Sabtu, 10 JANUARI 2026 • 17:35 WIB

Tau Red Flag, Tapi Tetap Bertahan? Ini Penjelasan Psikologisnya

Author

Ilustrasi pasangan red flag. (Freepik)

INDOZONE.ID - Pernah nggak sih Kamu ngerasa “Eh, ini hubungan udah keliatan red flag banget…” tapi entah kenapa tetap bertahan? 

Kamu sadar itu tanda bahaya, misalnya pasangan gampang marah, suka ngontrol, atau manipulatif, tapi tetap stay, mikir “Bisa berubah kok…” atau “Mungkin aku yang kebanyakan pikiran…”.

Santai, Kamu nggak sendirian. Banyak orang juga ngalamin hal yang sama, sadar ada red flag tapi tetap lanjut cinta. 

Di artikel ini, kita bakal bahas apa itu red flag, kenapa orang sering bertahan meski sadar bahayanya, dan cara psikologis supaya Kamu bisa lebih peka dan dewasa dalam menyikapi situasi ini.

Baca juga: Kisah Nabi Yusuf: Dijual Murah, Takdir Berubah, dan Menjadi Penguasa Mesir

Apa Itu Red Flag? Bukan Sekadar Kata Gaul

Istilah red flag awalnya dari bendera merah sebagai tanda berhenti atau bahaya. 

Dalam hubungan, red flag berarti tanda peringatan bahwa sesuatu nggak sehat atau berpotensi merusak, bisa itu perilaku pasangan atau pola interaksi yang berulang dan berbahaya. 

Contoh red flag dalam hubungan bisa berupa:

  • Kontrol berlebihan atas kehidupanmu
  • Kekerasan fisik atau emosional
  • Sering bohong atau manipulatif

Baca juga: Apa yang Sebenarnya Membuat Seseorang Tertarik Padamu?

  • Membuatmu merasa gak cukup atau rendah diri
  • Isolasi dari teman dan keluarga

Red flag bukan hal kecil yang bisa kita abaikan, itu sinyal bahwa hubungan mungkin tidak cocok atau bahkan toxic.

Kenapa Kamu Sadar Itu Red Flag, Tapi Tetap Bertahan?

Kalau Kamu nanya “Kenapa aku tetap di sini walau tahu itu tanda bahaya?”, jawabannya sering gak sesederhana yang Kamu kira. 

Ada beberapa faktor psikologis yang bikin orang tetap stay dalam hubungan bahkan ketika tanda bahaya itu jelas banget:

Baca juga: Banyak yang Salah, Ini yang Perlu Dipertimbangkan saat Beli Kompor Tanam

1. Trauma Bonding: Ikatan Emosi yang Susah Diputus

Salah satu konsep psikologi yang paling sering dipakai untuk ngejelasin ini adalah traumatic bonding. 

Ini terjadi ketika seseorang membentuk ikatan emosional yang kuat dengan pasangan yang sering reward dan punishment secara bergantian, kadang kasih perhatian, kadang kasar. 

Pola ini bikin korban susah ninggalin hubungan karena intermittent reinforcement (penguatan acak), yang bikin otak kita “ketagihan”. 

2. Fear of Being Alone: Takut Sendiri Itu Nyata

Kadang yang bikin kita bertahan bukan karena cinta, tapi karena takut sendirian. 

Baca juga: Mural Perempuan di India Diserang Aksi Vandalisme Mesum, Seorang Pria Langsung Menutupinya dengan Cat Hitam

Banyak orang merasa bahwa kesendirian itu jauh lebih menakutkan daripada terus menghadapi hubungan yang nggak sehat, bahkan ketika mereka tahu itu red flag. 

3. Hope dan Optimisme yang Berlebihan

Ada juga yang tetap stay karena mereka masih punya harapan bahwa pasangan akan berubah. 

Pikiran seperti “Kalau aku sabar, dia bakalan berubah…” atau “Dia cuma lagi stres…” sering bikin kita make excuses untuk red flag itu sendiri. 

4. Self-Worth (Harga Diri) yang Rendah

Kalau seseorang punya harga diri rendah, mereka mungkin merasa “Ini yang terbaik yang bisa aku dapat” atau “Aku memang nggak layak dapat yang lebih baik.” 

Ini bikin seseorang tetap bertahan meski sadar hubungan itu nggak sehat. 

Baca juga: Cewek Ini Ungkap Harga Sewa Rumah Susun Rp60 Ribu Per Bulan, Disebut Netizen Mirip Shinbi House

5. Faktor Psikologis Komitmen dan Investasi

Ada teori psikologi yang namanya investment model of commitment yang bilang kalau kita tetap bertahan karena investasi yang udah kita tanamkan, misalnya waktu, tenaga, emosi, bahkan banyak kenangan bareng pasangan. 

Semakin besar investasinya, semakin susah kita untuk lepas, walau itu red flag. 

Tips Menyikapi Red Flag Secara Dewasa

Kalau Kamu udah mulai sadar ada red flag tapi masih bingung harus gimana, coba beberapa cara ini:

1. Pisahkan Fakta dari Harapan

Jangan bikin cerita atau asumsi yang nggak nyata. Kalau pasangan sering mengontrol atau bohong, itu tetap bahaya, bukan sekadar phase atau stress. 

Baca juga: Ketika Pembaca Tarot Jadi Tempat Curhat Para Gen Z: Bentuk Pertumbuhan Emosional dan Spiritual

2. Kenali Trauma Bond dan Cicil Diri untuk Move On

Kalau Kamu merasa “ketagihan” ke hubungan itu meskipun menyakitkan, kemungkinan trauma bond udah nempel. 

Mengakui ini sering jadi langkah awal buat healing. 

3. Tanyakan ke Diri Sendiri: Apa yang Aku Butuhkan?

Alih-alih fokus ke apa yang mungkin berubah dari pasangan, fokuslah ke kebutuhan emosionalmu. 

Hubungan yang sehat harusnya membangun Kamu, bukan merusakmu. 

4. Bicarakan Kekhawatiran Itu Dengan Jelas

Kalau Kamu yakin masih mau kasih pasangan kesempatan, ngomong langsung itu penting. 

Tapi jangan kompromi dengan batasanmu sendiri. 

5. Pertimbangkan Dukungannya

Minta dukungan dari teman atau mental health professional. 

Perspektif luar sering membantu Kamu melihat apa yang selama ini Kamu tutupi dengan rasionalisasi. 

Red Flag Itu Bukan Musuh, Tapi Alarm

Red flag bukan cuma istilah keren buat caption TikTok, tapi sebenarnya alarm dalam hubungan yang harus dipahami secara psikologis. 

Kalau Kamu sadar ada red flag tapi tetap stay, itu bukan karena Kamu kurang rasional, itu karena emosi manusia itu kompleks. 

Tapi dengan pemahaman psikologis yang lebih dalam, Kamu bisa mulai melihat kenapa Kamu tetap bertahan, dan langkah apa yang bisa Kamu ambil buat menyikapinya secara dewasa dan sehat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU