INDOZONE.ID - Potty training alias latihan lepas popok adalah salah satu momen paling challenging sekaligus memorable bagi orang tua, apalagi jika anak pertama. Bayangkan, dari yang tadinya tinggal pakai popok, tiba-tiba harus belajar menggunakan toilet chair sendiri sambil berkata, “Mama, aku pipis!”
Prosesnya memang membutuhkan waktu, kesabaran, dan strategi yang tepat agar si kecil bisa lepas popok tanpa drama, dan kamu pun tidak ikut stres. Yuk, kita bahas langkah-langkahnya dengan cara santai, tapi tetap efektif!
1. Waktu yang Tepat: Bukan Soal Usia, tapi Kesiapan
Jangan langsung berpikir bahwa potty training harus dimulai di usia tertentu. Sebenarnya, para ahli anak, termasuk Mayo Clinic dan American Academy of Pediatrics (AAP), menyarankan untuk fokus pada tanda kesiapan anak, bukan angka usia di kalender.
Menurut Mayo Clinic, banyak anak mulai siap antara usia 18 bulan hingga 3 tahun, tergantung perkembangan masing-masing. Tanda-tandanya, antara lain:
- Bisa berjalan dan duduk dengan stabil
- Mengerti instruksi sederhana
- Mau membuka celana sendiri saat ingin pipis
- Bisa memberi tahu atau menunjuk saat ingin buang air
- Celana tetap kering lebih lama
Jika latihan dimulai sebelum anak siap, prosesnya justru bisa lebih lama dan penuh drama. Jadi, sabar dulu, Parents!
Baca juga: Serunya Bertualang Lewat Intranet di Mizu Town, Ajarkan Anak Melestarikan Air Tanah
2. Kenalkan Toilet dengan Cara Fun
Jika anak sudah terlihat siap, kamu bisa mulai mengenalkan potty atau toilet. Namun, jangan langsung memaksa, ya! Coba lakukan cara-cara berikut:
- Ajak anak melihat toilet chair atau toilet biasa sebagai tempat “besar” untuk pipis atau BAB.
- Biarkan ia duduk di atasnya sambil tetap mengenakan pakaian agar tidak takut.
- Ceritakan dengan kata-kata sederhana, misalnya, “Ini tempat pipis besar, seperti yang Mama atau Papa pakai.”
Kunci utamanya adalah membuat potty chair menjadi sesuatu yang menarik dan tidak menakutkan.
3. Rutinitas dan Konsistensi adalah Kunci Utama
Jika sudah mulai latihan, penting sekali untuk membuat rutinitas harian, misalnya:
- Mengajak anak ke potty setelah bangun tidur
- Mengajak ke potty setelah makan
- Mengajak ke potty sebelum tidur siang atau malam
Rutinitas ini membantu anak memahami kapan waktunya ke potty tanpa harus diingatkan berkali-kali. Ingat, konsistensi adalah kunci karena anak belajar paling cepat dari kebiasaan.
4. Positive Reinforcement, Bukan Intimidasi!
Nah, ini bagian yang sering memberi perbedaan besar: pujian positif.
Jika anak berhasil duduk di potty atau pipis/BAB di sana, berikan pujian seperti:
- “Wah, hebat banget kamu!”
- “Mama bangga, kamu sudah besar!”
Kamu juga bisa memberi sticker lucu sebagai hadiah kecil.
Ingat, jangan menghukum jika ia masih kecolongan atau “kecelakaan.” Semua itu normal dalam proses belajar. Pujian positif akan membuat anak semakin semangat tanpa rasa takut atau malu.
5. Pakaian yang Memudahkan
Bukan hanya strategi mental, strategi pakaian juga penting. Pilih celana yang mudah diturunkan dan dinaikkan sendiri oleh si kecil. Celana atau training pants dengan elastic waistband jauh lebih praktis dibandingkan yang memiliki banyak kancing atau resleting rumit.
Selain praktis, hal ini juga membantu anak belajar mandiri karena ia bisa fokus pada toilet training tanpa harus meminta bantuan setiap kali pipis atau BAB.
Baca juga: Ajarkan Anak Tidur di Kamarnya Sendiri, Tips dan Manfaat untuk Perkembangan si Kecil
6. Tetap Tenang Saat “Insiden” Terjadi
Drama pasti ada, terutama di awal. Anak bisa saja masih sering kecolongan meskipun sudah berlatih berkali-kali, dan itu sangat wajar. Sebagai orang tua, usahakan tetap tenang dan jangan langsung panik atau memarahi, karena hal tersebut justru bisa membuat anak takut dan menolak potty training.
Jika terjadi kecelakaan, cukup katakan dengan cara positif, misalnya:
“Tidak apa-apa, sayang. Kita coba lagi nanti, ya!”
Kesabaranmu adalah kunci agar proses ini berjalan tanpa drama dan tetap menyenangkan bagi anak.
7. Kapan Harus Mencari Bantuan?
Jika setelah beberapa bulan kamu sudah konsisten, tetapi si kecil belum menunjukkan kemajuan yang berarti, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan dokter anak atau ahli tumbuh kembang. Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan strategi yang lebih personal sesuai kebutuhan anak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Mayoclinic.org, Kidshealth.org