Tim dokter ortopedi Eka Hospital. (Indozone/Dewi)
INDOZONE.ID - Eka Hospital kembali menegaskan posisinya sebagai pelopor layanan kesehatan berteknologi tinggi. Sejak pertengahan 2024, rumah sakit ini berhasil melakukan 100 kasus operasi penggantian lutut total (total knee replacement/TKR) menggunakan teknologi robotik, sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya di Tanah Air.
Keberhasilan ini tak lepas dari kekuatan layanan ortopedi yang disebut sebagai salah satu yang paling lengkap di Indonesia. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Chairman Gatam Institute Dr. dr. Luthfi Gatam, SpOT (K) Spine.
“Layanan ortopedi ini sangat paripurna. Seluruh sistem muskuloskeletal, mulai dari tulang, sendi, hingga otot ditangani lengkap dengan seluruh subspesialisasi ortopedi yang ada. Tidak banyak rumah sakit di Indonesia yang memiliki kelengkapan seperti ini,” ujar dr. Luthfi Gatam saat Press Conference di kawasan Bintaro.
Baca juga: Dari Pijat Kretek ke Robotik: Evolusi Penanganan Cedera Lutut dalam 10 Tahun Terakhir
Ia menambahkan, keunggulan tersebut semakin diperkuat dengan dukungan teknologi robotik mutakhir. Saat ini Eka Hospital memiliki dua robot utama, yakni robot untuk operasi tulang belakang dan robot khusus operasi sendi, termasuk penggantian lutut.
“Untuk penggantian sendi lutut, kami mengucapkan selamat kepada tim divisi knee dan hip yang berhasil mencapai 100 kasus operasi robotik dalam waktu yang relatif singkat, kurang dari satu setengah tahun. Ini adalah prestasi yang sangat membanggakan,” katanya.
Tak hanya pada operasi lutut, Eka Hospital juga mencatat capaian luar biasa di bidang bedah tulang belakang. Robotik spine surgery yang dimiliki rumah sakit ini telah digunakan pada hampir 700 pasien dalam kurun tiga tahun terakhir, menjadikan Eka Hospital BSD sebagai salah satu pusat rujukan ortopedi nasional.
“Bahkan untuk dokter subspesialis tulang belakang saja, kami memiliki tujuh orang. Itu satu-satunya di Indonesia,” ungkap dr. Luthfi.
Lebih jauh, dr. Luthfi menegaskan bahwa pencapaian ini menjadi bukti bahwa pasien Indonesia tak perlu lagi mencari layanan kesehatan ke luar negeri. Menurutnya, praktik rumah sakit di luar negeri yang terlalu padat justru berpotensi menurunkan kualitas layanan.
“Kami sangat menjaga kualitas dan outcome pasien. Fokus kami bukan sekadar jumlah, tapi hasil jangka panjang yang bisa dipertanggungjawabkan secara medis,” jelasnya.
Baca juga: 4 Tips Berpuasa yang Menyenangkan untuk Lansia, Ibadah Lancar Lutut Aman
Sementara itu, dr Ricky Hutapea, SpOT(K) Hip & Knee menilai angka 100 kasus bukan sekadar soal statistik, melainkan simbol kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap layanan dalam negeri.
“Kalau masyarakat tidak percaya, angka ini tidak mungkin tercapai. Ini menjadi titik tolak agar ke depan layanan ini terus berkembang,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil kerja tim multidisiplin, mulai dari dokter ortopedi, anestesi, rehabilitasi medik, hingga dokter spesialis lain seperti jantung, paru, dan saraf.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan