INDOZONE.ID - Konsep love languages belakangan makin populer, terutama di kalangan anak muda yang ingin hubungan lebih harmonis. Banyak yang merasa jadi lebih “paham” pasangan setelah mengetahui cara mereka mengekspresikan cinta. Teori yang diperkenalkan oleh Gary Chapman lewat bukunya The 5 Love Languages: The Secret to Love That Lasts membagi ekspresi kasih sayang ke dalam lima bentuk: sentuhan fisik, kata-kata afirmasi, hadiah, tindakan, dan waktu berkualitas.
Sekilas, konsep ini memang terdengar seperti kunci hubungan langgeng. Namun, pada kenyataannya, cinta tidak sesederhana itu. Hubungan manusia jauh lebih kompleks dan tidak bisa dibatasi hanya dalam lima kategori saja.
Cinta Nggak Bisa Dikotakkan Jadi Lima Tipe
Dalam hubungan nyata, orang yang tulus mencintai biasanya nggak terpaku pada satu cara saja. Mereka bisa menunjukkan perhatian lewat banyak hal, mulai dari hal kecil yang sering nggak disadari, sampai dukungan di saat paling sulit.
Masalahnya, konsep love languages sering terasa terlalu umum. Saran seperti “pelajari bahasa cinta pasanganmu” memang terdengar bijak, tapi nggak selalu memberi solusi nyata di kehidupan sehari-hari.
Faktanya, banyak penelitian menunjukkan bahwa rasa puas dalam hubungan lebih dipengaruhi oleh keberadaan kasih sayang itu sendiri, bukan dari bentuk spesifiknya. Intinya, yang penting itu ketulusan, bukan kategorinya.
Baca juga: 5 Macam Love Language, Kenali Mana yang Paling Cocok untukmu dan Pasangan!
Terlihat Dicintai, tapi Sebenarnya Nggak
Ini bagian yang sering bikin banyak orang terjebak. Ada hubungan yang dari luar terlihat “manis” ada perhatian, kata-kata romantis, bahkan gestur yang bikin baper. Tapi di dalamnya? Kosong.
Perhatian itu bisa saja muncul bukan karena cinta, tapi karena kebiasaan, kebutuhan, atau bahkan manipulasi. Tanpa sadar, banyak orang bertahan di hubungan seperti ini. Apalagi kalau lagi kesepian atau habis putus, kita cenderung ingin percaya bahwa kita dicintai. Akhirnya, perasaan sendiri malah diabaikan.
Daripada Menilai Pasangan, Mending Cek Diri Sendiri
Daripada sibuk memikirkan apakah pasangan sudah “pakai bahasa cinta yang benar”, ada hal yang jauh lebih penting: jujur sama diri sendiri. Coba tanyakan ini:
- Apakah aku benar-benar nyaman di hubungan ini?
- Apakah aku merasa bahagia?
- Apakah aku benar-benar merasa dicintai?
- Kalau orang lain diperlakukan seperti ini, apakah aku akan bilang itu sehat?
- Apakah aku mau hidup seperti ini terus?
Pertanyaan-pertanyaan ini sering kali lebih jujur daripada sekadar mengandalkan teori.
Baca juga: Apa Itu Love Language? Kenali 5 Bahasa Cinta untuk Hubungan Lebih Dekat
Realita yang Nggak Selalu Enak Didengar
Kadang, seseorang bisa saja mencintai kita, tapi kita tidak benar-benar merasakannya. Atau sebaliknya, kita memilih bertahan dalam hubungan yang sebenarnya sudah kehilangan rasa. Situasi seperti ini lebih sering terjadi dari yang disadari, dan itu hal yang wajar.
Perasaan tidak bisa dipaksakan. Cinta tidak cukup dipahami lewat teori, dan tidak bisa dipertahankan jika hati sudah tidak lagi ada di dalamnya.
Jadi, Apa yang Sebenarnya Penting?
Hubungan yang sehat bukan soal menghafal lima jenis love languages, tapi tentang bagaimana dua orang saling memberi dan menerima kasih sayang dengan tulus dalam berbagai bentuk.
Pada akhirnya, setiap orang sebenarnya bisa merasakan kapan dirinya benar-benar dicintai dan kapan tidak. Karena cinta yang tulus tidak perlu dijelaskan; ia akan terasa dengan sendirinya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychologytoday.com