Sebuah kota Igbo Ora di Nigeria terdapat banyak sekali anak kembar. Saking banyaknya, kota ini mendapat julukan 'ibu kota kembar dunia'. Lalu, kok bisa ya rata-rata kembar gitu yang lahir?
Saking banyak, kota itu pun punya tradisi yang diberi nama Taiwo atau Kehinde tergantung dari urutan kelahiran.
Tidak diketahui mengapa di kota tersebut banyak sekali anak kembarnya, namun hal ini kabarnya dikaitkan dengan para orangtua dan anak disana rutin mengonsumsi sayuran daun okra (Abelmoschus esculentus).
"Ada banyak kembaran karena kita banyak makan daun okra," ungkap salah satu anak kembar, Kehinde Oyedepo (15), dikutip dari Reuters.
"Karena saya banyak makan daun okra, saya sampai melahirkan delapan pasang anak kembar," tambah seorang ibu penjual daun okra, Oyenike Bamimore.
Teori lain dari masyarakat sana juga mengatakan karena mengonsumsi amala, sebuah makanan tradisional yang proses pembuatannya menggunakan ubi dan tepung singkong. Disebutkan bahwa ubi tersebut mendorong produksi gonadotropin, senyawa kimia yang menstimulasi produksi telur.
Namun, walau masyarakat mengatakan fenomena unik tersebut karena mengonsumsi makanan, dalam dunia penelitian tak ada yang membenarkan hal tesebut. Salah satunya ahli kandungan Ekujumi Olarenwaju.
"Secara ilmiah tidak ada yang bisa bilang makanan alasannya. Salah satu alasan yang masuk akal adalah aspek keturunan karena mungkin praktik pernikahan antara kerabat sehingga gennya terkumpul dan terkonsentrasi di lingkungan itu," kata Ekujumi.
Saking banyak, kota itu pun punya tradisi yang diberi nama Taiwo atau Kehinde tergantung dari urutan kelahiran.
Tidak diketahui mengapa di kota tersebut banyak sekali anak kembarnya, namun hal ini kabarnya dikaitkan dengan para orangtua dan anak disana rutin mengonsumsi sayuran daun okra (Abelmoschus esculentus).
"Ada banyak kembaran karena kita banyak makan daun okra," ungkap salah satu anak kembar, Kehinde Oyedepo (15), dikutip dari Reuters.
"Karena saya banyak makan daun okra, saya sampai melahirkan delapan pasang anak kembar," tambah seorang ibu penjual daun okra, Oyenike Bamimore.
Teori lain dari masyarakat sana juga mengatakan karena mengonsumsi amala, sebuah makanan tradisional yang proses pembuatannya menggunakan ubi dan tepung singkong. Disebutkan bahwa ubi tersebut mendorong produksi gonadotropin, senyawa kimia yang menstimulasi produksi telur.
Namun, walau masyarakat mengatakan fenomena unik tersebut karena mengonsumsi makanan, dalam dunia penelitian tak ada yang membenarkan hal tesebut. Salah satunya ahli kandungan Ekujumi Olarenwaju.
"Secara ilmiah tidak ada yang bisa bilang makanan alasannya. Salah satu alasan yang masuk akal adalah aspek keturunan karena mungkin praktik pernikahan antara kerabat sehingga gennya terkumpul dan terkonsentrasi di lingkungan itu," kata Ekujumi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber:
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU