Mungkin kalau di Amerika ada CIA, di Inggris ada MI6, serta di Rusia ada KGB, maka di Indonesia ada agensi bernama Badan Intelijen Indonesia atau yang dikenal sebagai BIN. Namun apakah ada yang tahu bagimana BIN ini berdiri dan serta siapa pendirinya?
Jauh sebelum BIN, ada beberapa lembaga intelijen pertama di Indonesia yang dikenal dengan nama BRANI (Badan Rahasia Negara Indonesia). Pendirinya Zulkifli Lubis dianggap sebagai peletak dasar lembaga intelijen Indonesia, sehingga dinobatkan sebagai Bapak Intelijen Indonesia.
Berikut ini ada beberapa fakta tentang sosok Zulkifli Lubis, agen mata-mata seperti james Bond yang mendirikan agensi intelijen pertama di Indonesia.
Mengenal Zulkifli Lubis.
Zulkifli adalah anak kelima dari sepuluh bersaudara. Ayahnya bernama Aden Lubis gelar Sutan Srialam dan ibunya bernama Siti Rewan Nasution. Kedua orangtuanya adalah guru di sekolah guru Normaalschool.
Zulkifli Lubis memperoleh kesempatan menikmati pendidikan Belanda pada Hollandsch Inlansche School. Setelah menyelesaikan HIS, kemudian Kifli melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs di kota yang sama.
Pada masa itu Zulkifli Lubis mulai kelihatan sering membaca koran Deli Blaad, yang diperoleh dari temannya yang berjualan. Melalui Deli Blaad, Zulkifli mulai mengenal pidato-pidato Sukarno, Hatta, Muhammad Husni Thamrin dan perdebatan di Volksraad.
Pemberontak semenjak remaja
Koran yang dimiliki pemilik perkebunan di Sumatera Timur itu mempunyai peranan membangkitkan semangat kebangsaan pelajar semacam Zulkifli Lubis. Di MULO, Zulkifli dan kawan-kawannya tergabung dalam kelompok Patriot. Mereka bisa dibilang sebagai oposisi diam-diam karena sebagai contoh, jika ada upacara mereka tidak mau menyanyikan lagu kebangsaan Belanda, Wilhelmus, malahan mengajak peserta upacara lainnya agar ikut diam.
Selepas tamat dari MULO, Zulkifli melanjutkan ke Algemeene Middlebare School B di Yogyakarta. Hal yang menyenangkan Zulkifli selama bersekolah di AMS B adalah kesempatan dirinya diminta maju ke depan kelas untuk mencoba mengajar.
Misalnya mata pelajaran ilmu tata negara dan sejarah. Di AMS B, Zulkifli bersama teman-temannya sering mengadakan diskusi kebangsaan, termasuk teman-teman dari Parindra.
Baca Juga: Angel Lelga Heran Dituduh Nipu dan Gelapkan Uang Deolipa Yumara: Kok Intelijen Tertipu?
Belajar dari usia 19 tahun di zaman penjajahan Jepang.
Ketika Jepang menduduki Hindia Belanda, Zulkifli Lubis mengikuti ajakan temannya untuk turut serta latihan yang diselenggarakan oleh Tentara Jepang untuk para pemuda. Pilihan itu diambil Zulkifli daripada menganggur.
Setelah memperoleh latihan sekitar dua bulan di Seinen Kurensho (pusat latihan untuk barisan pemuda), Zulkifli menerima tawaran khusus untuk mendapat pendidikan perwira militer.
Di Seinen Dojo (balai penggemblengan pemuda) Tangerang ada sekitar 40 siswa dari seluruh Jawa. Zulkifli Lubis, Kemal Idris dan Daan Mogot termasuk angkatan pertama. Balai penggemblengan inilah yang pertama kalinya memperkenalkan Zulkifli pada dunia intelijen.
Belajar di Singapura, satu-satunya orang Indonesia
Pertengahan tahun 1944, Zulikfli Lubis diajak oleh Rokugawa (bekas komandan Seinen Dojo) ke Malaysia dan Singapura. Disana ia berkenalan dengan Mayor Ogi, yang wajahnya mirip dengan orang Barat dan pandai berbahasa Prancis.
Zulkifli Lubis beruntung karena ia adalah satu-satunya orang Indonesia yang berada di kota Singa itu memperoleh kesempatan untuk mempelajari dunia intelijen dalam praktik dengan bimbingan dari Rokugawa. Zulkifli dan Rokugawa senantiasa melapor kepada komandan Jepang untuk wilayah Asia Tenggara di Singapura.
Rokugawa mengajari Zulkifli mengenai bagaimana caranya mengetahui jumlah penduduk dalam satu kota atau mengetahui apakah rakyat itu anti atau pro Jepang. Ia juga cukup piawai dalam melakukan penyamaran.
Dia merupakan sosok ahli penyamaran dan strategi, hingga bisa disebut memiliki 'topeng' berlapis karena misteriusnya.
Pelatihan fisik dan otak.
Pelatihan teknik dasar militer dan intelijen, baik secara fisik maupun otak. Seperti senam, renang, sumo, kendo, dan ilmu pengetahuan dunia dan bahasa asing.
Ia juga menpelajari tentang sejarah dan peristiwa dunia. Ia juga mempelajari teknik mata-mata seperti taktik, spionase, kontraintelijen, propaganda, konspirasi, pengintaian, penghubung, dan kamuflase.
Buat kelompok intelijen kecil-kecilan.
Setelah belajar intelijen di luar negeri, Zulkifli kembali ke tanah air. Ia melibatkan diri dalam rencana Jepang untuk membentuk kelompok-kelompok intelijen di berbagai tempat di Jawa sebagai pasukan gerilya untuk menghadapi pasukan Sekutu jika kelak mendarat.
Setelah Jepang menyerah, Sekutu pun mendarat dan tidak mendapat perlawanan yang berarti sebagaimana mestinya dari kelompok intelijen yang diorganisir oleh Zulkifli Lubis.
Setelah proklamasi kemerdekaan, Zulkifli Lubis dipercayakan sebagai pimpinan pusat Badan Keamanan Rakyat yang diketuai oleh Kaprawi dan dibantu oleh Sutalaksana (Ketua I), Latief Hendraningrat (Ketua II), Arifin Abdurrachman dan Machmud.
Disinilah ia mulai mempersiapkan pembentukan badan intelijen yang diberi nama Badan Istimewa. Zulkifli Lubis, Sunarjo, Juwahir dan GPH Djatikusumo membidani lahirnya badan itu. Sekitar 40 orang bekas Giyugun dari seluruh Jawa bergabung dalam badan itu.
Membentuk Penyelidikan Militer Chusus (PMC), tangani penyelundupan senjata.
Penyelundupan senjata dari Singapura pun dilakukan. Kegiatan ini dilakukan PMC di Sumatra dan Kuala Enoch atau Kuala Tungkal. Penyelundupan itu juga dilakukan untuk membantu operasi di Kalimantan di bawah pimpinan Muljono dan Tjilik Riwut.
Pada bulan April 1946, cabang PMC di Purwakarta mendapat reaksi yang sengit dari pihak tentara, karena dianggap melakukan serangkaian penangkapan dan penyitaan yang semena-mena.
Strategi meloloskan diri.
Kemudian beberapa bulan berikutnya, Zulkifli dan Sutjipto (pemimpin Penyelidik Umum Militer) terlibat dalam Peristiwa 3 Juli 1946, yaitu percobaan perebutan kekuasaan yang dimotori oleh Mayor Jenderal Sudarsono, Kepala Divisi III Yogyakarta. Sutjipto tertangkap, akan tetapi sebaliknya Zulkifli Lubis berhasil lolos.
Akibat kecerdikan Zulkifli Lubis, ia bisa menghapus jejak setelah melakukan aksi dan mendapat pemberian grasi Presiden Sukarno atas keterlibatannya dalam Peristiwa 3 Juli 1946.
Baca Juga: Hacker Bjorka Ancam Bocorkan Databes MyPertamina, Begini Kata BIN!
Mendirikan BRANI, yang kini jadi BIN.
Zulkifli Lubis kemudian mendapat kepercayaan membentuk Badan Rahasia Negara Indonesia (Brani) dan menjadi ketuanya.
Untuk merekut anggota Brani dan, Zulkifli menggunakan sebagian besar pelajar, bekas Seinen Dojo maupun Yugeki di antaranya Bambang Supeno, Kusno Wiwoho, Dirgo, Sakri, Suparto dan Tjokropranolo.
Artikel Menarik Lainnya:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: