INDOZONE.ID - Banyak orang mendambakan hubungan yang stabil, penuh kepercayaan, dan minim drama.
Dalam psikologi, pola hubungan seperti ini dikenal sebagai secure attachment atau gaya keterikatan yang aman.
Namun pada kenyataannya, tidak semua orang dapat dengan mudah membangun pola hubungan seperti ini.
Pengalaman hidup — mulai dari masa kecil hingga hubungan yang pernah dijalani saat dewasa — seringkali membentuk cara seseorang mempercayai dan terhubung dengan orang lain.
Baca juga: Announcement Text: Pengertian, Struktur, Cara Membuat, dan Contohnya
Karena itu, memahami berbagai hambatan yang bisa muncul menjadi langkah penting untuk mulai membangun hubungan yang lebih sehat dan stabil.
6 Faktor yang Sering Menghambat Secure Attachment
Ada beberapa hal yang kerap membuat seseorang kesulitan membangun hubungan yang penuh rasa aman.
1. Luka Emosional dari Masa Kecil
Pengalaman masa kecil memiliki pengaruh besar terhadap cara seseorang membangun hubungan saat dewasa.
Anak yang tumbuh dengan pengabaian emosional, pola asuh yang tidak konsisten, atau kekerasan seringkali kesulitan merasakan keamanan dalam hubungan.
Baca juga: Apa Itu Motivation Letter? Panduan Lengkap Struktur dan Cara Membuatnya
Teori keterikatan yang diperkenalkan oleh psikolog John Bowlby menjelaskan bahwa hubungan dengan pengasuh di masa kecil menjadi dasar bagaimana seseorang membangun ikatan emosional di masa depan.
Jika rasa aman tidak terbentuk sejak dini, seseorang bisa tumbuh dengan kesulitan mempercayai orang lain.
2. Riwayat Hubungan yang Tidak Sehat
Pengalaman hubungan yang dipenuhi manipulasi, pengkhianatan, atau konflik terus-menerus dapat meninggalkan luka emosional.
Baca juga: Rahasia Secure Attachment yang Bikin Hubungan Lebih Awet dan Tenang
Akibatnya, seseorang mungkin menjadi lebih curiga atau defensif dalam hubungan berikutnya.
Rasa takut disakiti kembali sering membuat orang sulit membuka diri sepenuhnya.
3. Takut Terlihat Rentan
Sebagian orang memilih menjaga jarak emosional karena takut ditolak, disakiti, atau ditinggalkan.
Ketakutan ini membuat seseorang menutup diri dan menghindari kedekatan emosional yang lebih dalam.
Hubungan pun akhirnya terasa dangkal dan sulit berkembang.
Baca juga: 5 Tren Olahraga yang Lagi Hits dan Bikin Banyak Orang Ketagihan Bergerak
4. Tidak Pernah Melihat Contoh Hubungan yang Sehat
Cara seseorang memahami hubungan sering kali dipelajari dari lingkungan terdekat, terutama keluarga.
Jika sejak kecil seseorang tidak pernah melihat komunikasi yang sehat, saling menghargai, atau penyelesaian konflik yang baik, mereka mungkin kesulitan memahami bagaimana hubungan yang sehat seharusnya berjalan.
5. Tantangan Kesehatan Mental
Kondisi seperti kecemasan, depresi, atau gangguan emosional lainnya dapat mempengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri maupun orang lain.
Ketika emosi sulit dikelola, hubungan pun bisa menjadi lebih kompleks dan penuh tantangan.
Baca juga: Pria Ini Rela Terbang Naik Pesawat pada Tahun 2016 Hanya demi Menyaksikan Gerhana Matahari Total
6. Lingkungan yang Penuh Tekanan
Tekanan hidup seperti masalah finansial, pekerjaan yang berat, atau lingkungan yang tidak aman juga bisa mempengaruhi kualitas hubungan.
Stres berkepanjangan membuat seseorang lebih mudah tersulut emosi dan sulit menjaga stabilitas dalam hubungan.
Cara Mengembangkan Secure Attachment
Secure attachment bukanlah sesuatu yang hanya dimiliki sejak lahir.
Baca juga: Mulai Tinggalkan Gaya Hidup Konsumtif, Ternyata Hidup Minimalis Bikin Mental Lebih Tenang
Pola hubungan yang lebih sehat tetap bisa dipelajari dan dibangun seiring waktu. Berikut beberapa langkah yang bisa membantu:
1. Mencari Bantuan Profesional
Terapi atau konseling dapat membantu seseorang memahami pola hubungan yang terbentuk dari pengalaman masa lalu.
Pendekatan seperti terapi perilaku kognitif maupun terapi berbasis keterikatan dapat membantu seseorang mengembangkan cara berhubungan yang lebih sehat dan stabil.
2. Melatih Mindfulness dan Self-Compassion
Mindfulness membantu seseorang lebih sadar terhadap pikiran dan emosinya tanpa menghakimi diri sendiri.
Baca juga: Momen Tak Terduga Para Nakes Sepulang Bukber, Dihadapkan Situasi Darurat Hidup-Mati
Sementara itu, self-compassion atau sikap penuh empati pada diri sendiri dapat membantu membangun rasa aman dan meningkatkan kepercayaan diri dalam hubungan.
3. Mengembangkan Komunikasi yang Sehat
Hubungan yang kuat selalu dibangun melalui komunikasi yang terbuka.
Belajar mendengarkan dengan empati, menyampaikan perasaan secara jujur, serta menyelesaikan konflik secara dewasa adalah keterampilan penting dalam membangun hubungan yang stabil.
Baca juga: 5 Ide Hampers Lebaran Homemade Murah dan Unik, Lebih Personal!
4. Membangun Kepercayaan Secara Perlahan k
Kepercayaan tidak selalu terbentuk secara instan. Hal ini biasanya tumbuh melalui tindakan kecil yang konsisten.
Mulai dari menepati janji, menunjukkan dukungan, hingga hadir saat pasangan membutuhkan bantuan.
5. Mengelilingi Diri dengan Lingkungan Positif
Memiliki teman dan keluarga yang suportif dapat membantu seseorang merasa lebih aman secara emosional.
Lingkungan sosial yang positif juga membantu memperkuat rasa percaya diri dan ketahanan mental.
Baca juga: Syahdunya Suasana Malam ke-21 Ramadan di Masjid Agung Jami' Kota Malang
6. Melakukan Refleksi Diri
Menulis jurnal atau meluangkan waktu untuk refleksi diri dapat membantu memahami pola emosi dan perilaku dalam hubungan.
Dengan mengenali kebiasaan lama serta pemicu emosi, seseorang dapat mulai membangun pola hubungan yang lebih sehat.
Secure attachment bukan hanya tentang memiliki hubungan romantis yang harmonis.
Pola keterikatan ini juga mempengaruhi cara seseorang membangun kepercayaan, menghadapi konflik, hingga menjaga kesehatan mental.
Baca juga: Jangan Nunggu Sukses Baru Bahagia, Karena Itu Bisa Dimulai Sekarang!
Meskipun pengalaman masa lalu bisa mempengaruhi cara seseorang menjalin hubungan, perubahan tetap mungkin terjadi.
Dengan kesadaran diri, komunikasi yang lebih baik, serta dukungan yang tepat, siapa pun dapat membangun hubungan yang lebih aman, stabil, dan penuh makna.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Positivepsychology.com