Selasa, 07 JULI 2026 • 13:05 WIB

Penyakit Kronis Apa Saja yang Bisa Ditangani dengan Bedah Operasi Robotik? Ini Penjelasan Dokter

Author

Ilustrasi bedah robotik. (Freepik) 

INDOZONE.ID - Dunia medis di Indonesia telah memasuki robotic surgery era. Banyak penyakit kronis yang bisa dioperasi dengan robot dan tentunya nyaman untuk pasien. 

Sejak beberapa tahun belakangan, penyakit yang berkaitan dengan ortopedi, urologi, bedah digestif, dan neurologi bisa ditangani dengan sistem robotik. 

Bahkan sistem ini sudah beroperasi di beberapa rumah sakit yang berada di Jakarta, Surabaya, Bali, dan Makassar.

Masyarakat tak perlu jauh-jauh ke luar negeri untuk mendapatkan penanganan robotik. Selain biaya lebih efisien, tingkat keberhasilan robotic surgery juga sangat tinggi. 

Baca juga: Mengenal Faktor Risiko dan Dampak Buruk Penggunaan Rokok Elektrik Bagi Kesehatan Tubuh

Studi bahkan menunjukkan bahwa operasi bedah robotik memungkinkan sayatan yang lebih kecil, nyeri pascaoperasi yang lebih ringan, masa rawat inap yang lebih singkat. 

Selain itu, risiko komplikasi juga lebih rendah dibandingkan operasi bedah konvensional. 

Salah satu sistem bedah robotik yang sangat populer di Indonesia adalah Da Vinci Xi. Dari beberapa pengalaman pasien serta berbagai penelitian menunjukkan, lama rawat inap hampir dua hari lebih singkat, risiko komplikasi pascaoperasi 44% lebih rendah, dan risiko kematian dalam 30 hari hingga 46% lebih rendah. 

Kalau dibanding dengan laparoskopi konvensional, Da Vinci Xi juga menurunkan risiko konversi ke bedah terbuka sebesar 56% dan komplikasi pascaoperasi sebesar 10%. 

Baca juga: Flu Biasa atau Rinitis Alergi? Dokter Ungkap 7 Cara Mudah Membedakannya

Karena punya tinggi presisi yang tinggi, bedah robotik juga membantu dokter menangani kasus-kasus kompleks dengan akurasi yang lebih baik. 

Metode ini bisa mendukung pemulihan pasien lebih cepat dan bisa meningkatkan kualitas hidup.

Pemerintah mengapresiasi para dokter serta rumah sakit yang mulai menerapkan teknologi kesehatan yang mutakhir. Selain memperkuat kompetensi tenaga kesehatan, manfaat teknologi ini juga membantu meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Indonesia.

Direktur Pengembangan Pelayanan Kesehatan Rujukan, Yanti Hermanmenyampaikan, penguatan kompetensi tenaga kesehatan, pengembangan layanan berbasis teknologi, serta kolaborasi lintas sektor, menjadi fondasi penting dalam menghadirkan layanan kesehatan yang semakin berkualitas. 

Baca juga: Tidak Disangka, Rutin Nonton Bioskop dan ke Museum Ternyata Bisa Memperlambat Penuaan

Menurutnya, inovasi bedah robotik tidak hanya mendorong kemajuan praktik bedah modern, tetapi juga memperkuat kapabilitas sistem kesehatan nasional.

“Masyarakat kini dapat mengakses layanan berstandar global lebih dekat dengan rumah. Kami mendorong pemanfaatan teknologi kesehatan untuk meningkatkan kualitas layanan dan hasil klinis pasien di Indonesia,” ucapnya dalam acara Press Conference Siloam Robotic Summit 2026 di Jakarta Selatan, baru-baru ini. 

Salah satu rumah sakit di Indonesia yang telah menerapkan bedah robotik adalah Siloam Hospitals Kebon Jeruk. Sejak 2025, lebih dari 100 pasien menjalani bedah robotik Da Vinci Xi bersama 10 dokter bedah di Center of Robotic & Minimally Invasive Surgery.

Chief Medical Officer Siloam International Hospitals dr. Grace Frelita, MM, menjelaskan, berdasarkan evaluasi klinis, pemanfaatan bedah robotik menunjukkan manfaat yang terukur dalam aspek presisi, keselamatan, dan pemulihan pasien. 

Baca juga: Dokter Ingatkan Gaya Hidup Modern Jadi Pemicu Pergeseran Kanker pada Perempuan

Merela yang menjalani prosedur robotik menunjukkan pemulihan lebih cepat, dengan rata-rata lama rawat inap 4,5 hari dibandingkan 6,2 hari dibandingkan prosedur bedah operasi konvensional. 

Selain Da Vinci Xi, dr. Grace mencontohkan kasus operasi penggantian sendi lutut yang berhasil dilakukan. Tim dokter melakukan Total Knee Replacement (TKR) dengan teknologi ROSA Knee Robotic Surgery.

Dokter Grace mengakui bahwa dari sisi presisi, hampir seluruh prosedur robotic yang dievaluasi mencapai target keseimbangan sendi lutut sesuai rencana operasi. 

“Temuan ini sejalan dengan berbagai penelitian internasional yang menunjukkan bahwa teknologi robotik mendukung tingkat presisi yang tinggi dalam operasi penggantian sendi lutut,” tutupnya. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU