Rabu, 20 MEI 2026 • 19:35 WIB

Riset: 80 Persen Wanita Pesisir Alami Penurunan Pendapatan akibat Perubahan Iklim

Author

Grand launching buku "Climate Change, Labour and Migration in Indonesia" (Dok. Istimewa)

INDOZONE.ID - Perubahan iklim ternyata bukan cuam soal cuaca ekstrem, tapi dampaknya kini semakin terasa bagi masyarakat pesisir di Indonesia, terutama bagi wanita dan anak-anak.

Hal itu terungkap dalam buku penelitian berjudul "Climate Change, Labour and Migration in Indonesia", hasil kolaborasi antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Griffith University, dan Universitas Diponegoro. 

Penelitian ini berfokus pada wilayah pesisir utara Pulau Jawa, seperti Jakarta, Semarang, Pekalongan, dan Demak.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita di wilayah pesisir menghadapi dampak ekonomi yang cukup serius akibat banjir rob, kenaikan permukaan laut, dan penurunan muka tanah.

Baca juga: Riset HCC: Anak Muda Urban Kini Lebih Sering Self-Diagnosis Lewat Internet

Bahkan, sekitar 80 persen wanita mengaku mengalami penurunan pendapatan secara signifikan akibat kondisi tersebut.

Tak hanya itu, perubahan iklim juga memicu berbagai masalah lain, mulai sanitasi buruk, kriris air bersih, meningkatnya penyakit, hingga ancaman migrasi paksa karena lahan tempat tinggal yang semakin hilang.

Anak-anak juga ikut terdampak. Dalam kondisi bencana yang terus terjadi, banyak hak dasar mereka yang sulit terpenuhi, seperti akses pendidikan, kesehatan, nutrisi, hingga perlindungan sosial.

Plt. Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora BRIN, Muhammad Najib Azca, mengatakan bahwa perubahan iklim kini menjadi persoalan lintas sektor yang berkaitan erat dengan ekonomi, sosial, hingga migrasi masyarakat.

Menurutnya, perempuan dan anak sering kali menghadapi beban paling berat dalam menghadapi krisis iklim. Karena itu, hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi dasar penyusunan kebijakan yang lebih tepat sasaran dan berbasis riset.

Grand launching buku "Climate Change, Labour and Migration in Indonesia" (Dok. Istimewa)

Sementara itu, peneliti BRIN Laely Nurhidayah menjelaskan bahwa penelitian ini juga menyoroti ancaman kerja paksa dan migrasi akibat hilangnya wilayah pesisir secara perlahan.

Salah satu rekomendasi utama dalam penelitian tersebut adalah revisi Undang-Undang Penanggulangan Bencana Nomor 24 Tahun 2007 agar kenaikan permukaan laut dan penurunan tanah dapat dikategorikan sebagai bencana. Penelitian ini juga mendorong adanya perlindungan sosial yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.

Kepala Pusat Riset dan Inovasi Daerah Bappeda DKI Jakarta, Andhika Ajie, menilai perubahan iklim kini bukan lagi sekadar isu lingkungan, tetapi juga tantangan sosial dan pembangunan kota yang berdampak langsung pada masyarakat rentan.

Baca juga: Apa Itu Kanker Pankreas? Kenali Gejala, Faktor Risiko, dan Terobosan Riset Terbaru

Senada dengan itu, Direktur Adaptasi Perubahan Iklim KLHK, Franky Zamzani, menegaskan bahwa perubahan iklim harus dilihat sebagai persoalan kemanusiaan, bukan hanya soal data dan statistik.

Melalui buku ini, para peneliti berharap pemerintah dan berbagai pihak dapat memperkuat kebijakan berbasis riset serta melibatkan masyarakat pesisir, perempuan, dan anak-anak dalam proses penyusunan kebijakan iklim secara lebih inklusif.

Buku "Climate Change, Labour and Migration in Indonesia" dapat diakses melalui Springer.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Press Release

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU