INDOZONE.ID - Jumlah limbah makanan di Indonesia kini berada di level mengkhawatirkan. Indonesia menjadi penyumbang food waste terbesar kedua di dunia, dengan jutaan ton makanan terbuang setiap tahun.
Kondisi ini memperburuk emisi karbon global dan menunjukkan adanya celah besar dalam cara produksi, penyimpanan, hingga konsumsi pangan di masyarakat.
Baca juga: Menumbuhkan Harapan dari Akar Bumi: Komitmen PNM Hijaukan Negeri
Banyak Orang Kelaparan, Banyak Pula Makanan Terbuang
Laporan terbaru menunjukkan, lebih dari 735 juta orang masih mengalami kelaparan kronis. Namun, jutaan ton makanan hilang di sepanjang rantai pasok mulai dari produksi, distribusi, hingga konsumsi.
Satu butir nasi yang gak dihabiskan memang terlihat kecil. Tetapi bila dikalikan dengan jumlah penduduk Indonesia, jumlahnya dapat berubah menjadi berton-ton limbah makanan dalam setahun.
Mindful Eating Jadi Kunci Pengurangan Food Waste
Dalam diskusi kolaboratif yang diadakan Indonesian Gastronomy Community (IGC), dijelaskan bahwa pola makan berkelanjutan dan mindful eating menjadi pendekatan utama.
Masyarakat diajak untuk mengambil makanan secukupnya, menghargai proses produksi pangan, serta menghabiskan makanan tanpa tersisa.
Langkah sederhana ini dinilai mampu memberi dampak besar jika dilakukan secara kolektif.
Emotional Eating Masih Jadi Tantangan di Indonesia
Salah satu tantangan terbesar dalam mengurangi food waste ini adalah masih rendahnya kesadaran terhadap pola makan bijak.
Sekjen IGC Dr Ray Wagiu Basrowi menegaskan kalau perilaku emotional eating menjadi salah satu faktor yang menambah food waste.
Makan karena dorongan emosi bukan karena kebutuhan tubuh menjadi penyebab banyak orang mengambil makanan melebihi porsi yang diperlukan.
“Perilaku emotional eating juga menjadi salah satu penyumbang limbah makanan, kebiasaan untuk membeli makanan berdasarkan dorongan emosi dan bukan kebutuhan,” ungkap Ray di Jakarta Selatan, Sabtu (29/11/2025).
Panen Cepat Rusak dan Teknologi yang Belum Merata
Food waste bukan cuma terjadi di meja makan. Produk pertanian yang cepat rusak, keterbatasan akses teknologi pasca panen, dan kurangnya pendampingan bagi petani membuat banyak komoditas gak bertahan lama di pasaran.
Ketahanan pangan di tingkat produsen menjadi perhatian penting dalam strategi nasional pengurangan food waste.
Baca juga: Video Viral Gajah Selamatkan Rusa saat Banjir: Menyentuh Tapi Ternyata...
Utamakan Pangan Lokal dan Pemanfaatan Bahan Secara Optimal
Penggunaan pangan lokal juga menjadi bagian dari solusi. Selain lebih mudah diperoleh, pangan lokal memiliki jejak karbon lebih rendah dan membantu mengoptimalkan bahan yang tersedia di daerah.
Pendekatan ini sejalan dengan kampanye yang disampaikan Indonesian Gastronomy Community (IGC) untuk memperkuat gastronomi berkelanjutan menuju 2025.
Makanan Bukan Sekadar Hidangan, Tetapi Tanggung Jawab
Makanan seharusnya dihargai, bukan hanya dinikmati. Mengurangi limbah makanan berarti mengubah cara berpikir dari mengambil porsi berlebih menjadi mengambil secukupnya, dari makan impulsif menjadi makan dengan kesadaran.
Dengan langkah kecil yang dilakukan setiap hari, masa depan pangan yang lebih bijak dan ramah lingkungan menjadi semakin mungkin diwujudkan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan