Senin, 22 DESEMBER 2025 • 15:00 WIB

Anak Dimanjakan Sejak Kecil, Apa Dampaknya Saat Dewasa?

Author

penelitian menunjukkan bahwa anak yang mengalami lebih banyak interaksi positif dan kasih sayang antara orang dewasa dan anak akhirnya memiliki dampak yang luar biasa (pexels.com)

INDOZONE.ID - Orangtua zaman sekarang sering banget berada di posisi serba salah: di satu sisi ingin menyenangkan anak, tapi di sisi lain takut anak jadi terlalu dimanja. Wajar sih, siapa juga yang nggak mau melihat anaknya tumbuh bahagia dan merasa cukup dalam hidupnya? Tapi faktanya, terlalu memanjakan anak sejak kecil bisa punya dampak panjang sampai mereka dewasa. Bukan cuma soal anak jadi “manja” atau selalu minta dibela, tapi juga bisa berpengaruh pada cara mereka mengelola emosi, bersikap, hingga menghadapi masalah di dunia nyata.

Yang dimaksud dimanjakan di sini bukan sekadar sering dibelikan mainan atau diberi perhatian penuh. Lebih ke pola asuh yang terlalu membebaskan tanpa batasan yang jelas. Misalnya, semua keinginan anak selalu dituruti, orangtua selalu turun tangan untuk menyelesaikan masalah anak, atau sengaja menjauhkan anak dari rasa kecewa dan gagal supaya mereka nggak sedih. Pola seperti ini sering disebut sebagai overindulgent parenting, niatnya sayang, tapi tanpa sadar justru membuat anak kurang siap menghadapi kehidupan nanti.

Baca juga: Begini Cara 4 Zodiak Ini Memanjakan Anak Mereka

1. Tumbuh Jadi Individu yang Bergantung

Salah satu dampak jangka panjang yang paling sering disorot oleh psikolog adalah anak menjadi kurang mandiri dan sulit bertanggung jawab saat sudah dewasa. Anak yang sejak kecil terbiasa selalu dibantu dan “diselamatkan” orang tua biasanya akan bingung ketika harus mengambil keputusan sendiri. Saat mulai hidup mandiri entah itu merantau, bekerja, atau menghadapi tuntutan hidup yang lebih tinggi, mereka cenderung merasa kewalahan. Bahkan, hal-hal yang sebenarnya wajar di dunia orang dewasa bisa terasa sangat berat, hingga akhirnya mereka merasa masih butuh campur tangan orang tua untuk menyelesaikannya.

2. Sulit Mengatasi Kekecewaan dan Tekanan

Kalau sejak kecil anak selalu langsung ditenangkan setiap kali sedih atau gagal, tanpa diajarkan cara menghadapi rasa kecewa, hal ini justru bisa menjadi bumerang di kemudian hari. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak yang tumbuh dengan pola asuh terlalu memanjakan cenderung lebih mudah cemas, gampang frustrasi, bahkan rentan mengalami masalah kesehatan mental karena mereka kurang terbiasa menghadapi kenyataan hidup yang tidak selalu mulus.

Coba bayangkan, saat dewasa hidup mulai memberi tantangan serius seperti pekerjaan pertama yang penuh tekanan, putus cinta, atau masalah keuangan, tapi kamu tidak pernah “dilatih” menghadapi kegagalan kecil sebelumnya. Hal-hal yang seharusnya bisa dihadapi pelan-pelan malah terasa sangat berat.

3. Rasa Entitlement dan Tidak Bisa Menunggu

Ilustrasi kesalahan orang tua. (freepik)

Banyak orang dewasa yang waktu kecil terlalu dimanjakan akhirnya tumbuh dengan rasa entitlement, atau merasa semua hal seharusnya datang dengan mudah tanpa perlu usaha besar. Dampaknya, mereka jadi sulit menunggu, gampang kesal ketika keinginannya tidak langsung terpenuhi, dan cenderung cepat frustrasi. Sikap ini juga sering terbawa ke lingkungan kerja atau pertemanan, misalnya kurang bisa bekerja dalam tim karena lebih fokus pada diri sendiri dan memiliki ekspektasi terlalu tinggi terhadap orang lain.

4. Hubungan Sosial dan Karier Bisa Terganggu

Ada juga dampak yang tidak langsung terlihat saat anak masih kecil, tetapi baru terasa ketika mereka sudah masuk dunia kerja atau menjalani hubungan yang serius. Misalnya, menjadi sulit beradaptasi, tidak tahan dikritik, dan kurang memiliki rasa tanggung jawab. Orang yang dibesarkan dengan pola asuh terlalu memanjakan sering merasa kesulitan membangun hubungan yang sehat, baik dengan pasangan, sahabat, maupun rekan kerja, karena belum terbiasa menghadapi perbedaan, tekanan, atau ekspektasi dari orang lain.

5. Tantangan Kemandirian dan “Adulting”

Sekarang istilah adulting sering banget jadi bahan meme di internet, intinya soal belajar menjadi orang dewasa, seperti mengurus diri sendiri, bekerja, membayar tagihan, dan memikul tanggung jawab lainnya. Anak yang sejak kecil terlalu dimanjakan biasanya paling sering berkata, “Kok jadi dewasa susah banget, sih?” Soalnya, mereka tidak pernah dibiasakan melakukan hal-hal dasar itu sejak dini. Akibatnya, ketika masuk usia dewasa, mereka butuh waktu lebih lama untuk beradaptasi dan belajar mandiri dibandingkan orang yang sejak kecil sudah dilatih bertanggung jawab.

Baca juga: Terharu! Kasih Sayang Seorang Ibu: Melahirkan Kembali dan Melengkapi Yang Hilang Dari Sang Anak

Tapi Apakah Selalu Berarti Negatif?

Bukan berarti perhatian penuh dari orang tua itu selalu buruk atau pasti menimbulkan masalah. Justru, kasih sayang yang cukup bisa membuat anak merasa aman, dicintai, dan percaya diri dan itu sangat penting. Selama perhatian tersebut dibarengi dengan aturan yang jelas dan disiplin yang sehat, dampaknya bisa sangat positif.

Kuncinya ada pada keseimbangan. Orang tua bisa tetap penuh cinta, tapi juga perlu mengajarkan anak tentang tanggung jawab dan konsekuensi. Jika semua selalu dipermudah tanpa batasan, anak bisa terbiasa hidup di “zona nyaman” yang sebenarnya tidak sesuai dengan realita dunia di luar rumah.

Banyak ahli juga sepakat bahwa pola asuh yang paling ideal adalah yang hangat tapi tegas. Anak tetap merasa disayang, namun juga belajar mengikuti aturan, menghadapi tantangan kecil, dan perlahan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan dewasa.

Sayang Itu Boleh, Tapi Jangan Berlebihan

Ya, semua orang tua pasti sayang pada anaknya. Tapi ingat, terlalu memanjakan tidak otomatis berarti lebih sayang. Justru, hal itu bisa membuat anak belum siap menghadapi kehidupan dewasa nanti. Dampaknya pun bukan cuma soal jadi manja, tapi bisa memengaruhi emosi, kepribadian, hubungan sosial, dan kemampuan mereka menghadapi dunia nyata.

Jadi, buat para orang tua Gen Z atau milenial, yang penting bukan seberapa banyak kamu memberi, tetapi seberapa pintar kamu membuat batasan dan mengajarkan pelajaran hidup kepada si kecil sejak dini. Kasih sayang boleh banyak, tapi disiplin dan pembelajaran nyata adalah kunci agar anak tumbuh mandiri dan siap menghadapi dunia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Psychologytoday.com, PubMed

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU