INDOZONE.ID - Isra Miraj adalah sebuah peristiwa besar yang dialami Nabi Muhammad SAW dalam satu malam. Hal ini menjadi titik balik terpenting dalam sejarah agama Islam.
Peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan mukjizat spiritual yang luar biasa, sekaligus menunjukkan kekuasaan mutlak Allah SWT dan kemuliaan Rasulullah.
Oleh karena itu, peristiwa Isra Miraj selalu diperingati dan dipelajari umat muslim, karena menjadi momen diturunkannya ibadah wajib tertinggi, yakni salat lima waktu.
Memahami Makna dan Signifikansi Isra Miraj dalam Sejarah Islam
Secara bahasa, Isra berarti perjalanan malam, dan Miraj berarti kenaikan. Dua istilah ini mewakili dua tahapan agung dalam satu malam yang luar biasa.
Baca juga: Latar Belakang Isra Miraj, Perjalanan Agung Nabi Muhammad SAW Tembus Langit
Latar Belakang Historis: Mengapa Peristiwa Ini Terjadi?
Peristiwa Isra Miraj terjadi pada tahun kesedihan ('Amul Huzn), setelah Nabi Muhammad SAW kehilangan dua sosok terpentingnya yakni paman beliau, Abu Thalib, dan istri tercinta, Khadijah r.a.
Di tengah duka dan penentangan keras dari kaum Quraisy, Allah SWT memberikan penghiburan dan penguatan rohani melalui perjalanan suci ini.
Peristiwa tersebut berfungsi sebagai penegasan status kenabian beliau, dan pengangkatan beliau ke martabat tertinggi di sisi Allah.
Landasan Dalil: Penegasan Mukjizat Isra Miraj dalam Al-Qur'an
Keabsahan peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW dijelaskan langsung dalam Surah Al-Isra ayat 1, yang berarti:
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Isra: 1)
Ayat tersebut secara jelas menggarisbawahi kehendak Allah SWT bahwa, perjalanan ini adalah keajaiban ilahi yang melampaui logika manusia.
Tahap I: Perjalanan Isra (Mekah ke Palestina)
Baca juga: 9 Puisi tentang Isra Miraj yang Menyentuh Hati, Penuh Makna!
Tahap pertama adalah Isra, yaitu proses perjalanan jauh dari Masjidil Haram di Mekah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem.
Peristiwa Pembelahan Dada: Penyucian Hati Sebelum Isra Miraj
Sebelum peristiwa Isra Miraj dimulai, Nabi Muhammad SAW menjalani penyucian diri yang mendalam. Malaikat Jibril dan Mikail membersihkan jantung Rasulullah dengan air Zamzam.
Jantung tersebut kemudian diisi dengan keimanan, hikmah, dan ilmu dalam bejana emas.
Penyucian ini sangat penting sebagai simbol kesiapan spiritual beliau untuk menerima amanah besar dan menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang tak tertandingi.
Perjalanan Jauh Menggunakan Buraq
Setelah penyucian, Nabi Muhammad SAW menaiki Buraq ditemani Malaikat Jibril. Buraq, yang berarti kilat, adalah makhluk tunggangan bersayap dengan kecepatan luar biasa.
Dalam perjalanan Isra yang sangat singkat, Nabi Muhammad SAW singgah di beberapa lokasi suci yang menjadi tempat perjuangan nabi-nabi sebelumnya.
Hal ini menegaskan kesinambungan risalah Islam:
- Thaibah (Madinah): Tempat Hijrahnya nabi.
- Bukit Sinai: Tempat Nabi Musa AS menerima Taurat.
- Betlehem (Bait Lahm): Tempat kelahiran Nabi Isa AS.
- Makam Nabi Musa AS: Beliau melihat Nabi Musa sedang salat di kuburnya.
Ujian dan Perlindungan: Gangguan Jin Ifrit
Baca juga: Menelusuri Makna dan Narasi Isra Miraj dalam Perspektif Naskah Kuno yang Jarang Dibahas
Dalam perjalanan Isra Miraj, Rasulullah sempat diuji. Jin Ifrit mencoba mengganggu perjalanan beliau dengan membawa obor api. Malaikat Jibril segera mengajarkan doa perlindungan kepada Nabi.
Peristiwa ini menunjukkan, meskipun dalam perjalanan suci, gangguan dan ujian tetap ada, namun Allah SWT selalu memberikan perlindungan kepada hamba-Nya.
Titik Akhir Isra: Salat Bersama Para Nabi di Masjidil Aqsa
Setibanya di Masjidil Aqsa, salah satu peristiwa paling mengharukan saat Isra Miraj terjadi.
Nabi Muhammad SAW menjadi imam salat dua rakaat bagi seluruh nabi dan rasul, yang telah dihidupkan kembali dan berkumpul.
Momen ini menjadi penegasan universal bahwa, kenabian Nabi Muhammad SAW adalah puncak dan penutup dari seluruh risalah kenabian (Sayyidul Mursalin).
Tahap II: Perjalanan Miraj (Naik ke Langit Ketujuh)
Miraj adalah perjalanan vertikal, atau kenaikan dari Masjidil Aqsa menuju Sidratul Muntaha, melampaui batas ruang dan waktu.
Miraj Melintasi Tujuh Lapisan Langit
Nabi Muhammad SAW, ditemani Jibril, naik dari satu lapisan langit ke lapisan berikutnya. Di setiap lapisan, beliau disambut dengan penuh penghormatan dan bertemu dengan para nabi.
Pertemuan dengan Para Nabi di Setiap Langit
| Lapisan Langit | Nabi yang Ditemui | Catatan Singkat |
| Langit Pertama | Nabi Adam AS | Nabi pertama, bapak seluruh umat manusia. |
| Langit Kedua | Nabi Isa AS & Nabi Yahya AS | Sepupu dan utusan penting bagi Bani Israil. |
| Langit Ketiga | Nabi Yusuf AS | Nabi yang dianugerahi keindahan rupa. |
| Langit Keempat | Nabi Idris AS | Nabi yang diangkat ke tempat yang tinggi. |
| Langit Kelima | Nabi Harun AS | Saudara dan pembantu Nabi Musa AS. |
| Langit Keenam | Nabi Musa AS | Nabi Ulul Azmi yang paling banyak berdialog dengan Allah. |
| Langit Ketujuh | Nabi Ibrahim AS | Khalilullah (Kekasih Allah), sedang bersandar di Baitul Ma'mur. |
Baca juga: 5 Amalan Isra Miraj: Meraih Berkah di Malam Istimewa
Penyaksian Kenyataan Akhirat: Gambaran Surga dan Neraka
Selama Miraj, Nabi Muhammad SAW diperlihatkan secara langsung tentang kondisi surga dan neraka.
Beliau melihat pemandangan indah surga dengan sungai-sungainya yang mengalir, dan di sisi lain, menyaksikan kengerian neraka beserta siksaan bagi orang-orang yang melanggar syariat.
Penyaksian ini berfungsi sebagai penguat dakwah dan peringatan bagi umat manusia.
Puncak Peristiwa Isra Miraj: Diterimanya Perintah Salat
Puncak dari seluruh peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW adalah, saat beliau mencapai Sidratul Muntaha, batas tertinggi yang bisa dicapai makhluk, dan melanjutkan perjalanan sendirian untuk menerima wahyu langsung dari Allah SWT.
Dialog dengan Allah SWT dan Perintah Salat
Di hadapan Arasy, Allah SWT mewajibkan umat Muhammad untuk melaksanakan salat sebanyak lima puluh kali dalam sehari semalam.
Ketika Nabi Muhammad SAW turun, beliau bertemu dengan Nabi Musa AS di langit keenam.
Nabi Musa menyarankan beliau untuk memohon keringanan karena umat beliau tidak akan sanggup menanggung kewajiban tersebut. Nabi Muhammad SAW berulang kali kembali menghadap Allah SWT.
Setelah beberapa kali dialog, Allah SWT menetapkan salat menjadi lima waktu sehari semalam.
Meskipun hanya lima waktu, Allah SWT berjanji bahwa pahala yang diberikan adalah setara dengan mengerjakan lima puluh waktu salat.
Salat ditetapkan sebagai hadiah istimewa, yang menjadi Miraj (sarana kenaikan spiritual) bagi setiap mukmin.
Baca juga: 21 Pantun Isra Miraj untuk Salam Pembuka dan Penutup, Lucu!
Hikmah dan Pelajaran Utama dari Peristiwa Isra Miraj
Hikmah terbesar dari peristiwa Isra Miraj adalah, penekanan pada kewajiban salat.
Salat adalah tiang agama ('imad ad-din) dan satu-satunya ibadah yang dijemput langsung oleh Rasulullah tanpa melalui perantara Malaikat Jibril. Ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan salat dalam Islam.
Bagi umat muslim, peristiwa Isra Miraj adalah penguat keimanan mutlak.
Hal ini menguji kepercayaan umat terhadap Rasulullah; mereka yang mempercayai sepenuhnya mendapatkan gelar Ash-Shiddiq (seperti Abu Bakar), sementara yang menolak tersesat dalam keraguan.
Peristiwa ini membuktikan, tidak ada yang mustahil bagi kekuasaan Allah SWT, dan bahwa mukjizat para nabi adalah kebenaran yang harus diyakini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Alamisharia.co.id