Saat berpuasa kita tidak hanya menahan lapar dan haus, melainkan hawa nafsu dan emosi juga harus terjaga.
Sayangnya sebagai manusia yang lemah dan penuh salah, seringkali kita tidak dapat mengendalikan emosi.
Emosi ini sangat berbahaya apalagi jika berwujud amarah. Pasalnya amarah bukan hanya bisa menyakiti diri kita sendiri, orang di sekeliling kita pun juga bisa terluka karenanya.
Oleh karena itu, meski manusiawi, kita sebaiknya menahan segala emosi yang muncul dari hati agar tak merusak dan berubah menjadi kekerasan.
Baca juga: 5 Kesalahan Sedekah yang Bisa Menghantarkan ke Neraka, Naudzubillah!
Rasulullah SAW sendiri sudah memberikan saran-saran dan tips kepada umat Islam saat merasakan kemarahan di dalam diri.
Mengutip dari Dalamislam, inilah 5 cara yang bisa kita gunakan untuk menahan amarah ala Rasulullah SAW.
1. Membaca taawudz
Taawudz adalah kalimat ajaib yang dapat membuat hari kita tenang. Itu mengapa saat membaca a’uudzu billahi minas syaithanir rajiim amarah kita menjadi mereda.
“Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar Maha Mengetahui," (QS. Al-A’raf: 200).
2. Diam
Saat emosimu sedang tinggi-tingginya cobalah untuk diam. Sebab, saat seseorang marah dan membiarkan mulutnya terbuka, maka akan banyak sambatan, misuh-misuh, cacian hingga makian yang keluar secara tidak sadar.
“Jika salah seorang di antara kalian marah, diamlah," (HR. Ahmad, 1: 239. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan lighairihi).
3. Mengambil Air Wudhu
Air wudhu pun dapat menenangkan dan memadamkan api kemarahan di hati agar tidak meledak dan melukai diri sendiri maupun orang lain.
“Sesungguhnya amarah itu dari setan dan setan diciptakan dari api. Api akan padam dengan air. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudhu,” (HR. Abu Daud, no. 4784. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)
4. Berganti posisi
Berganti posisi saat merasakan kemarahan bisa meredakan dan menenangkan diri agar tidak berubah jadi kekerasan.
Karena itu saat kamu sedang marah dalam keadaan berdiri, cobalah untuk uduk. Kemudian saat dalam keadaan duduk, coba untuk berbaring
“Bila salah satu di antara kalian marah saat berdiri, maka duduklah. Jika marahnya telah hilang (maka sudah cukup). Namun, jika tidak lenyap pula maka berbaringlah)," (HR. Abu Daud, no. 4782. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).
5. Mengingat nasihat dan jaji Rasulullah SAW
Rasulullah SAW pernah berulang kali memberikan nasihat yang sama saat seseorang memintanya, yaitu 'janganlah engkau marah'.
"Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 'Berilah aku wasiat.' Beliau menjawab, 'Janganlah engkau marah.' Lelaki itu mengulang-ulang permintaannya, (namun) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (selalu) menjawab, 'Janganlah engkau marah',” (HR. Bukhari, no. 6116).
Nasihat ini bisa diingat bagi kita semua yang merindukan Rasulullah SAW. Tak hanya itu, Rasulullah SAW pun menyebut balasan yang luar biasa bagi para penahan amarah.
“Barangsiapa menahan amarahnya padahal mampu meluapkannya, Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk pada hari Kiamat untuk memberinya pilihan bidadari yang ia inginkan,” (HR. Imam Abu Daud, no. 4777 dan Ibnu Majah, no. 4186).
Artikel Menarik Lainnya:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: