INDOZONE.ID - Kalau kamu lagi scrolling Instagram dan lihat feed orang usia 20-an yang sudah jadi founder startup, influencer, traveling ke lima negara dalam setahun, atau punya apartemen sendiri sebelum 30, mungkin kamu pernah mikir, “Kok aku belum seperti mereka, ya?” Nah, di sinilah muncul fenomena yang bisa disebut sebagai tekanan untuk sukses sebelum umur 30, sebuah beban yang makin nyata di kalangan generasi muda sekarang. Yuk, kita uraikan kenapa hal ini bisa muncul, gimana dampaknya ke kesehatan mental, dan gimana kita bisa “selamat” dari jebakannya.
Apaan sih “harus sukses sebelum umur 30”?
Kalau diterjemahkan, ini seperti ungkapan nggak resmi tapi sering banget kita dengar: generasi muda merasa harus banget mencapai sukses besar entah itu karier, keuangan, status sosial, atau punya rumah sendiri sebelum umur 30 tahun. Tekanan ini datang dari banyak arah: mulai dari media sosial yang penuh dengan pencapaian orang lain, ekspektasi keluarga, budaya “jangan kalah sama generasi sebelumnya,” sampai definisi sukses yang sekarang makin luas dan serba cepat.
Jurnal dan artikel internasional menyebut bahwa generasi muda saat ini mengalami tekanan pencapaian (achievement pressure) dan kekhawatiran finansial yang tinggi. Sebagai contoh, survei dari Making Caring Common (Harvard Graduate School of Education) menunjukkan lebih dari setengah responden muda (usia 18-25 tahun) menyebut “pencapaian/performance pressure” dan “kekhawatiran finansial” sebagai pengaruh negatif terhadap kesehatan mental mereka.
Artikel dari IFLScience juga mengungkap bahwa kebutuhan untuk menjadi “sempurna” di kalangan muda naik lebih dari sepertiga dalam 30 tahun terakhir. Ini pun menjadi sumber konflik internal (“kenapa aku belum segitu?”) yang bisa memicu stres.
Baca juga: Rahasia Karyawan Sukses : Cara Efektif Mencegah Burnout dan Menjaga Kesehatan Mental di Kantor
Kenapa bisa muncul dan makin kuat?
Beberapa faktor bikin fenomena ini makin “mengakar”:
Media sosial & kultur “showing success”
Di Instagram, TikTok, atau LinkedIn, kamu pasti sering lihat cerita sukses yang glam banget: orang umur 25 sudah punya bisnis besar, umur 28 bisa jalan-jalan ke Eropa, atau umur 29 sudah punya rumah sendiri. Semua ini bikin standar sukses terasa lebih cepat dan besar dibanding zaman dulu. Artikel “6 Ways Society Pressures You Into Debt Before Age 30” bahkan bilang bahwa salah satu tekanan terbesar adalah dorongan untuk have it all sebelum umur 30 tahun. Jadi, nggak heran banyak yang merasa harus buru-buru mengejar semua target itu.
Ekonomi & pasar kerja yang makin ketat
Dulu, orang mungkin baru mulai punya karier yang stabil di usia 30–35 tahun. Tapi sekarang, generasi muda justru dituntut untuk stand out lebih cepat karena persaingan global makin ketat, kontrak kerja makin fleksibel dan nggak pasti, plus budaya startup yang sering mengglorifikasi kesuksesan anak muda. Akibatnya, tekanan untuk sukses sebelum 30 tahun makin terasa nyata dan berat.
Perfectionism & harapan eksternal
Seperti dijelaskan oleh IFLScience, rasa harus sempurna alias perfectionism kini jadi salah satu penyebab stres baru yang meningkat terutama di kalangan generasi muda yang merasa harus selalu tampil maksimal dan nggak boleh gagal.
Quarter-life crisis & ambivalensi makna hidup
Laporan On Edge dari Making Caring Common juga menunjukkan hal menarik: banyak anak muda yang sebenarnya sudah punya pencapaian, tapi tetap merasa hidupnya kurang arah atau makna. Bahkan, sekitar 58% responden mengaku merasa lacking meaning or purpose, alias masih merasa kosong di tengah segala kesuksesan yang sudah mereka raih.
Dampaknya ke anak muda
Nggak cuma “merasa tertinggal”, tekanan ini juga bisa berdampak nyata pada kesehatan mental dan emosional:
- Stres & kecemasan: Survei dari Mental Health Foundation di Inggris menemukan bahwa 60% anak muda usia 18–24 tahun merasa stres banget karena tekanan untuk sukses, sampai merasa “tidak bisa cope” dengan situasi itu.
- Gangguan kesehatan mental yang lebih besar: Studi jangka panjang menunjukkan bahwa gangguan kecemasan dan depresi cukup banyak terjadi di usia 20-an. Kalau nggak ditangani, kondisi ini bisa mengganggu kemampuan kita buat menjalani kehidupan dewasa, seperti bekerja, mengurus rumah tangga, dan sebagainya.
- Rasa gagal & membandingkan diri: Saat kamu melihat teman atau feed media sosial yang “sukses”, kadang muncul perasaan “aku masih belum apa-apa.” Akibatnya, rasa minder tumbuh, motivasi menurun, bahkan bisa berujung burnout.
- Pengambilan keputusan finansial prematur: Karena tekanan untuk punya segalanya dengan cepat, banyak orang tergoda mengambil utang besar atau investasi yang belum siap, yang akhirnya bisa jadi beban jangka panjang.
Baca juga: Cuma Butuh 5 Menit! Rahasia Orang Sukses Bangkit Saat Lagi Mager Berat
Gimana dong biar nggak kewalahan?
Tenang, ada kok cara supaya kamu bisa survive dan bahkan thrive tanpa harus “meledak” sebelum umur 30.
- Tentukan definisi sukses kamu sendiri
Jangan langsung percaya standar-standar seperti “punya tabungan 1 M sebelum usia 30” atau “punya rumah sendiri sebelum 30” yang sering muncul di media sosial. Sukses itu luas banget, nggak cuma soal materi atau status. Sukses bisa berarti kamu stabil secara mental, punya rutinitas sehat, atau berhasil membangun komunitas yang mendukung dan bikin kamu nyaman. Jadi, jangan paksa diri ikut tekanan yang nggak realistis, ya! - Batasi perbandingan di media sosial
Ingat, feed di media sosial cuma cuplikan terbaik dari hidup orang lain nggak semuanya mereka tunjukin. Jadi, jangan bandingkan hidup kamu dengan apa yang kamu lihat di layar. Fokus pada progres kamu sendiri, sekecil apa pun itu, karena perjalanan tiap orang berbeda. Keep your own pace, jangan keburu stres! - Pahami bahwa jalur hidup tiap orang bisa berbeda
Banyak orang sukses belakangan atau lewat jalur yang nggak linear. Artikel “The Pressure to Be Successful by 30 Is a Lie” dari MVEMNT menyebut bahwa banyak figur sukses justru “melambat dulu” sebelum akhirnya naik. - Kelola kesehatan mental & sinyal tubuh
Kalau kamu mulai merasa cemas terus-menerus, takut gagal, atau gampang merasa kurang, itu tanda alarm. Cari teman bicara, mentor, atau profesional. - Bangun kemajuan konsisten, bukan loncatan besar
Lebih baik naik sedikit demi sedikit setiap hari daripada buru-buru langsung peak. Elastic progress biasanya lebih stabil dan berkelanjutan.
Jadi, ya sindrom “harus sukses sebelum umur 30” memang bisa dianggap sebagai “penyakit” zaman sekarang bagi anak muda. Tekanan performa yang super cepat, standar media sosial yang tinggi, dan pasar kerja yang kompetitif bikin banyak dari kita merasa “tertinggal” padahal baru mulai. Tapi bukan berarti kamu kalah, atau hidupmu nggak on-track. Justru sekarang waktu yang tepat buat redefine makna sukses. Ingat, umur hanyalah angka, progres kamu adalah milik kamu sendiri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Iflscience.com, Mentalhealth.org.uk, Harvard.edu