INDOZONE.ID - Sebuah unggahan di media sosial mendadak menjadi perbincangan publik setelah seorang suami mencurahkan isi hatinya mengenai pandangan miring terhadap istrinya yang memilih menjadi ibu rumah tangga meski berpendidikan tinggi.
Dilansir dari unggahan akun Threads @syaefulbahri belum lama ini, ia menuliskan bahwa istrinya adalah seorang sarjana (S1) yang memutuskan untuk fokus mengurus keluarga. Keputusan tersebut kerap mendapat komentar nyinyir dari lingkungan sekitar.
“Sesekali saya masih mendengar kalimat ‘racun’ ini: ‘Sayang banget ya, sekolah tinggi-tinggi, ujung-ujungnya di rumah,’" tulisnya.
Menanggapi pandangan tersebut, ia menegaskan bahwa pola pikir yang menganggap pendidikan sebagai transaksi untung-rugi adalah keliru. Menurutnya, pendidikan seorang ibu justru menjadi salah satu faktor terpenting bagi masa depan anak.
Baca juga: Curhat Istri Kapok Nitip Anak ke Suami yang Salah Pasang Baju, Netizen Salfok ke Muka Bayi
Ia mengutip data global dari Bank Dunia dan UNESCO yang menyebut bahwa tingkat pendidikan seorang ibu merupakan prediktor kuat bagi kesehatan dan kecerdasan anak.
Anak lebih sehat karena ibu terdidik lebih paham soal gizi dan dapat menekan angka stunting.
Anak lebih pintar karena ibu menjadi guru pertama di rumah yang mampu menciptakan lingkungan belajar kaya stimulasi.
“Istri saya bukan pengangguran. Dia adalah manajer keuangan, menteri kesehatan keluarga, kepala sekolah pertama, ahli gizi, dan psikolog yang bekerja 24/7 tanpa dibayar. Semakin tinggi pendidikannya, semakin baik dia menjalankan peran ini,” lanjutnya.
Ia juga menegaskan bahwa mendidik anak perempuan bukanlah biaya hangus, melainkan investasi lintas generasi terbaik. Anak-anak yang dibesarkan oleh ibu berpendidikan terbukti memiliki pendapatan lebih tinggi saat dewasa.
Bagi dirinya, ijazah sang istri memang tersimpan rapi di lemari, tetapi ilmunya tetap hidup dalam setiap aspek keluarga dengan bentuk menjadi generasi penerus yang lebih baik.
“Ilmunya tidak hilang, ilmunya berubah bentuk menjadi generasi penerus yang lebih baik,” tegasnya.
Baca juga: Curhat Seorang Suami Tertular HIV dari Cewek Tinder, Khawatir karena Istri sedang Hamil
Unggahan tersebut sontak menuai respons warganet. Banyak yang mengaku relate dan mendukung pandangan sang suami tentang pentingnya peran ibu rumah tangga berpendidikan tinggi bagi masa depan keluarga.
“Istri saya S1 dan saya D3. Istri saya full-time IRT. Alhamdulillah, anak lelaki pertama saya tumbuh dengan sehat dan bahagia karena semuanya terpenuhi berkat ibunya di rumah,” ujar akun @chef***.
“Istri saya adalah lulusan Psikologi di PTN yang ada di Jogja dan lulus cumlaude pula. Saat menikah, istri sudah memilih untuk tidak bekerja dan fokus di rumah. Dan saya sebagai suami juga yang meminta dia tidak bekerja,” ujar akun @amrul***.
“Hal yang pernah saya tanyakan ke istri adalah apakah orang tua istri merestui keputusan tersebut, mengingat mereka telah menghabiskan waktu, tenaga, dan biaya untuk menguliahkannya. Alhamdulillah, mereka mendukung keputusan itu,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Threads/@syaefulbahri