Selasa, 13 JANUARI 2026 • 19:45 WIB

Situationship Diam-Diam Merusak Kesehatan Mental: Ini Dampak dan Cara Mengatasinya

Author

Ilustrasi hubungan percintaan si anxious dan avoidant (Freepik)

INDOZONE.ID - Di era hidup yang serba cepat, cara orang menjalin hubungan juga ikut berubah. Kedekatan tak selalu berujung pada status yang pasti. Salah satu bentuk relasi yang kini semakin umum adalah situationship, hubungan yang terasa intim dan penuh perhatian, namun tidak pernah benar-benar dibicarakan tujuannya.

Komunikasi bisa berlangsung setiap hari. Ada perhatian, ada rasa memiliki, bahkan cemburu pun muncul. Namun, saat pertanyaan sederhana seperti, “Kita ini sebenarnya apa?” terlontar, jawabannya justru samar. Dari luar terlihat santai, padahal di dalam hati mulai tumbuh tanda tanya.

Awalnya, hubungan tanpa komitmen memang terasa ringan. Namun, seiring waktu, ketidakpastian itu perlahan berubah menjadi beban emosional yang menguras energi.

Baca juga: 5 Tanda Kamu Terjebak dalam Hubungan Situationship, Waspada Ya!

Mengapa situationship bisa mengganggu kesehatan mental?

Hubungan tanpa batas yang jelas membuat seseorang hidup dalam ketidakpastian. Terus menebak perasaan lawan bicara, posisi diri sendiri, dan masa depan yang tak pernah dibahas, semua ini memicu tekanan emosional.

Rasa aman sulit terbentuk. Hari ini merasa dekat, esok seolah diabaikan. Pola ini dapat memicu kecemasan dan ketergantungan emosional yang tidak sehat.

Komunikasi pun sering terasa melelahkan. Sikap yang berubah-ubah, pesan yang ambigu, dan respons yang tidak konsisten membuat pikiran terus bekerja, bahkan saat seharusnya beristirahat.

Tanpa disadari, harga diri bisa ikut tergerus. Ketika hubungan tak pernah diperjelas, muncul pertanyaan menyakitkan: apakah aku memang tidak cukup penting untuk diperjuangkan?

Banyak orang akhirnya memilih menahan perasaan demi mempertahankan hubungan, meski kebutuhan emosionalnya sendiri terabaikan. Menunggu, menganalisis, dan berharap diam-diam bisa berdampak pada fokus kerja, relasi sosial, hingga keseimbangan mental.

Bagi mereka yang memiliki pola keterikatan tidak sehat, situationship sering kali memperpanjang siklus tarik-ulur yang melelahkan.

Ketika hubungan mulai lebih banyak menyakiti

Ilustrasi komunikasi dengan pasangan agar hubungan awet (Freepik).

Situationship seharusnya tidak membuatmu terus merasa gelisah. Jika kamu mulai sering merasa lelah secara emosional, mudah overthinking, bergantung pada perhatian kecil, takut mengungkapkan perasaan, atau meragukan nilai dirimu sendiri, bisa jadi hubungan ini lebih banyak menguras daripada menenangkan.

Cara menjaga diri di tengah hubungan abu-abu

Jika kamu masih berada di dalamnya, penting untuk tetap memprioritaskan diri sendiri. Tetapkan batas yang sehat, jujur pada kebutuhan emosionalmu, dan jangan menggantungkan kebahagiaan pada satu orang. Tetap rawat kehidupan di luar hubungan, berhenti menunggu kepastian yang tidak pernah dijanjikan, dan utamakan kesehatan mental.

Yang terpenting, beranilah mundur jika hubungan mulai melukai.

Baca juga: Fenomena Situationship: Ini 5 Cara Untuk Mengakhiri Hubungan Tanpa Status

Apakah situationship selalu salah?

Tidak selalu. Situationship bisa berjalan baik jika kedua pihak sepakat, terbuka, dan memiliki ekspektasi yang sejalan. Masalah muncul ketika satu pihak berharap kepastian, sementara yang lain merasa nyaman dalam ketidakjelasan.

Hubungan yang sehat bukan sekadar soal status, melainkan tentang rasa aman, kejujuran, dan keseimbangan emosional. Jika sebuah hubungan lebih sering menimbulkan ragu daripada tenang, memilih pergi bukan tanda kegagalan, melainkan bentuk keberanian untuk menjaga diri sendiri.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Marriage.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU