INDOZONE.ID - Pada liburan Maulid Nabi Muhammad SAW tanggal 16 September 2024 lalu, kemacetan total terjadi di wilayah Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kemacetan ini disebut memakan waktu hingga 9-10 jam.
Tentunya, terjebak dalam kondisi macet total adalah hal yang sangat ingin dihindari setiap orang.
Pasalnya, kemacetan yang terjadi dapat mengganggu kesehatan setiap orang yang terjebak di dalamnya, mulai dari dehidrasi hingga kelelahan.
Hal ini bisa menimbulkan berbagai dampak, dengan dampak paling bahaya yang dapat terjadi akibat dehidrasi dan kelelahan ini yaitu kematian, seperti yang pernah terjadi di Pintu tol Brebes 2016 lalu.
Tidak hanya dehidrasi dan kelelahan, dampak bahaya lain yang mengintai akibat terjebak kemacetan untuk kesehatan tubuh, karena menghirup gas beracun yang dihasilkan dari asap kendaraan bermotor.
Apa Itu CO2
Salah satu gas beracun yang dihasilkan dari asap kendaraan bermotor yaitu karbon dioksida, yang memiliki kode kimia CO2. Seperti dehidrasi dan kelelahan, menghirup CO2 pada tingkat yang parah dapat menyebabkan dampak yang berbahaya bagi tubuh, yang juga dapat berujung pada kematian.
Baca Juga: Penghilangan Karbondioksida Global Capai 2 Miliar Ton per Tahun
Dilansir dari USDA: Carbon Dioxide Health Hazard Information Sheet, CO2, atau Karbon Dioksida, adalah gas yang tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak mudah terbakar, yang secara alami terdapat di atmosfer.
Di luar ruangan, kadar CO2 biasanya berkisar antara 300 hingga 400 ppm, namun di wilayah metropolitan dapat mencapai 600-900 ppm.
Walaupun seringkali CO2 berwujud gas, namun CO2 juga dapat berwujud dalam bentuk padat, yaitu dalam wujud es kering.
Kenapa Menghirup CO2 Berbahaya?
CO2 bersifat asfiksia, yaitu sifat gas yang mengurangi atau menggantikan oksigen normal dalam udara pernafasan. Karena sifat inilah, maka CO2 dapat beracun dan mengganggu kesehatan tubuh manusia.
Gejala paparan CO2 ringan antara lain sakit kepala, dan timbulnya rasa kantuk. Pada tingkat yang lebih tinggi, dapat menyebabkan pernafasan cepat, kebingungan, tekanan darah tinggi, peningkatan detak jantung, dan peningkatan aritmia. J
ika sudah terpapar CO2 pada level yang ekstrem, dapat menyebabkan kematian akibat dari sesak nafas.
Tidak hanya mengandung gas CO2, asap kendaraan bermotor juga mengandung zat-zat lain seperti Karbon Monoksida, Sulfur Dioksida, Nitrogen Oksida, Metana, Benzena, yang tentunya juga dapat berakibat fatal jika sudah terpapar pada tingkat yang parah.
Cara Mengurangi Paparan CO2 Akibat Asap Kendaraan
Dilansir dari Hackensack Meridian Health, menghindari seluruh paparan asap kendaraan bermotor memang tidak mungkin dilakukan, terlebih lagi jika kita harus berkendara pada jam-jam sibuk yang sering menimbulkan kemacetan.
Namun, kita dapat meminimalisir paparan asap kendaraan bermotor dengan melakukan beberapa hal dibawah ini:
- Tutup jendela mobil, untuk mencegah masuknya asap kendaraan bermotor ke dalam mobil, terlebih lagi saat keadaan macet.
- Hindari lalu lintas yang padat. Pilih rute yang sepi, dan berangkat lebih pagi atau di waktu sepi jika memungkinkan.
- Rawat dan ganti secara rutin fliter mobil. Filter berfungsi membatasi jumlah polusi yang masuk ke dalam mobil, dan dapat mengurangi paparan asap kendaraan bermotor dari luar.
- Jaga jarak dengan kendaraan lain, terlebih lagi saat macet, agar dapat mencegah terlalu banyak menghirup asap kendaraan dari kendaraan bermotor yang berhenti di sekitar kita.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: USDA, Hackensak Meridian Health