INDOZONE.ID - Kalau kamu aktif di TikTok atau Instagram, pasti pernah melihat tren makeup baru yang terus bermunculan, skincare yang disebut wajib punya, atau produk baru yang langsung viral dalam hitungan jam. Welcome to the world of fast beauty, tren kecantikan yang lagi ngetren banget, tapi juga bikin dompet cepat bolong dan gaya hidup makin konsumtif.
Fast beauty pada dasarnya adalah adaptasi industri kecantikan yang mengikuti pola fast fashion di dunia mode. Bedanya, bukan pakaian yang cepat berganti, melainkan produk makeup dan skincare yang dirilis super cepat untuk mengikuti tren terbaru dan viral di media sosial. Fenomena ini bikin brand kecantikan seperti berlomba-lomba mengeluarkan lip cream baru, cushion edisi terbatas, atau serum anti-penuaan hampir setiap bulan agar tetap relevan di pasar.
Menurut artikel internasional, istilah fast beauty menggambarkan kecepatan produksi dan distribusi sehingga sebuah brand bisa merilis produk baru dengan siklus yang sangat pendek. Hal ini dilakukan agar konsumen selalu merasa perlu memiliki produk terbaru atau yang sedang hype.
Kenapa fast beauty bisa menyebar secepat itu? Jawabannya simpel, yaitu media sosial. Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube, terutama lewat konten review para influencer, bikin tren produk kecantikan langsung viral. Sekali produk muncul di FYP, dalam hitungan jam stok bisa langsung habis karena banyak orang buru-buru membeli. Rasanya seperti ketinggalan zaman kalau tidak ikut punya.
Fenomena ini juga didorong oleh FOMO alias fear of missing out. Orang jadi merasa harus membeli produk yang sedang viral, padahal sebelumnya bukan kebutuhan utama. Begitu tren baru muncul, produk lama langsung ditinggalkan. Dari sinilah pola konsumsi jadi makin tidak sehat dan boros.
Baca juga: De-Influencing, Gerakan Anti-Konsumerisme Melawan Gempuran Promosi di Media Sosial
Nah, ini bagian yang paling penting, konsumerisme. Fast beauty bukan cuma soal banyaknya produk baru, tapi juga strategi marketing yang bikin kita tidak sadar membeli lebih dari yang dibutuhkan. Brand sering memakai trik seperti diskon besar-besaran, kolaborasi dengan selebritas, atau edisi terbatas untuk memicu pembelian impulsif.
Menurut riset global tentang perilaku konsumen dan media sosial, terlalu sering melihat konten promosi influencer bisa membuat seseorang merasa “harus punya” produk kosmetik tertentu. Di kehidupan sehari-hari, pasti banyak yang pernah membeli skincare dua atau tiga item dalam seminggu hanya karena tergoda iklan di feed, padahal produk lama belum habis. Alhasil, bukannya hemat, dompet malah makin jebol. Konsumerisme seperti ini menggeser mindset dari quality over quantity menjadi more is more.
Selain bikin boros, fast beauty juga berdampak buruk bagi lingkungan. Industri kecantikan diprediksi menghasilkan puluhan miliar unit kemasan plastik setiap tahunnya. Sayangnya, banyak kemasan tersebut tidak bisa didaur ulang dan akhirnya berakhir di tempat sampah atau lautan.
Masalahnya bukan hanya pada produk yang dibeli konsumen, tetapi juga siklus produksi yang serba cepat membuat brand sering mengabaikan aspek keberlanjutan. Fokus utama masih pada kecepatan dan margin keuntungan, bukan dampak jangka panjang terhadap bumi. Ini bukan sekadar soal plastik, tetapi juga penggunaan sumber daya dan limbah industri yang terus meningkat.
Ilustrasi tempat kosmetik dan skincare (Freepik)
Seiring meningkatnya kesadaran akan dampak negatif fast beauty, kini mulai muncul tren baru bernama sustainable beauty, alias kecantikan yang lebih bertanggung jawab. Di beberapa pasar global, konsumen mulai memilih produk yang mengutamakan kualitas, minimalis, dan ramah lingkungan daripada sekadar ikut tren baru setiap minggu.
Tren slow beauty ini berlawanan dengan fast beauty karena mendorong konsumen untuk memilih produk yang benar-benar cocok dengan kulit, bukan membeli banyak produk hanya demi mengikuti tren. Fokusnya bukan cuma pada penampilan, tetapi juga kepuasan jangka panjang dan keberlanjutan bumi.
Baca juga: Mengenal Efek Diderot, Fenomena Konsumerisme yang Tak Puas Belanja dan Cara Mengatasinya
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Beautymatter.com, Mckinsey.com