INDOZONE.ID - Pernah nggak Kamu dengar istilah “puber kedua”? Biasanya muncul di obrolan santai atau berseliweran di media sosial.
Orang yang umurnya udah 20-an, 30-an, bahkan lebih, suka bilang tubuh mereka kayak berubah lagi, kaya muncul jerawat, mood gampang goyang, berat badan naik, atau bentuk tubuh jadi beda.
Tapi sebenarnya, bener nggak sih “puber kedua” itu ada kalau dilihat dari sisi ilmiah?
Puber: Satu Kali, Bukan Dua Kali
Menurut medis, pubertas yaitu masa perubahan tubuh dari anak menuju remaja/dewasa muda, sebenarnya cuma terjadi sekali.
Baca juga: Kenapa Banyak Orang Dewasa Pilih Hidup Single? Riset Ungkap Fakta Menarik
Di fase ini, hormon berubah besar-besaran, seperti tubuh mulai memproduksi hormon seks, organ reproduksi matang, dan muncul ciri-ciri baru seperti rambut kemaluan, suara yang berubah, pertumbuhan cepat, atau payudara mulai berkembang pada perempuan.
Dalam dunia kesehatan, ada istilah resmi seperti Gonadarche dan Adrenarche yang menjelaskan tahap-tahap perubahan hormon dan perkembangan tubuh selama pubertas.
Jadi, berdasarkan literatur kesehatan dan ilmu endokrinologi, manusia itu nggak mengalami pubertas kedua yang bentuknya sama seperti pubertas pertama.
Artinya, tidak ada fase “puber ulang” secara biologis seperti saat kita remaja dulu.
Jadi, Kenapa Ada Istilah “Puber Kedua”?
Kalau dari sisi ilmiah nggak ada “puber kedua”, terus kenapa istilah itu ramai dipakai?
Baca juga: Penyebab Hidup Terasa Kosong: Kenapa Hati Kadang Hampa Meski Segalanya Terlihat Baik-baik Saja?
Jawabannya: karena “puber kedua” sebenarnya cuma istilah gaul atau bahasa sehari-hari, bukan istilah medis.
Biasanya orang pakai istilah itu buat ngejelasin perubahan fisik, hormon, atau kondisi psikologis yang muncul saat sudah dewasa.
Misalnya tubuh berubah karena faktor usia, hormon mulai geser, gaya hidup berubah, stres meningkat, atau sedang masuk fase hidup baru seperti menikah, pindah kerja, atau lagi mencari jati diri.
Jadi, kalau ada yang merasa tubuh atau emosinya “berubah lagi”, itu bukan pubertas kedua secara biologis.
Itu cuma bagian dari proses alami tubuh dan pikiran yang terus berkembang seiring umur dan pengalaman hidup.
Apa saja Perubahan yang Sering Dikira “Puber Kedua”?
Beberapa perubahan yang kadang dikira puber kedua antara lain:
Baca juga: Mengharukan, Relawan Bencana Ini Bertemu Dua Anak yang Bawa Foto Almarhum Ayahnya
- Kulit atau rambut berubah, misalnya jerawat tiba-tiba muncul, kulit berminyak, rambut rontok atau uban.
- Perubahan bentuk tubuh, berat badan naik atau distribusi lemak berubah.
- Perubahan mood, emosional, suasana hati, kaya rasa nggak nyaman dengan tubuh, lebih sensitif, kadang bingung soal identitas atau gaya hidup.
- Perubahan hormon dewasa, terutama di wanita saat menjelang masa perimenopause, hormon estrogen dan androgen bisa berubah, mempengaruhi kulit, siklus menstruasi, libido, dan kondisi fisik lain.
Tapi, penting diingat, perubahan-perubahan itu tergolong sebagai “bagian dari hidup” atau “proses penuaan/masa dewasa” bukan “pubertas baru”.
Baca juga: Penjual Bakpao Alami Kejadian Mengejutkan Saat Beri Makanan ke Pengemis, Berujung Diminta Uang
Mengapa Istilah “Puber Kedua” Masih Populer?
- Kesamaan sensasi: perubahan fisik atau emosional bisa terasa mirip seperti ketika remaja dulu. Itu membuat orang merasa “kayak puber lagi”.
- Bahasa gaul/istilah populer: “puber kedua” terasa catchy, relatable, dan gampang dipahami sebagai “fase perubahan di dewasa”.
- Kurangnya literatur populer dalam Bahasa Indonesia: banyak orang belum tahu bahwa secara ilmiah pubertas hanya sekali. Istilah populer pun jadi cepat menyebar.
- Perubahan hormon dan tubuh di masa dewasa / perimenopause: meskipun bukan pubertas, perubahan hormon ini memang nyata, jadi semacam “remake” dari masa pubertas dulu.
Baca juga: Selesaikan Insiden dengan Kepala Dingin, Driver Ojol dan Sopir Pick Up Ini Tuai Pujian Warganet
Puber Kedua Itu Bukan Istilah Ilmiah, Tapi Perubahan Itu Real
Intinya, secara medis, nggak ada yang namanya “puber dua kali.” Pubertas cuma terjadi sekali dalam hidup, yaitu saat remaja.
Tapi tenang, perubahan fisik, hormonal, dan psikologis tetap bisa terjadi saat dewasa karena penuaan, gaya hidup, hormon, stres, atau fase transisi hidup.
Jadi kalau Kamu ngerasain tubuh atau mood berubah lagi, itu wajar banget. Hanya saja, jangan sampai salah kaprah menyebutnya sebagai “puber ulang.”
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber