Senin, 06 MEI 2024 • 07:00 WIB

Kenali Dampak Buruk Marah Berlebihan bagi Kesehatan, Salah Satunya Risiko Penyakit Jantung

Author

Ilustrasi orang marah. (Pexels)

INDOZONE.ID - Marah adalah salah satu bentuk ekspresi emosi yang umum. Namun, jika tidak dikendalikan dengan baik, marah dapat memiliki dampak buruk pada kesehatan dan kesejahteraan.

Artikel ini membahas dampak buruk dari keseringan marah serta memberikan tips untuk mengendalikan emosi ini dengan lebih sehat.

Dampak Buruk Marah bagi Kesehatan

Jika marah terjadi terlalu sering atau terlalu intens, hal ini dapat menyebabkan sejumlah masalah kesehatan, baik fisik maupun mental. Berikut adalah beberapa dampak buruk keseringan marah bagi kesehatan:

Baca Juga: Studi Jepang: Mengatasi Rasa Marah dengan Menulis Dapat Menenangkan Pikiran

1. Melemahkan Sistem Kekebalan Tubuh

Ilustrasi orang sehat lantaran menjaga kekebalan tubuh

Kemarahan yang berlebihan dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Ketika seseorang marah, tubuh melepaskan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol, yang dapat memicu respons "fight or flight."

Pelepasan hormon stres yang berlebihan atau terlalu sering dapat menurunkan antibodi imunoglobulin A (IgA), yang bertugas melawan infeksi.

Penurunan IgA akibat kemarahan dapat meningkatkan risiko infeksi, mengganggu sistem pencernaan, dan bahkan meningkatkan risiko penyakit kronis.

Untuk mengurangi risiko ini, penting untuk mengelola stres, menjaga pola hidup sehat, dan mengendalikan respons marah.

Langkah-langkah seperti berpikir sebelum bicara, menggunakan teknik relaksasi seperti meditasi atau yoga, menjaga pola makan sehat, dan rutin berolahraga dapat membantu mengurangi stres dan menjaga kesehatan sistem kekebalan tubuh.

Jika marah menjadi sulit dikendalikan, berkonsultasi dengan konselor atau psikolog bisa menjadi solusi untuk mendapatkan bantuan dan strategi dalam mengelola emosi.

2. Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung

Ilustrasi penderita penyakit jantung.

Kemarahan memiliki efek langsung pada sistem kardiovaskular, terutama karena kemarahan memicu pelepasan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol.

Hormon-hormon ini mempengaruhi sistem tubuh dalam berbagai cara yang pada akhirnya meningkatkan risiko penyakit jantung. Berikut adalah mekanisme di balik peningkatan risiko ini:

Adrenalin dan kortisol memicu respons "fight or flight" yang membuat tekanan darah naik dan detak jantung meningkat.

Ketika tekanan darah naik secara tiba-tiba, ini dapat menyebabkan ketegangan pada pembuluh darah dan jantung.

Selain itu, detak jantung yang meningkat secara drastis bisa memicu masalah irama jantung seperti fibrilasi atrium atau takikardia.

Ledakan amarah yang intens bisa menyebabkan pembekuan darah yang lebih cepat. Ketika darah mengalir lebih cepat akibat tekanan darah tinggi, risiko terbentuknya gumpalan darah juga meningkat. Gumpalan darah ini dapat menyumbat arteri, menyebabkan serangan jantung atau stroke.

Penelitian menunjukkan bahwa dalam dua jam setelah ledakan amarah, risiko serangan jantung meningkat secara signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa kemarahan memiliki efek langsung dan cepat pada sistem kardiovaskular.

Di sisi lain, kemarahan yang berulang dan terakumulasi bisa menyebabkan perubahan jangka panjang pada sistem kardiovaskular, seperti tekanan darah tinggi kronis dan peningkatan risiko penyakit jantung.

3. Menyebabkan Depresi

Ilustrasi orang depresi. (Freepik)

Ketika seseorang menahan amarah, ketegangan emosional mulai menumpuk. Tekanan ini dapat menyebabkan perasaan frustrasi, yang jika dibiarkan, bisa berubah menjadi perasaan putus asa atau keputusasaan.

Tanpa cara yang sehat untuk menyalurkan emosi, tekanan ini bisa tumbuh dan berdampak pada suasana hati.

Depresi yang diakibatkan oleh marah yang terpendam dapat terlihat dalam berbagai bentuk. Orang yang menyimpan kemarahan mungkin merasa kurang energi, kehilangan minat pada aktivitas yang biasa dinikmati, dan merasa terisolasi.

Perasaan ini bisa memicu lingkaran setan di mana perasaan marah dan depresi saling memperkuat.

Ketika seseorang merasa terjebak dalam siklus marah dan depresi, keluar dari lingkaran ini bisa menjadi sangat sulit.

Depresi dapat membuat seseorang merasa tidak termotivasi atau tidak berdaya, yang pada akhirnya memperburuk kondisi dan menambah tekanan emosional.

Depresi yang berasal dari kemarahan yang terpendam bisa mempengaruhi kesehatan mental secara keseluruhan.

Jika tidak ditangani dengan baik, depresi bisa berkembang menjadi gangguan kecemasan atau menyebabkan masalah dalam hubungan interpersonal.

4. Merusak Paru-Paru

Ilustrasi paru-paru. (Foto/Antara)

Kemarahan dapat memiliki dampak signifikan pada paru-paru. Ketika seseorang marah, tubuh merespons dengan memicu hormon stres seperti adrenalin dan kortisol. Respon "fight or flight" ini dapat memengaruhi paru-paru dan sistem pernapasan.

Penelitian di Harvard University menunjukkan bahwa pria yang sering marah mengalami penurunan kapasitas paru-paru secara signifikan selama delapan tahun.

Penurunan kapasitas ini berarti paru-paru kurang efisien dalam memproses udara, menyebabkan masalah pernapasan seperti sesak napas, batuk, dan mengi.

Kemarahan yang berulang juga bisa memicu peradangan di saluran udara, meningkatkan risiko penyakit pernapasan seperti bronkitis atau asma

Jika paru-paru tidak berfungsi dengan baik, tubuh kesulitan mendapatkan oksigen yang cukup, menyebabkan kelelahan bahkan saat melakukan aktivitas ringan.

Untuk menjaga kesehatan paru-paru, penting untuk mengelola kemarahan dengan teknik relaksasi, olahraga, dan mencari bantuan profesional jika diperlukan.

5. Memperburuk Kecemasan

Ilustrasi orang cemas

Marah dan kecemasan seringkali saling berhubungan. Kemarahan yang sering atau intens dapat memperburuk gejala gangguan kecemasan umum, yang bisa berdampak serius pada kehidupan sehari-hari dan kualitas hidup seseorang.

Mari kita lihat secara rinci bagaimana kemarahan dapat memperburuk kecemasan dan bagaimana hal itu memengaruhi berbagai aspek kehidupan.

Kemarahan yang tidak terkendali dapat menyebabkan peningkatan rasa ketidakpastian dan ketakutan. Ketika seseorang marah, tubuh mengalami respons stres yang dapat memicu perasaan tidak nyaman atau cemas.

Jika ini terjadi terlalu sering, perasaan ketidakpastian dan ketakutan bisa menjadi kronis, yang mengarah pada peningkatan gejala gangguan kecemasan.

Kemarahan dapat memicu kecemasan, dan sebaliknya, kecemasan dapat memicu kemarahan. Siklus ini dapat menjadi berbahaya, karena setiap ledakan amarah atau perasaan cemas meningkatkan risiko terulangnya respons serupa di kemudian hari.

Misalnya, kemarahan bisa membuat seseorang cemas tentang dampaknya pada hubungan sosial atau pekerjaan, yang pada gilirannya dapat memicu lebih banyak kemarahan.

6. Meningkatkan Risiko Stroke

Ilustrasi orang stroke (Freepik/jcomp)

Kemarahan dapat menyebabkan lonjakan tekanan darah yang signifikan. Tekanan darah yang tinggi adalah faktor risiko utama untuk stroke karena dapat merusak dinding pembuluh darah.

Pembuluh darah yang rusak lebih rentan terhadap kebocoran atau pembekuan, yang pada akhirnya dapat mengakibatkan stroke.

Saat marah, detak jantung cenderung meningkat. Peningkatan ini dapat menyebabkan tekanan tambahan pada jantung dan pembuluh darah.

Detak jantung yang meningkat juga bisa memicu gangguan irama jantung, yang dapat menyebabkan pembekuan darah, terutama jika aliran darah menjadi tidak stabil atau tidak konsisten.

Respons stres akibat kemarahan dapat meningkatkan kecenderungan darah untuk menggumpal. Pembentukan bekuan darah adalah penyebab utama stroke iskemik.

Bekuan darah yang terbentuk di pembuluh darah bisa bergerak dan menyumbat aliran darah ke otak, menyebabkan stroke.

Baca Juga: Bisa Sebabkan Masalah Kesehatan Fisik dan Mental, Berikut Cara Mengendalikan Emosi dan Marah

Kemarahan yang intens juga dapat menyebabkan pendarahan dalam otak. Ketika tekanan darah meningkat, pembuluh darah kecil di otak bisa pecah, menyebabkan stroke hemoragik. Pendarahan ini bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani.


Konten ini adalah kiriman dari Z Creators Indozone.Yuk bikin cerita dan konten serumu serta dapatkan berbagai reward menarik! Let's join Z Creators dengan klik di sini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Better Health

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU