Maria Branyas Morera di Ulang Tahun nya yang ke 117 (Sumber : Wikipedia)
INDOZONE.ID - Rahasia di balik umur panjang luar biasa Maria Branyas Morera seorang wanita Catalan yang meninggal pada 2024 di usia 117 tahun 168 hari akhirnya terkuak. Selama lebih dari setahun ia memegang gelar manusia tertua yang masih hidup.
Para ilmuwan melakukan pemeriksaan sangat mendetail terhadap tubuhnya, hampir hingga tingkat molekul, dan publikasi awalnya muncul dalam artikel “Skema Multiome Harapan Hidup Manusia Ekstrem” di biorxiv.org.
Maria juga tercatat sebagai penyintas COVID-19 tertua (terinfeksi pada usia 113 tahun). Walaupun memiliki Bronkiektasis (kerusakan paru-paru kronis), Divertikulum Esofagus (kantong abnormal pada saluran penghubung tenggorokan dan lambung), serta Osteoartritis (radang sendi) yang membatasi pergerakan terutama di tahun-tahun terakhir hidup.
Ia tidak mengidap penyakit degeneratif umum terkait usia. Sejak masa kecil ia kehilangan pendengaran di satu telinga karena cedera, dan pada usia sangat lanjut pendengarannya hilang seluruhnya.
Baca juga: Fenomena Regresi Spontan Tumor Ganas: Bisakah Kanker Menghilang Sendirinya?
Penelitian ini sangat unik karena menggabungkan banyak cabang “omics” atau pendekatan banyak analisis biologis:
Sampel darah, urin, air liur, dan feses dikumpulkan saat Maria berusia 116 tahun. Ia sendiri memberikan persetujuan secara sadar, berharap hasil penelitiannya bisa bermanfaat untuk orang banyak.
Dalam artikel ilmiah, Maria disebut sebagai “M116” yaitu sebuah sebutan impersonal yang umum di penelitian. Para ilmuwan menemukan bahwa umur panjang ekstremnya bukan disebabkan satu mekanisme tertentu, tetapi dari gabungan varian genetik langka yang memengaruhi:
Kombinasi faktor ini diyakini bekerja bersama menghasilkan umur panjang yang luar biasa.
Baca juga: Riset Baru yang Unik! Makin Banyak Bahasa yang Dikuasai, Semakin Lambat Tubuhmu Akan Menua
Hal paling mengejutkan adalah telomer (bagian paling ujung dari kromosom dalam sel tubuh) Maria sangat pendek, berbanding terbalik dengan supercentenarian (seseorang yang telah hidup atau melewati ulang tahun ke-110 mereka) lain yang biasanya memiliki telomer lebih panjang.
Namun kondisi ini pada Maria tampaknya tidak menjadi penanda penyakit, melainkan lebih seperti “jam biologis” yang mencerminkan banyaknya pembelahan sel seiring usia.
Para ilmuwan menilai bahwa pemendekan telomer pada dirinya tidak berkaitan dengan penyakit degeneratif dan tidak menghalangi kesehatannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Aif.by