Selasa, 09 DESEMBER 2025 • 18:05 WIB

Benar-Benar Menyayangi Diri Atau Toxic Positivity yang Terselubung? Ini Bedanya!

Author

Ilustrasi toxic positivity (freepik).

INDOZONE.ID - Akhir-akhir ini, timeline kita penuh dengan kalimat “good vibes only,” “stay positive,” sampai “love yourself.” Di Pinterest terlihat keren, di Instagram terlihat aesthetic. 

Tapi pas hidup mulai berat? Kata-kata itu kadang terasa seperti senyuman palsu — manis tapi nggak ngaruh apa-apa.

Niatnya memang baik. Tapi nggak semua orang butuh afirmasi instan. Kadang seseorang cuma ingin didengarkan tanpa dinilai, tanpa terburu-buru disuruh bahagia lagi.

Toxic positivity: ketika positif malah bikin sesak

Walaupun istilah ini belum seterkenal self-love, makin banyak orang mulai menyadari fenomenanya. 

Baca juga: Ketika Seseorang yang Kamu Anggap Sahabat Tidak Lagi Sahabatmu, Bagaimana Cara Pulihnya?

Bahkan beberapa orang baru sadar setelah menemukan nama untuk pengalaman yang pernah mereka rasakan.

Toxic positivity terjadi ketika seseorang dipaksa tetap optimis sambil mengabaikan emosinya sendiri. 

Biasanya bentuknya berupa nasihat — tapi efeknya bisa membuat orang merasa bersalah karena sedang sedih, kecewa, atau marah. Contoh kalimat yang sering muncul:

  • “Udah lah, jangan lebay.”
  • “Bersyukur, banyak yang keadaannya lebih buruk.”
  • “Santai aja, hidup itu dibuat mudah.”

Kedengarannya lembut. Tapi kalau diberikan di momen yang salah, emosi orang jadi terasa tidak penting dan tidak valid.

Baca juga: Buku-Bukunya Rusak Diterjang Banjir, Cewek Ini Tercengang Lihat Al-Qur'an Tetap Utuh

Tanda positivity berubah menjadi toxic

Susah membedakannya, tapi ada beberapa indikator kalau dukungan mental sudah melewati batas sehat:

  • Langsung memberi solusi tanpa memahami perasaan orang tersebut
  • Menghindari emosi atau pembicaraan yang dianggap “negatif”
  • Membuat seseorang merasa bersalah hanya karena sedang tidak bahagia
  • Memaksa seseorang menemukan pelajaran dari luka yang masih baru

Jika situasi seperti ini berulang, seseorang bisa belajar untuk menekan emosi alih-alih mengerti dan memprosesnya.

Baca juga: Benarkah Makan Ikan Bikin Anak Lebih Pintar? Ini Penjelasan Ahlinya

Self-love yang sesungguhnya bukan tentang selalu bahagia

Berbeda dengan toxic positivity yang ingin semuanya baik-baik saja secepat mungkin, self-love adalah perjalanan jangka panjang. 

Nggak instan. Nggak selalu indah. Self-love berarti:

  • Mengakui bahwa Kamu boleh merasa lelah atau kecewa.
  • Tetap memperlakukan diri sendiri dengan lembut saat keadaan sulit.
  • Memberi waktu dan ruang untuk pulih, tanpa membandingkan prosesmu dengan orang lain.

Self-love bukan suara yang memaksa: “Yuk, bahagia yuk!” Self-love lebih seperti bisikan lembut: “Hari ini mungkin berat, tapi perasaanmu tetap berharga.”

Baca juga: Dapat Kejutan Ulang Tahun Saat Sedang Kerja, Cowok Ini Langsung Terharu Disamperin Ibu dan Adiknya

Berani merasakan: itu bukan lemahnya Kamu, itu kekuatan

Membiarkan diri merasakan semua emosi — yang enak maupun yang bikin sesak — bukan tanda Kamu rapuh. 

Itu tanda Kamu manusia, dan Kamu sedang tumbuh. Ketika kita belajar memahami perasaan sendiri, kita jadi lebih tahu bahwa:

  • Kapan perlu berhenti dan istirahat sejenak
  • Kapan harus meminta bantuan
  • Kapan harus tegas menetapkan batasan

Pada akhirnya, tujuan bukan menjadi positif setiap saat, tapi menjadi manusia yang utuh — yang tidak perlu pura-pura baik demi terlihat kuat.

Baca juga: Viral, Tim SAR Temukan Bunga Rafflesia Mekar Langka saat Penyisiran Korban Banjir

Kalau Kamu sedang nggak baik-baik aja hari ini, satu hal ini cukup: Kamu nggak harus buru-buru sembuh. 

Rasakan sakitnya jika memang sakit. Dengan begitu, Kamu mampu memvalidasi perasaanmu dan menuju proses penyembuhan.

Perasaanmu valid — dan Kamu berhak merasakannya dan sembuh darinya!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Silkandsonder.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU