INDOZONE.ID - Pernah nggak sih merasa suka banget sama seseorang, tapi saat jadi lebih dekat, kamu malah pengin mundur aja?
Atau jangan-jangan kamu tipe yang mikir, “Aku nggak mau terlalu bergantung sama orang lain,” meski dalam hati sebenarnya ingin punya hubungan yang stabil?
Kalau iya, bisa aja kamu tipe avoidant attachmet alias punya gaya kelekatan menghindar. Tipe ini sering banget menghindari untuk berhubungan lebih dalam sama orang lain.
Kalau masih bingung, kita bakal bahas lebih dalam tentang apa itu avoidant attachment dan penjelasannya. Scroll langsung ke bawah ya!
Attachment Style
Sebelum membahas lebih jauh apa itu avoidant, kita perlu tahu soal attachment style alias gaya kelekatan.
Dilansir dari The Attachmet Style, Psikiater John Bowlby, menjelaskan kalau gaya hubungan di masa kecil bisa terbawa sampai dewasa. Ada empat gaya kelekatan utama:
- Cemas (Anxious atau Preoccupied);
- Menghindar (Avoidant atau Dismissive);
- Campuran / Tak Teratur (Disorganized atau Fearful-Avoidant);
- Aman (Secure).
Baca juga: 40 Istilah Percintaan Ala Gen Z, Cari Tahu Biar Nggak Kudet!
Apa Sih Arti Avoidant Attachment?
Sederhananya, gaya kelekatan avoidant termasuk salah satu dari tiga gaya kelekatan yang nggak aman (insecure attachment) yang sering dibahas di psikologi.
Maksudnya adalah tipe orang yang cenderung menjaga menjarak secara emosional. Si avoidant biasanya merasa canggung atau nggak nyaman kalau harus terbuka soal perasaan. Mereka lebih milih buat mengandalkan diri sendiri.
Si avoidant emang kelihatan percaya diri dan mandiri banget. Padahal, mereka susah terbuka secara emosional dan nggak nyaman dengan hubungan yang terlalu dekat.
Baca juga: Soft Launch vs Hard Launch Hubungan Percintaan Zaman Now: Mana Gaya Kamu?
Kenapa Ada Orang yang Menghindari Kedekatan Emosional?
Pernah nggak sih ketemu orang yang kayaknya ogah banget dekat sama siapa pun? Padahal, kebanyakan dari kita mau hubungan yang hangat dan penuh kasih sayang, kan?
Pada dasarnya, manusia itu butuh keintiman emosional, seperti pengin didengar, dihargai, dan punya seseorang buat diandalkan. Hubungan sehat bakal bikin kita merasa stabil, aman, dan punya harga diri lebih tinggi.
Sayangnya, buat orang dengan gaya kelekatan menghindar, kedekatan justru bikin mereka nggak nyaman. Sebab, mereka sejak kecil nggak terbiasa dengan hubungan yang hangat.
Gaya avoidant biasanya terbentuk dari pengalaman masa kecil. Misalnya, kamu punya orang tua yang jarang nunjukin kasih sayang sewaktu kecil. Jadi, tanpa sadar, kamu tumbuh dengan mindset kalau emosi itu sesuatu yang harus disembunyikan.
Namun, gaya avoidant juga bisa muncul setelah dewasa, apalagi kalau kamu pernah mengalami trauma atau hubungan buruk. Kadang, pengalaman itu bikin seseorang berubah jadi lebih tertutup dan menjaga jarak.
Baca juga: Kenapa Ada Orang yang Selalu Menjauh Saat Hubungan Mulai Dekat? Yuk, kenali Avoidant Attachment!
Tanda-Tanda Kamu Punya Gaya Kelekatan Avoidant
Kalau kamu merasa beberapa hal ini relate, bisa jadi kamu punya gaya avoidant.
- Lebih milih mandiri daripada terlalu terbuka soal perasaan;
- Susah percaya sama orang lain, apalagi kalau udah mulai baper;
- Cenderung menjauh kalau seseorang mulai terlalu dekat;
- Merasa harus mengandalkan diri sendiri buat urusan emosional;
- Nggak nyaman buat ngomong kebutuhan atau perasaan pribadi.
Gimana Cara Mengatasinya?
Kalau kamu ingin belajar buat lebih terbuka dan merasa lebih nyaman secara emosional, terapi bisa jadi langkah awal yang bagus.
Salah satu langkah pentingnya adalah mengenali emosi dan pemicunya. Banyak orang dengan gaya avoidant cenderung merasa “pokoknya lagi nggak enak aja” tanpa tahu apa penyebabnya.
Nah, lewat pertolongan profesional alias psikolog, kamu bakal dibantu buat membedakan rasa marah, kecewa, sedih, atau cemas.
Dengan mengenali perasaan secara spesifik, kamu bisa belajar merespons dengan lebih sehat, bukan dengan menghindar.
Kalau mau mulai berubah, kamu bisa coba melangkah kecil keluar dari zona nyaman. Misalnya, mulai terbuka sama orang yang kamu percaya.
Proses ini memang butuh waktu. Soalnya, kamu lagi belajar hal baru yaitu “kalau jadi rentan itu nggak apa-apa.”
Namun, kalau belum sempat, kamu bisa mulai dari refleksi diri, journaling, atau baca buku tentang attachment style.
Yang penting, lakukan dengan sabar dan konsisten. Sebab, menyembuhkan diri dari gaya kelekatan menghindar itu bukan proses instan, tapi bisa aja dilakukan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Attachment Style, Cleveland Clinic