ilustrasi ujian (Sumber : Freepik)
INDOZONE.ID - Setiap tahun, menjelang musim ujian akhir, angka gangguan mental pada remaja selalu meningkat drastis. Tekanan akademik membuat banyak siswa kewalahan, dan orang tua sering bingung bagaimana membantu anak tanpa menambah beban.
Menurut pediatrician dan neuropsikolog Ekaterina Tur, kunci performa optimal bukan sekadar belajar keras, tetapi menjaga kondisi emosional anak tetap stabil.
Baca juga: Fenomena Regresi Spontan Tumor Ganas: Bisakah Kanker Menghilang Sendirinya?
Riset menunjukkan sekitar 70% siswa takut ujian, dan kecemasan berlebihan ini memengaruhi perilaku mereka. Anak menjadi mudah marah, sensitif, atau justru menjauh dan menutup diri.
Dalam kondisi stres berat, fungsi kognitif menurun: ingatan melemah, fokus buyar, logika terganggu, hingga muncul “blank” saat menjawab. Bahkan siswa pintar bisa gagal hanya karena otak tidak mampu mengakses informasi pada momen penting. Kelelahan emosional dalam periode panjang juga membuat anak kehilangan motivasi, atau menolak melanjutkan pendidikan.
Baca juga: 7 Alasan Utama Terjadinya Perselingkuhan Menurut Psikolog Vasilkova
Di masa menjelang ujian, mengisi ulang pengetahuan dari nol biasanya sudah telat. Yang terpenting adalah memastikan siswa tenang, stabil, dan percaya diri.
Aturan interval perlu diterapkan:
Otak tidak dirancang menerima beban panjang tanpa jeda. Neuron butuh pergantian aktivitas agar tetap responsif.
Tanpa aktivitas fisik, kemampuan belajar menurun. Minimal 5.000–10.000 langkah per hari dapat menurunkan kelelahan mental. Neuropsikolog Ekaterina Tur juga menyarankan teknik neuropsikologis, seperti mempelajari materi sambil berdiri di atas balance board, yang terbukti meningkatkan memori.
Baca juga: Riset Baru yang Unik! Makin Banyak Bahasa yang Dikuasai, Semakin Lambat Tubuhmu Akan Menua
Meditasi, latihan pernapasan, atau mendengarkan musik (terutama Mozart) membantu mengontrol kecemasan, kemarahan, hingga pikiran negatif. Ketika emosi stabil, kemampuan memahami materi ikut meningkat.
Yang anak butuhkan bukan tuntutan, tetapi rasa aman, percakapan rutin, makan bersama, dan membangun hubungan yang hangat membantu mereka menghadapi tekanan.
Saat otak buntu, kreativitas dapat membuka jalan. Ajak anak mencoba hal baru setiap hari—rute berjalan yang berbeda, hidangan baru, atau genre buku yang tak biasa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Aif.by