Perayaan Galungan di Bali (BPSDM Kementerian PU)
INDOZONE.ID - Setiap perayaan Galungan di Bali selalu punya ciri khas yang langsung mencuri perhatian: deretan penjor yang menjulang indah di sepanjang jalan. Mulai dari depan rumah warga, kantor, hingga pertokoan, penjor hadir seperti “gerbang alami” yang mempercantik suasana. Namun, di balik tampilannya yang estetik, penjor ternyata menyimpan filosofi mendalam yang tidak banyak orang pahami.
Penjor bukan sekadar dekorasi musiman. Bagi umat Hindu Bali, penjor adalah simbol rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi Wasa atas berkah kehidupan, kemakmuran, dan kesejahteraan yang diberikan. Tradisi memasang penjor biasanya dilakukan beberapa hari sebelum Galungan, hari besar yang dirayakan sekitar dua minggu setelah Hari Raya Nyepi.
Secara visual, penjor dibuat dari batang bambu tinggi yang melengkung di bagian ujungnya. Namun, bentuk ini bukan sekadar estetika. Lengkungan penjor melambangkan Gunung Agung, gunung suci bagi masyarakat Bali yang dianggap sebagai pusat keseimbangan alam dan spiritual. Sementara itu, keseluruhan bentuknya juga merepresentasikan pertiwi atau bumi, simbol kehidupan itu sendiri.
Makna ini menggambarkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan kekuatan ilahi sebuah konsep penting dalam kehidupan masyarakat Bali.
Baca juga: Perbedaan Nyepi dan Galungan yang Perlu Diketahui, Apa Saja?
Meski terlihat serupa, penjor sebenarnya terbagi menjadi dua jenis utama: penjor sakral dan penjor hias.
Penjor sakral digunakan khusus untuk keperluan upacara keagamaan, sehingga pemasangannya tidak bisa sembarangan. Ada aturan waktu, tempat, dan kelengkapan yang harus dipenuhi. Setiap elemen yang digunakan memiliki nilai simbolis yang kuat dan berkaitan langsung dengan kepercayaan spiritual.
Sementara itu, penjor hias lebih bersifat dekoratif. Penjor jenis ini boleh dipasang lebih bebas untuk memperindah lingkungan saat Galungan. Meski begitu, ada beberapa elemen sakral yang tidak boleh disertakan agar tetap menghormati nilai religiusnya.
Penjor Galungan (Suara Pemerintah)
Salah satu hal yang membuat penjor begitu unik adalah isi dan hiasannya yang berasal dari alam. Penjor sakral biasanya dilengkapi dengan janur (daun enau muda), berbagai jenis daun, serta hasil bumi. Ada tiga jenis hasil bumi yang menjadi komponen utama:
Ketiga unsur ini melambangkan sumber kehidupan dan kemakmuran yang diberikan oleh alam. Selain itu, penjor juga dilengkapi dengan jajanan tradisional, uang kepeng, serta sanggah berbentuk setengah lingkaran (ardha chandra) yang digunakan sebagai tempat sesajen.
Baca juga: Ini Makna Tersembunyi Upacara Melasti yang Bikin Bali Terlihat Sakral
Menariknya, setiap bagian dari penjor tidak hanya memiliki fungsi visual, tetapi juga mewakili kekuatan para dewa dalam ajaran Hindu.
Kombinasi ini mencerminkan keseimbangan kekuatan ilahi yang menjaga kehidupan manusia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Indonesiakaya.com