Ilustrasi menjalani hubungan dengan wanita manipulatif
INDOZONE.ID - Di awal hubungan, semuanya biasanya terasa hangat dan menyenangkan. Ada seseorang yang selalu hadir, sering membantu, perhatian, dan terlihat tulus melakukan apa saja demi kamu. Rasanya seperti menemukan orang yang benar-benar peduli.
Tapi seiring waktu, ada satu hal yang mulai terasa aneh. Setiap kali terjadi masalah, perbedaan pendapat, atau saat kamu mencoba menolak sesuatu, dia mulai mengungkit semua hal yang pernah dilakukan untukmu. Mulai dari bantuan kecil sampai pengorbanan besar, semuanya seperti dicatat rapi dan siap dikeluarkan kapan saja.
Kalau kamu pernah mengalami situasi seperti ini, jangan langsung menganggap itu hal normal. Bisa jadi, kamu sedang berada dalam hubungan yang tidak sehat dan perlahan dimanfaatkan secara emosional.
Baca juga: Cuma Dicari Pas Butuh? Hati-Hati, Bisa Jadi Kamu Sedang Dimanfaatkan Orang Terdekat!
Pada dasarnya, membantu orang lain memang hal baik. Dalam hubungan sehat, saling mendukung adalah sesuatu yang wajar. Namun, masalah mulai muncul ketika bantuan itu terus dijadikan alat untuk menekan, mengontrol, atau membuat orang lain merasa berutang.
Biasanya, orang seperti ini sering melontarkan kalimat seperti:
“Aku udah ngelakuin banyak hal buat kamu.”
“Cuma aku yang selalu ada waktu kamu susah.”
“Kamu nggak ngerti ya seberapa besar pengorbananku?”
“Kalau bukan karena aku, kamu nggak bakal bisa seperti sekarang.”
Sekilas terdengar seperti ucapan biasa. Tapi kalau kalimat seperti ini terus muncul berulang kali, apalagi saat mereka menginginkan sesuatu darimu, itu bisa menjadi bentuk manipulasi emosional. Tanpa sadar, kamu dibuat merasa bersalah setiap kali tidak menuruti keinginan mereka.
Salah satu ciri hubungan yang mulai tidak sehat adalah ketika semuanya terasa seperti transaksi. Setiap bantuan seolah punya harga yang harus dibayar kembali. Padahal, hubungan yang sehat seharusnya berjalan secara alami. Orang membantu karena peduli, bukan supaya nanti bisa menagih balasan atau membuat pasangannya merasa punya utang budi.
Kalau seseorang terlalu sering menghitung apa yang sudah dia lakukan, besar kemungkinan dia tidak benar-benar memberi dengan ikhlas. Yang lebih melelahkan, kamu jadi merasa harus selalu membalas semua kebaikannya. Akhirnya, hubungan bukan lagi soal kenyamanan, tapi berubah menjadi tekanan emosional.
Ilustrasi upaya menyelamatkan hubungan yang hampir putus. (freepik)
Manipulasi seperti ini sering kali sulit dikenali karena tidak dilakukan secara kasar. Mereka tetap terlihat baik, perhatian, bahkan sering dianggap “green flag” oleh orang lain. Justru karena sikapnya terlihat peduli, banyak orang akhirnya memaklumi perilaku tersebut.
Awalnya mungkin cuma ucapan kecil. Lama-lama berubah jadi pola yang terus berulang, seperti kamu merasa nggak enakan, takut membuat dia kecewa, merasa bersalah saat menolak, dan akhirnya selalu mengalah demi menjaga hubungan tetap aman.
Tanpa sadar, kamu mulai kehilangan batas diri sendiri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychologytoday.com