ekonomi, pandemi, sampai budaya hustle yang makin gila.
Jadi, wajar saja kalau mereka lebih mikirin kesehatan mental dan kebahagiaan saat ini.
Lewat berbagai data dan pengamatan sosial, kita bisa lihat kenapa healing jadi prioritas utama dibandingkan menabung atau investasi.
Yuk, kita bahas lebih dalam, siapa tahu Kamu relate juga!
Baca juga: 4 Buku Self-Improvement yang Bisa Menginspirasi Perubahan Positif dalam Hidup Kamu
1. Kesehatan Mental dan Overwhelm Global
Gen Z tumbuh di tengah dunia yang penuh tekanan. Mereka menghadapi berbagai krisis besar sejak muda pandemi, krisis iklim, konflik geopolitik dan semuanya datang silih berganti lewat media sosial yang terus aktif 24 jam.
Setiap hari, ada saja berita berat yang lewat di layar. Lama-lama, ini bisa bikin lelah secara mental.
Nggak heran, survei dari UNICEF dan Global Coalition for Youth Mental Health menunjukkan lebih dari 60% Gen Z merasa kewalahan (overwhelmed) oleh keadaan dunia dan arus informasi yang nggak ada habisnya.
Di tengah tekanan yang terus menumpuk, banyak anak muda mencari cara untuk bertahan secara emosional.
Baca juga: 5 Peluang Kerja Sampingan dari Rumah yang Cocok untuk Pekerja Remote, Yuk Cobain!
Di sinilah healing bukan cuma soal liburan atau tren semata, tapi benar-benar jadi kebutuhan.
Buat Gen Z, healing bisa sesederhana istirahat dari media sosial, ngobrol dengan teman, dengerin musik, atau sekadar meluangkan waktu untuk diri sendiri.
Ini adalah usaha untuk tetap waras, menjaga kesehatan mental, dan memberi ruang untuk bernapas di tengah dunia yang terasa makin berat.
2. Kehidupan yang Mahal dan Ketidakpastian Finansial
Tingginya biaya hidup jadi tantangan besar buat Gen Z. Harga pangan naik, sewa makin mahal, biaya pendidikan juga terus meningkat.
Menurut data dari Bank of America dan CNBC, 53% Gen Z merasa bahwa tingginya cost of living jadi penghalang utama dalam meraih kesuksesan finansial.
Ketika sebagian besar penghasilan sudah habis untuk kebutuhan pokok, menabung atau merencanakan masa depan terasa makin berat dan jauh.
Baca juga: 5 Level Kesadaran Manusia: Dari Ego Sampai Spiritual, Kamu Ada di Level Mana Nih?
Di situasi seperti ini, healing seperti hangout bareng teman, nongkrong sebentar, atau sekadar ngopi santai nggak lagi dianggap sebagai buang-buang uang.
Justru, banyak yang melihatnya sebagai “investasi” emosional.
Walaupun sederhana, kegiatan-kegiatan ini bisa bantu meredakan stres, bikin hati lebih tenang, dan kasih semangat buat terus jalan di tengah tekanan hidup yang berat.
3. Nilai Pengalaman Lebih Diutamakan daripada Milik
Gen Z cenderung lebih menghargai pengalaman dibanding kepemilikan.
Mereka nggak terlalu fokus pada punya rumah atau mobil, tapi lebih memilih menghabiskan uang untuk hal-hal yang bisa memberi kenangan atau rasa bahagia.
Survei Secret Sounds Connect di Australia dan Selandia Baru menunjukkan bahwa sekitar 90% Gen Z lebih suka membelanjakan uangnya untuk pengalaman daripada barang.
Baca juga: Kado Ulang Tahun Sebungkus Nasi Padang, Momen Ayah dan Anak Ini Bikin Haru
Bahkan, 66% dari mereka menabung untuk hal-hal seperti traveling atau pengalaman pribadi, bukan untuk membeli aset besar.
Pengalaman yang dimaksud nggak selalu harus mahal atau jauh.
Bisa berupa healing trip singkat, staycation, ikut workshop, atau sekadar me-time untuk recharge diri.
Buat Gen Z, hal-hal seperti ini punya nilai emosional yang besar.
Di tengah hidup yang serba cepat dan penuh tekanan, pengalaman jadi cara mereka untuk tetap terhubung dengan diri sendiri, mengisi ulang energi, dan menemukan makna dari keseharian.
Baca juga: 7 Tanda Teman Diam-diam Mulai Menjauh Menurut Psikolog
4. Trend Healing dan Self-Reward
Healing sekarang bukan cuma soal “rehab” mental, tapi juga jadi tren di media sosial.
Di berbagai platform, banyak banget konten tentang self-care, journaling, staycation dengan gaya aesthetic, spa kecil-kecilan, atau “me-day” yang cozy dan menenangkan.
Semua ini jadi cara Gen Z menunjukkan bahwa merawat diri itu penting, bukan cuma buat penampilan tapi juga untuk kesehatan mental.
Gen Z paham betul bahwa memberi reward pada diri sendiri setelah kerja keras, entah itu di sekolah, kerja sampingan, atau aktif di media sosial, bisa bantu menjaga semangat tetap menyala.
Baca juga: Bukan Gibah, Tapi Koreksi Ujian! Momen Nongkrong Guru Ini Bikin Netizen Ngakak
Karena kalau mental sudah mulai down, semua hal lain seperti produktivitas dan motivasi juga ikut terganggu.
Jadi, healing bukan sekadar gaya-gayaan, tapi kebutuhan nyata untuk terus maju dan tetap kuat.
5. Soft Saving: Jalan Tengah Antara Healing dan Menabung
Meski Gen Z lebih suka mengalokasikan uang untuk healing dan pengalaman, bukan berarti mereka nggak pernah menabung sama sekali.
Justru sekarang ada tren “soft saving,” di mana mereka tetap menyisihkan sebagian uang untuk kebutuhan masa depan, tapi juga memberi ruang untuk menikmati hidup sekarang.
Cara ini membantu mereka menjaga keseimbangan antara menyiapkan masa depan dan memenuhi kebutuhan emosional.
Baca juga: Biar Nggak Hambar! Ini 3 Kebiasaan Sederhana yang Bikin Cinta Suami Istri Tetap Menyala
Soft saving ini sifatnya lebih fleksibel. Misalnya, mereka bisa menabung sedikit di saham atau investasi lain, sementara sisanya dipakai untuk hal-hal yang bikin mereka bahagia, seperti traveling atau hangout.
Dengan begitu, Gen Z nggak cuma fokus pada target finansial jangka panjang, tapi juga memastikan hidupnya terasa bermakna dan penuh warna di setiap harinya.
6. Perspektif Waktu: Hidup Terlalu Cepat Untuk Menunda Semua
Buat banyak Gen Z, pengalaman saat ini terasa sangat penting karena banyak hal di luar kendali mereka.
Pandemi mengajarkan bahwa hidup bisa berubah dengan cepat dan tak terduga.
Baca juga: Fakta Seputar Status Stateless atau Tanpa Kewarganegaraan yang Jarang Diketahui
Karena itu, mereka mulai berpikir kalau terus menunda semua rencana menyenangkan demi menabung nanti, hidup justru bisa terasa hambar dan kehilangan makna.
Makanya, healing jadi cara supaya mereka tetap punya kenangan dan rasa hidup yang nyata.
Bukan cuma sekadar mengumpulkan angka di rekening, tapi juga menikmati momen yang bikin hati senang dan penuh arti.
Dengan begitu, hidup terasa lebih seimbang dan bermakna di tengah ketidakpastian yang terus berjalan.
Jadi, Gen Z memilih healing bukan semata-mata karena boros atau nggak peduli masa depan.
Baca juga: Lazy Girl Job, Pekerjaan yang Lagi Tren di Kalangan Gen Z: Mager Tapi Tetap Cuan?
Faktor kesehatan mental, ketidakpastian ekonomi, keinginan untuk hidup bermakna, dan pengaruh sosial media jadi penyumbang besar kenapa healing sering lebih dipilih.
Menabung tetap ada posnya, tapi nggak selalu jadi prioritas utama, setidaknya bukan dalam bentuk tradisional.
Sebenarnya boleh saja healing, tapi penting juga punya keseimbangan. Supaya nggak cuma hidup hari ini, tapi juga siap untuk hari esok.
Biar nggak lewat tengah malam, nanti sadar kalau tabungan kosong pas butuh banget.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber