Dominasi Generasi Millenials dan Z, LAN Dorong Widyaiswara Adaptif Hadapi Tantangan Pembelajaran Baru
INDOZONE.ID - Berdasarkan laporan Badan Kepegawaian Negara (BKN) per 1 September 2025 mengenai jumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) di Indonesia,, total ASN tercatat mencapai 5.359.209 orang. Berdasarkan angka tersebut tercatat Generasi Y (lahir 1977–1994) menjadi kelompok terbesar dengan proporsi 57 persen dari total ASN.
Disusul Generasi X (1965–1976) sebesar 30 persen, Generasi Z (1995–2010) sebesar 12 persen, dan Baby Boomers (1946–1964) yang tinggal 1 persen. Artinya, tenaga kerja ASN saat ini didominasi oleh kelompok usia produktif yang relatif matang, dengan tambahan generasi muda yang mulai masuk.
Komposisi tersebut, menuntut pola pembelajaran yang semakin adaptif terhadap karakter tiap generasi.
Perbedaan cara berpikir, gaya belajar, hingga preferensi teknologi menjadikan kebutuhan pengembangan kompetensi ASN tidak lagi bisa diseragamkan, menyikapi hal ini, menuntut setiap widyaiswara untuk senantiasa mengembangkan diri dan pengetahuan khusus pada pembelajaran multi generasi.
Baca juga: LAN Dorong Sekolah Rakyat Jadi Kawah Candradimuka Pembentuk Karakter Anak Bangsa
Hal ini diungkapkan Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN), Dr. Muhammad Taufiq, DEA, dalam acara Pengukuhan Widyaiswara Ahli Utama, di Aula Prof. Agus Dwiyanto, MPA, Kantor LAN, Jakarta, Jumat (14/11),
Menurutnya, transformasi birokrasi saat ini menuntut agar proses pembelajaran dan pengembangan kompetensi tidak bersifat “one fit for all”, melainkan adaptif terhadap karakter dan kebutuhan berbeda di setiap lintas generasi.
Jangan hanya mengandalkan metode lama, melainkan kembangkan pola pembelajaran untuk Generasi X, Y dan Z yang memiliki pendekatan berbeda-beda.
“Dengan komposisi ASN yang kini multigenerasi dan dinamis, pengembangan kompetensi aparatur publik menjadi semakin kompleks tetapi juga penuh peluang. Sebagai Widyaiswara Utama, tanggung jawab bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga merancang dan mengelola pembelajaran yang tepat sasaran untuk Generasi X, Y dan Z”, jelasnya
Muhammad Taufiq juga mengatakan bahwa Widyaiswara Utama harus berada di garis depan dalam merespons perubahan birokrasi, terutama dalam penyusunan kurikulum, model pembelajaran, dan inovasi metode penyampaian materi.
Melalui pemahaman karakter generasi, widyaiswara diharapkan lebih selektif memilih pendekatan. Ia juga mencontohkan beberapa pola pembelajaran multigenerasi, Generasi X cenderung menghargai struktur, pengalaman, dan pembelajaran berbasis praktik.
Baca juga: Karyawan Senior Sulit Nyambung Kerja Bareng Gen Z, Keluarkan 5 Jurus Ini
Generasi Y (Millennial) lebih responsif terhadap pembelajaran kolaboratif, fleksibel, dan relevan dengan perkembangan zaman dan terakhir, Generasi Z membutuhkan pendekatan cepat, digital, visual, serta pengalaman belajar yang interaktif.
“Pemahaman mendalam terhadap dinamika tersebut dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran dan memperkuat kapasitas ASN dalam menjawab tantangan birokrasi modern, ” tandasnya.
Ia berharap 7 Widyaiswara yang saat ini dikukuhkan dapat terus menjadi pilar utama peningkatan kualitas aparatur, terutama dalam mendorong birokrasi yang adaptif, profesional, dan responsif dan berdampak terhadap kebutuhan masyarakat.
Berikut nama-nama Widyaiswara yang dikukuhkan sebagai berikut :
- Ir. Abdul Hakim, M.For.St.- Kementerian Kehutanan
- Drs. Cukup Wibowo, M.M.Pd., M.Pd. - Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat
- Prof. (R) Dr. Ir. Eko Winar Irianto, M.T. - Kementerian Pekerjaan Umum
- Ir. Taufik Rachman, M.Si. - Bada Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah Provinsi Kalimantan Selatan
- Dr. H. Sudrajat, M.Pd. - Kementerian Dalam Negeri
- Drs. Suparjana, M.A. - Kementerian Dalam Negeri
- Dr. Drs. Hariawan Bihamding, M.T. - Kementerian Dalam Negeri
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: