INDOZONE.ID - Bulan suci Ramadhan memiliki tempat istimewa di hati setiap umat muslim. Kedatangannya tidak hanya disambut dengan sukacita, tetapi juga dianggap sebagai kesempatan emas untuk menyelami manisnya iman.
Di bulan yang suci ini, umat Islam dapat merasakan kebahagiaan batin yang mendalam melalui berbagai ritual ibadah yang dilakukan.
Ramadhan adalah waktu terbaik untuk memanen pahala dan meraih ampunan Tuhan melalui intensitas ibadah yang ditingkatkan.
Ibadah salat tarawih, misalnya, telah menjadi identitas spiritual yang dijalankan oleh kaum muslimin dengan penuh antusiasme setiap kali bulan suci ini tiba.
Baca juga: Bolehkah Sholat Tarawih Tanpa Witir? Ini Penjelasannya
Masjid dan mushola tampak ramai oleh umat yang antusias meningkatkan intensitas ibadah mereka. Rutinitas spiritual ini diisi dengan pelaksanaan salat tarawih berjamaah setelah Isya dan pembacaan Al-Qur’an secara bersama-sama, melengkapi ibadah puasa yang dijalankan sejak terbit fajar.
Berbeda dengan puasa yang merupakan ibadah fardu, shalat tarawih adalah ibadah sunah muakkad yang termasuk dalam jajaran shalat malam.
Keistimewaannya terletak pada waktunya yang hanya hadir di bulan Ramadhan. Guna menambah khazanah ilmu dan ketaatan kita kepada Allah SWT, mari simak penjelasan mendalam mengenai shalat tarawih berikut ini.
Apa Itu Shalat Tarawih?
Shalat Tarawih adalah rangkaian shalat sunah malam yang khas ditemukan pada bulan Ramadhan. Ibadah ini dilaksanakan sesudah shalat Isya sebagai bagian dari menghidupkan malam-malam bulan suci.
Tarawih dalam bahasa Arab adalah bentuk jamak dari تَرْوِيْحَةٌ yang diartikan sebagai “waktu sesaat untuk istirahat”.
Secara umum, shalat Tarawih dilaksanakan secara berjamaah di masjid atau mushola sesudah waktu Isya. Dalam catatan sejarah, Rasulullah Muhammad SAW sendiri hanya pernah mendirikan shalat ini secara berjamaah di masjid dalam tiga kesempatan saja.
Istilah Tarawih diambil dari kebiasaan generasi salaf yang beristirahat setelah merampungkan setiap empat rakaat shalat malam. 'Tarawih' sendiri berarti kumpulan waktu istirahat, dan dari sinilah asal-usul penamaan shalat malam khusus di bulan Ramadhan tersebut bermula.
Shalat Tarawih Berapa Rakaat Menurut Sunnah?
Melaksanakan shalat tarawih tentu sudah tidak asing lagi dengan perbedaan jumlah rakaat shalat tarawih pada pelaksanaannya di bulan Ramadhan.
Sebagian orang berkeyakinan melaksanakan 8 rakaat shalat tarawih yang dilanjutkan dengan witir 3 rakaat, sehingga menjadi 11 rakaat.
Ada juga yang melaksanakan 20 rakaat yang dilanjutkan oleh witir 3 rakaat sehingga jumlah pelaksanaannya menjadi 23 rakaat.
Adanya perbedaan ini lantaran para ulama menyikapi atsar Umar bin Khattab. Tidak adanya batasan jumlah rakaat dalam shalat tarawih sebagaimana jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya yaitu sebagai berikut:
“Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat. Jika salah seorang di antara kalian takut masuk waktu subuh, maka kerjakanlah satu rakaat. Dengan itu berarti kalian menutup shalat tadi dengan witir,” (HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749, dari Ibnu ‘Umar).
Keutamaan Shalat Tarawih
Seluruh rangkaian ibadah dalam Islam memiliki nilai keutamaan yang tinggi, tak terkecuali shalat Tarawih.
Walaupun tidak bersifat wajib, terdapat berbagai keberkahan dan nilai tambah spiritual yang bisa diraih melalui ibadah ini. Ulasan mengenai keutamaan shalat Tarawih dipaparkan secara rinci di bawah ini:
1. Diampuni dosa dosanya yang terdahulu
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: “Barangsiapa melakukan ibadah puasa Ramadan karena iman dan mencari pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”(Hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim).
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yaitu :
Artinya: “Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim). Yang dimaksud qiyam Ramadhan dalam hadis ini adalah shalat tarawih, sebagaimana yang dituturkan oleh An Nawawi.
Hadis ini menjanjikan ampunan dosa bagi siapa saja yang menghidupkan malam Ramadhan dengan niat tulus karena Allah SWT, bukan karena pamrih manusia.
Ibnul Mundzir memahami 'pengampunan dosa' ini berlaku secara umum untuk segala jenis dosa, sementara Imam An-Nawawi berpendapat bahwa pengampunan tersebut khusus berlaku bagi dosa-dosa kecil yang pernah diperbuat.
2. Sholatnya ibarat shalat semalam suntuk
مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَة
Artinya: “Barang siapa yang ikut melaksanakan sholat tarawih berjamaah bersama imam sampai selesai maka baginya akan dicatat seperti shalat semalam penuh.” (HR. Abu Dawud dan Turmudzi).
Keistimewaan shalat Tarawih tidak berhenti di situ saja. Merujuk pada karya Ceceng Salamudin dalam bukunya yang berjudul “Ternyata Shalat dan Puasa Sunah Dapat Mempercepat Kesuksesan”, terdapat fadhilah khusus pada sepuluh malam pertama Ramadhan.
Urgensi menjalankan ibadah ini pun dipertegas melalui riwayat dari Ali bin Abi Thalib dalam kitab Durratun Naashihiin, yang menggambarkan betapa besarnya pahala yang dijanjikan Rasulullah SAW.
Baca juga: Membaca Surat yang Sama saat Salat Tarawih, Bagaimana Hukumnya?
3. Shalat tarawih adalah seutama-utamanya shalat
Ulama-ulama Hanabilah (madzhab Hambali) menuturkan bahwa seutama-utamanya shalat sunnah adalah shalat yang dianjurkan dilakukan secara berjamaah, karena shalat seperti ini hampir sama dengan shalat fardhu.
Kemudian shalat yang lebih utama lagi adalah shalat rawatib, yakni shalat yang mengiringi shalat fardhu, baik sebelum atau sesudahnya.
Sementara ibadah shalat yang paling ditekankan untuk dilakukan secara berjamaah adalah shalat kusuf (shalat gerhana) kemudian shalat tarawih.
Demikian penjelasan tentang shalat tarawih hingga keutamaan melaksanakan ibadah shalat tarawih di bulan Ramadhan. Semoga bermanfaat!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: NU Online