INDOZONE.ID - Pernah merasa tidak lagi berkembang di pekerjaan, tetapi tetap memilih bertahan? Di satu sisi ingin mencoba peluang baru, di sisi lain rasa takut akan ketidakpastian justru lebih besar?
Kondisi inilah yang sering disebut sebagai job hugging atau fenomena yang makin banyak dialami pekerja saat ini. Banyak orang bertahan bukan karena benar-benar puas, melainkan karena khawatir kehilangan rasa aman.
Tanpa disadari, keputusan ini bisa membuat karier berjalan di tempat dan motivasi perlahan menurun.
Lalu, apa sebenarnya job hugging, apa saja tandanya, dan bagaimana cara mengatasinya agar kamu tidak terjebak terlalu lama? Berikut penjelasannya:
Apa Itu Job Hugging?
Job hugging adalah kondisi ketika seseorang memilih bertahan di pekerjaan yang sebenarnya sudah tidak lagi membuatnya berkembang.
Hal ini didasari bukan karena puas atau nyaman, melainkan karena takut mengambil risiko untuk melangkah ke tempat baru.
Misalnya, kebanyakan orang merasa cemas menghadapi ketidakpastian karena adanya situasi ekonomi yang tidak stabil, persaingan kerja yang ketat, hingga tanggungan finansial membuat keputusan resign terasa menakutkan.
Akhirnya, bertahan dianggap sebagai pilihan paling aman, meski hati kecil merasa tidak lagi bertumbuh.
Fenomena ini semakin sering dibicarakan karena dampaknya bukan hanya pada karier, tetapi juga pada kesehatan mental dan produktivitas.
Tanda-Tanda Job Hugging
Sebelum kamu mengetahui cara mengatasi, berikut beberapa tanda yang sering muncul ketika seseorang mengalami job hugging:
Baca juga: Lazy Girl Job, Pekerjaan yang Lagi Tren di Kalangan Gen Z: Mager Tapi Tetap Cuan?
1. Stres Meningkat dan Emosi Lebih Sensitif
Orang yang bertahan karena terpaksa biasanya menyimpan tekanan dalam diri. Stres mudah meningkat, suasana hati jadi tidak stabil, dan semangat kerja perlahan menurun.
Kondisi ini bisa memengaruhi hubungan dengan rekan kerja dan suasana tim secara keseluruhan.
2. Performa Terlihat “Aman”, Tapi Tidak Berkembang
Alih-alih fokus pada tanggung jawab yang menantang, karyawan yang mengalami fonomena ini akan cenderung mengerjakan hal-hal yang sudah dikuasai.
Tujuannya agar tetap terlihat kompeten dan tidak menimbulkan risiko.
Sayangnya, tugas penting yang membutuhkan inisiatif dan keberanian tim sering terabaikan. Akibatnya, perkembangan karier pun berjalan di tempat.
3. Terlalu Banyak Mengambil Tugas di Luar Peran
Sekilas terlihat positif karena proaktif dan suka membantu. Namun, jika terlalu sering mengambil pekerjaan di luar tanggung jawab utama, ini bisa menjadi cara untuk “mengamankan posisi”.
Masalahnya, tugas inti justru bisa terbengkalai. Alih-alih berkembang, energi terkuras tanpa arah yang jelas.
4. Bertahan di Posisi yang Sudah Tidak Sesuai
Ada juga yang sebenarnya sudah melampaui perannya, baik dari segi kemampuan maupun pengalaman, tetapi tetap memilih diam di tempat.
Bukan karena tidak mampu naik level, melainkan takut menghadapi proses seleksi, adaptasi, atau kemungkinan gagal di tempat baru.
Jika dibiarkan terlalu lama, kondisi ini bisa membuat karier stagnan.
Cara Mengatasi Job Hungging
Adapun beberapa cara mengatasi Job Hungging yang bisa kamu lakuin:
Baca juga: Ini Perbedaan Quiet Quitting vs Job Hugging, Tren Baru di Dunia Kerja yang Lagi Viral
- Lakukan menyusun peta karier yang bisa membantu kamu keluar dari rasa stagnan. Coba pahami dulu posisi kamu saat ini, lalu tentukan ingin berada di mana kamu dalam beberapa tahun ke depan.
- Mencari mentor yang dapat memberi sudut pandang lebih objektif tentang kemampuan dan potensi dirimu. Berdiskusi dengan atasan, senior, atau pembimbing profesional sering kali membuka insight baru yang sebelumnya tidak terpikirkan. Dari situ, kamu bisa melihat peluang yang lebih realistis dan terukur.
- Mengembangkan keterampilan baru adalah langkah penting agar tidak tertinggal. Kamu bisa mengikuti pelatihan, kursus, atau sertifikasi bukan hanya menambah nilai di CV, tetapi juga meningkatkan rasa percaya diri.
- Mengeksplorasi minat lain juga bisa menjadi cara efektif untuk membangkitkan semangat. Mengamati bidang pekerjaan yang menarik, lalu mulai mempelajari keterampilan yang relevan, akan mempermudah proses transisi jika suatu saat kamu memutuskan untuk berpindah jalur kari
Pada akhirnya, job hugging bukan tentang salah atau benar dalam bertahan di sebuah pekerjaan. Setiap orang punya pertimbangan dan situasi yang berbeda.
Namun, penting untuk jujur pada diri sendiri, apakah kamu bertahan karena masih ingin berkembang, atau hanya karena takut melangkah?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Time Of India