Rabu, 01 JULI 2026 • 10:53 WIB

Mengenal Coercive Control, Kekerasan Psikologis yang Dilakukan untuk Mengendalikan Pasangan

Author

Ilustrasi coercive control. (freepik)

INDOZONE.ID - Perhatian berlebih ternyata bisa menjadi cara mengendalikan pasangan! 

Banyak orang menganggap pasangan yang selalu ingin bersama, sering mengecek keberadaan, atau melarang ini-itu sebagai bukti cinta yang tulus. Padahal, tidak semua sikap protektif lahir dari rasa sayang!

Dalam beberapa kasus, perilaku tersebut justru bisa menjadi tanda coercive control, yaitu bentuk kekerasan psikologis yang dilakukan secara halus untuk mengendalikan pasangan tanpa harus menggunakan kekerasan fisik.

Karena berlangsung perlahan, banyak korban yang tidak sadar sedang dimanipulasi. Mereka baru menyadari ada yang tidak beres ketika rasa percaya diri menurun, kebebasan semakin sempit, dan hidup terasa bergantung sepenuhnya pada pasangan.

Baca juga: Logo HUT RI 81: Link Download, Makna, dan Panduan Identitas Visual Resmi

Apa Itu Coercive Control?

Coercive control adalah pola perilaku manipulatif yang bertujuan mengambil kendali atas kehidupan pasangan. Pelaku melakukannya secara terus-menerus melalui tekanan emosional, manipulasi, hingga pembatasan kebebasan, sehingga korban kehilangan kesempatan untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri.

Hubungan seperti ini tidak selalu diwarnai bentakan, makian, atau kekerasan fisik. Justru, dari luar semuanya bisa terlihat baik-baik saja. 

Inilah yang membuat coercive control sulit dikenali. Korban sering kali dibuat bingung dan mempertanyakan perasaannya sendiri karena tidak merasa mengalami kekerasan secara langsung, padahal secara psikologis dirinya terus ditekan.

Penelitian juga menunjukkan bahwa perempuan berusia 18 hingga 29 tahun termasuk kelompok yang paling rentan mengalami coercive control. 

Baca juga: Makna Ayat "Tuhanlah Kekuatan dan Mazmurku" dalam Alkitab

Risiko ini dapat meningkat pada seseorang yang memiliki ketergantungan emosional atau finansial, harga diri rendah, riwayat kekerasan fisik, tingkat pendidikan atau pendapatan yang rendah, hingga karakteristik yang berkaitan dengan borderline personality disorder (BPD) atau gangguan perilaku ambang.

Waspadai Satu Tanda yang Sering Dianggap Romantis

Salah satu pola coercive control yang paling sering muncul adalah membatasi kemandirian pasangan.

Di awal hubungan, pasangan yang ingin menghabiskan setiap waktu bersama mungkin terasa romantis. Namun, jika lama-kelamaan pasangan mulai mengatur hampir semua aspek kehidupanmu, kondisi ini patut diwaspadai.

Bentuknya bisa bermacam-macam. Mulai dari melarang bekerja, membuat pasangan kehilangan pekerjaan, membatasi akses kendaraan, menjauhkan dari teman atau lingkungan pergaulan, meremehkan hobi, hingga meminta bukti setiap kali pasangan pergi.

Baca juga: Cara Perkembangbiakan Vegetatif Buatan pada Tumbuhan Beserta Contohnya

Sekilas tindakan tersebut terlihat seperti bentuk perhatian. Padahal, perlahan kebebasan korban mulai dikurangi sedikit demi sedikit.

Berkedok Peduli, Padahal Ingin Membuat Pasangan Bergantung

Pelaku coercive control biasanya tidak langsung menunjukkan sifat mengontrolnya. Sebaliknya, mereka membungkusnya dengan kata-kata yang terdengar penuh perhatian seperti, “Aku cuma ingin yang terbaik buat kamu, jadi ikuti saja saranku,” atau, “Nggak usah sering main sama teman-temanmu, nanti aku yang nemenin.” 

Kalimat seperti ini memang terdengar romantis. Namun jika akhirnya membuat pasangan kehilangan kebebasan untuk memilih, bersosialisasi, atau mengambil keputusan sendiri, perhatian itu sudah berubah menjadi cara untuk mengendalikan.

Kalimat-kalimat seperti itu memang terdengar manis. Namun jika dibaliknya terdapat larangan untuk mandiri atau mengambil keputusan sendiri, hubungan tersebut mulai bergerak ke arah yang tidak sehat.

Baca juga: 40 Kata-Kata Kamar Ternyaman yang Menenangkan Hati dan Pikiran

Tujuan utamanya bukan sekadar membantu, melainkan membuat pasangan semakin bergantung secara finansial, emosional, dan psikologis. Ketika korban sudah kehilangan kemandirian, pelaku akan jauh lebih mudah mempertahankan kendalinya.

Hubungan Sehat Tidak Membatasi Ruang Gerak

Hubungan yang sehat seharusnya memberi ruang bagi kedua belah pihak untuk tetap berkembang sebagai individu. Memiliki pekerjaan, bertemu teman, menjalani hobi, atau membuat keputusan pribadi bukanlah ancaman bagi hubungan yang sehat.

Karena itu, jangan mudah menganggap semua sikap protektif sebagai bentuk cinta. Jika pasangan mulai mengontrol kehidupanmu secara berlebihan hingga kamu merasa kehilangan kebebasan untuk menjadi diri sendiri, bisa jadi itu bukan kasih sayang, melainkan awal dari coercive control yang perlu diwaspadai.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Psychologytoday.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU