Sering disalahkan meski bukan salahmu. (Freepik)
INDOZONE.ID - Pernah nggak sih kamu lagi berantem, tapi ujung-ujungnya malah kamu yang ngerasa bersalah, padahal awalnya bukan kamu yang bikin masalah? Kalau iya, bisa jadi kamu sedang menghadapi yang namanya blame-shifting, salah satu bentuk kekerasan verbal yang sering luput disadari.
Fenomena ini bukan sekadar debat biasa. Di baliknya, ada permainan kekuasaan dan kontrol yang bikin satu pihak selalu “menang”, sementara yang lain terus merasa bersalah.
Kekerasan verbal sebenarnya nggak selalu muncul terus-menerus. Dalam hubungan yang sehat, sesekali emosi meledak itu masih wajar. Tapi beda cerita kalau hal ini jadi pola.
Biasanya, ada ketimpangan kekuatan dalam hubungan tersebut. Bisa karena faktor finansial, emosional, atau bahkan rasa takut. Orang yang “lebih kuat” akan memakai kata-kata sebagai alat untuk mempertahankan kendali.
Dan menariknya, ini nggak cuma terjadi di hubungan yang jelas-jelas timpang seperti orang tua dan anak, atau atasan dan bawahan. Dalam hubungan yang terlihat setara pun, hal ini bisa terjadi diam-diam.
Baca juga: Kenapa Orang Cerdas Pun Bisa Jadi Korban Manipulatif? Ternyata Ini Alasannya
Salah satu taktik yang sering dipakai adalah blame-shifting, alias mengalihkan kesalahan ke orang lain. Tujuan utamanya sederhana: menghindari tanggung jawab sekaligus tetap pegang kendali.
Contohnya sering terdengar seperti ini:
“Kalau kamu nggak gampang marah, aku juga nggak bakal bohong.”
Sekilas terdengar masuk akal, kan? Tapi sebenarnya, itu cara halus untuk memutar balik fakta biar kamu yang merasa bersalah.
Dalam banyak kasus, blame-shifting sering dibarengi dengan manipulasi lain seperti gaslighting, di mana kamu dibuat meragukan ingatan atau perasaanmu sendiri.
Misalnya saat seseorang tidak menepati janji, lalu bilang:
“Kamu tuh nggak pernah puas, jadi buat apa aku usaha?”
Lagi-lagi, kesalahan dialihkan ke kamu. Lama-lama, kamu bisa benar-benar percaya kalau masalahnya ada di dirimu.
Ilustrasi manipulatif (Freepik)
Taktik lain yang sering muncul adalah ancaman terselubung. Contohnya:
“Kalau kamu nggak bahagia, ya sudah, pergi saja.”
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychologytoday.com