INDOZONE.ID - Dalam hubungan, bertengkar itu wajar. Tapi, gimana kalau salah satu pihak tiba-tiba memilih “menghilang” secara emosional alias diam seribu bahasa? Banyak yang mengira ini cara paling aman biar nggak makin ribut. Padahal, efeknya bisa jauh lebih dalam dari yang dibayangkan.
Apa Sebenarnya Silent Treatment Itu?
Silent treatment bukan sekadar jeda sebentar buat menenangkan diri. Ini terjadi ketika komunikasi yang biasanya normal tiba-tiba berubah jadi dingin, minim interaksi, bahkan benar-benar tanpa respons dan berlangsung lebih lama dari sekadar “cooling down”.
Bentuknya bisa macam-macam: dari terang-terangan bilang, “aku nggak mau ngomong”, sampai cuek total atau sengaja mengabaikan chat dan pesan.
Sekilas terlihat seperti menghindari konflik, tapi sebenarnya ini bisa jadi bom waktu dalam hubungan.
Baca juga: 4 Bahaya Silent Treatment dalam Hubungan, Jangan Dianggap Sepele!
Kenapa Silent Treatment Bisa Menyakitkan?
Didiamkan bukan cuma soal nggak diajak ngobrol. Lebih dari itu, ini menyentuh rasa keterhubungan dalam hubungan mulai dari kasih sayang, kedekatan, sampai rasa dihargai.
Orang yang menerima perlakuan ini akan merasa diabaikan, tidak penting, bingung harus berbuat apa, dan emosi serta perasaannya tidak dianggap.
Akibatnya? Bukannya mereda, konflik justru bisa makin panas dan berlarut-larut.
Termasuk Kekerasan Emosional Nggak, Sih?
Jawabannya: bisa, tergantung niat dan pola perilakunya.
Kalau diam digunakan untuk “menghukum” pasangan atau mengontrol situasi, ini sudah masuk ke ranah kekerasan emosional. Bahkan, dalam beberapa kasus, dianggap sebagai bagian dari hubungan yang tidak sehat atau abusive.
Apalagi kalau pasangan dibuat “menunggu” tanpa kepastian, seolah-olah semuanya ada di tangan si pendiam. Ini bisa menciptakan ketimpangan kekuatan dalam hubungan.
Tapi, Kadang Orang Diam Karena Kelelahan Emosi
Nggak semua silent treatment punya niat buruk.
Ada juga yang memilih diam karena overwhelmed secara emosional, nggak tahu harus ngomong apa, atau takut salah bicara dan memperkeruh keadaan.
Dalam kondisi ini, diam jadi semacam “mode bertahan” untuk memulihkan diri, bukan untuk menyakiti.
Kapan Diam Jadi Berbahaya?
Diam itu wajar asalkan sebentar dan jelas tujuannya.
Masalah muncul ketika diam digunakan untuk menghindari masalah terus-menerus, tidak ada komunikasi lanjutan, dan pasangan harus “mengejar” atau memperbaiki semuanya sendiri.
Kalau sudah begini, hubungan bisa dipenuhi rasa kesal, capek, dan bahkan kehilangan kepercayaan.
Baca juga: 6 Cara Menghadapi Silent Treatment dari Pasangan Tanpa Bikin Hubungan Makin Rusak!
Cara Mengatasi Silent Treatment dalam Hubungan
Kalau kamu atau pasangan punya kebiasaan ini, masih bisa diperbaiki, kok. Ini langkah yang bisa dicoba:
- Akui kalau ini masalah: jangan dianggap sepele. Sadari bahwa pola ini perlu diperbaiki bersama
- Komunikasikan sebelum “menghilang”: daripada tiba-tiba diam, coba bilang, “Aku lagi kewalahan, butuh waktu sebentar ya,” biar pasangan nggak bingung atau overthinking
- Tentukan batas waktu: misalnya 30–60 menit untuk menenangkan diri, lalu kembali ngobrol. Ini penting untuk menjaga rasa aman dalam hubungan
- Gunakan waktu jeda dengan bijak: jangan malah mengulang-ulang konflik di kepala. Fokus ke menenangkan diri dan mencari cara komunikasi yang lebih sehat
- Pertimbangkan bantuan profesional: kalau pola ini terus berulang, mungkin sudah waktunya konsultasi ke ahli untuk cari solusi yang lebih tepat
Jadi, Boleh Nggak Sih Silent Treatment?
Kalau cuma jeda sebentar untuk menenangkan diri, itu masih oke. Tapi, kalau diam dijadikan senjata untuk menyakiti atau mengontrol pasangan, jawabannya jelas, yaitu nggak sehat dan nggak bisa dibenarkan.
Hubungan yang kuat bukan yang bebas konflik, tapi yang bisa menyelesaikan konflik dengan cara yang saling menghargai.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Relationshipsnsw.org.au