Duka cita mendalam atas kepergian Maura Magnalia Madyaratry, putri dari pasangan Nurul Arifin dan Mayong Suryo Laksono. Ia telah berpulang pada Selasa (25/1/2022).
Sebelum meninggal dunia, kehidupan Maura cukup inspiratif bagi kamu yang bercita-cita menempuh pendidikan tinggi.
Ya, Maura, gadis yang sempat mengalami depresi dan gangguan kesehatan mental itu, menempuh pendidikan sampai jenjang S-2 atau magister.
Maura memang merupakan anak yang cerdas dan berbakat sejak kecil. Ia pintar dalam berbagai mata pelajaran, dan ia jago bermusik.
Bakat musiknya ia salurkan dengan bermain musik sejak kecil. Maura bersama dua teman perempuannya membentuk sebuah band bernama 3 AYAM. Dalam band itu ia berperan sebagai drummer. Jenis musik mereka adalah jenis musik keras. Maura diketahui penggemar band Nirvana.
Pada usia 17 tahun, tahun 2012, Maura sudah diterima di Lasalle College Singapura jurusan Design Communication. Namun, ia tidak jadi mengambil jurusan itu dan akhirnya kuliah di Universitas Binus jurusan Komunikasi Pemasaran.
Momen wisudanya dibagikan oleh adiknya, Dimel Mirari, di Instagram pada 11 Desember 2019 lalu.
Selanjutnya, Maura melanjutkan pendidikan S-2 di Sydney University. Menurut ayahnya, Mayong, gadis kelahiran 20 September 1994 itu sudah lulus dan tinggal menunggu jadwal wisuda yang akan digelar pada Maret 2022.
"Dia tidak tidur, lagi mengurusi wisudanya dari Sydney University, baru selesai S2. Kemudian dia juga melamar kerja, mungkin karena stres beberapa hari tidak tidur, ya begitulah. Ternyata ada beberapa hal yang tidak bisa dideteksi oleh kita semua," jelas Mayong, dikutip dari Antara.
Mayong menjelaskan, Maura sudah diterima bekerja di Bali usai lulus S-2 dari Sydney University. Ia mulai mencari kerja sembari menunggu jadwal wisuda.
"Dia keterima kerja di Bali tapi, terus dia lagi mikir 'aku ke Bali atau enggak ya'. Jadi dia lagi ada di masa masa agak, sulit ya, menurut kami, karena sekolah sudah selesai tapi belum wisuda, di sisi lain dia harus mencari kerja dan ternyata ada satu yang minta dia datang, tapi di Bali. Mungkin kalau misalnya tidak ada apa-apa hari ini kami akan mengobrol lagi soal itu," tutur Mayong.
Bercita-cita Nulis Buku
Sementara itu, menurut Nurul Arifin, Maura sempat berniat menulis buku semasa hidup.
Buku yang disiapkan putri sulungnya itu berisi tentang penggambaran diri Maura. Hanya saja, sampai tiba ajaknya, naskah Maura belum bertemu dengan penerbit yang bersedia menerbitkannya.
"Dia selalu bicara apa yang dikerjakan. Belum dapat penerbit karena bukunya kontroversial," kata Nurul.
Di mata Nurul, Maura merupakan sosok yang antimainstream dan eksentrik. Hal itu karena kecerdasan luar biasa yang dimilikinya.
"Maura anak yang sangat cantik, sangat baik, sangat cerdas. Mungkin karena cerdasnya itu dia menjadi eksentrik," ujar Nurul.
Menurut sang ayah, pendidikan yang ditempuh Maura juga berpengaruh pada caranya memandang dunia.
"Dia kan belajar S2 di Sydney University tentang social culture, kebudayaan masa kini yang nerobos segala macam. Dia berminat dengan hal seperti itu," Mayong menimpali Nurul.
Sementara itu, Lucky yang merupakan salah satu sahabat Maura menambahkan, Maura menuangkan seluruh pengalaman hidupnya dengan jujur di buku tersebut.
"Basically, pengalaman hidupnya dia, baik buruknya, itu sejujurnya diutarakan di situ tanpa berlebihan," kata Lucky.
Maura kini telah tiada. Ia pergi mendahului kita. Selamat jalan, Maura. Tenang di pelukan-Nya.
Artikel Menarik Lainnya:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: