Kamis, 07 AGUSTUS 2025 • 14:05 WIB

Tari Dames, Warisan Seni Spiritual Purbalingga yang Berusaha Bertahan Melintasi Zaman

Author

Tari Dames

INDOZONE.ID - Purbalingga, Jawa Tengah memiliki bentuk kesenian tradisional yang disebut Tari Dames. Kesenian ini lahir sekitar tahun 1936, terinspirasi oleh semangat perjuangan perempuan dalam melawan penjajahan.

Nama "Dames" sendiri berasal dari kata “Madams” yang dalam bahasa Belanda berarti perempuan muda, yang kemudian diadaptasi untuk menggambarkan penari perempuan dalam tarian ini.

Dikenal juga sebagai Tari Aplang, tarian ini tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga sarat dengan makna spiritual dan pesan dakwah Islam yang tersembunyi dalam syair sholawatnya. 

Namun, di tengah perkembangan zaman dan modernisasi, Tari Dames menghadapi tantangan besar dalam upaya pelestariannya. Lantas, bagaimana tari ini dapat bertahan dan tetap relevan hingga kini?

Baca juga: 7 Tradisi Unik Meriahkan HUT RI ke-80, dari Lomba Sampan Sampai Sepak Bola Durian!

Perjalanan Sejarah Tari Dames

Sejak awal kemunculannya, Tari Dames berperan sebagai media dakwah Islam. Dalam setiap pertunjukannya, syair-syair berbahasa Arab digunakan untuk menyebarkan pesan moral dan religius kepada masyarakat, khususnya di pedesaan. 

Tak hanya sebagai hiburan, tari ini menjadi sarana untuk mengingatkan masyarakat tentang pentingnya nilai-nilai agama.

Namun, setelah kemerdekaan Indonesia, Tari Dames mengalami perubahan fungsi. Di era 1950-an, tarian ini mulai dikenal luas sebagai hiburan tradisional yang tetap mempertahankan nilai spiritualnya. 

Pada masa penjajahan, Tari Dames juga sempat dihentikan seiring terjadinya Perang Dunia II, namun kembali bangkit setelah Indonesia merdeka dan mulai diterima sebagai bagian dari budaya lokal yang menghibur.

Baca juga: Remaja Purbalingga Melestarikan Seni Tradisional Melalui Padepokan Wisanggeni

Tari Dames dan Perkembangannya di Era Modern

Untuk melestarikan Tari Dames di tengah arus modernisasi, pada tahun 1970, dibentuklah paguyuban seni “Bumbung Asmara”. 

Paguyuban ini berperan penting dalam menjaga kelangsungan Tari Dames. Pada akhir 1970-an, minat masyarakat terhadap tari ini sempat mengalami penurunan. 

Namun, pada tahun 1980-an, Tari Dames kembali mendapat perhatian besar setelah tampil di televisi nasional seperti TVRI Yogyakarta dan Taman Mini Indonesia Indah. 

Momen ini menjadi puncak popularitas Tari Dames, meskip kemudian minat masyarakat pada tari ini kembali menurun pada periode 1990-an hingga 2000-an.

Baca juga: Pentas Musikal Sabang-Merauke Meriahkan HUT ke-80 RI

Di tengah tantangan tersebut, pada tahun 2001, pemerintah daerah Purbalingga melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Dinbudparpora) mulai menggulirkan upaya untuk meremajakan Tari Dames.

Salah satu langkah penting adalah dengan menggelar festival seni tradisional yang melibatkan masyarakat, termasuk generasi muda, untuk memperkenalkan kembali tari ini dan memastikan kelangsungannya.

Baca juga: 5 Pakaian Adat Tradisional di Indonesia yang Unik, Jadi Cerminan dan Filosofi Bangsa

Pelestarian Tari Dames oleh Warga Desa Kedungbenda

Desa Kedungbenda, Kecamatan Kemangkon, Purbalingga, menjadi salah satu contoh keberhasilan pelestarian Tari Dames. 

Di desa ini, warga secara rutin mengadakan latihan tari di tepi Sungai Klawing, tepatnya di bawah Jembatan Linggamas. 

Menariknya, latihan ini tidak hanya melibatkan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. 

Melibatkan generasi muda dalam pelatihan ini menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan Tari Dames sejak dini dan menanamkan rasa cinta terhadap budaya mereka.

Melalui upaya ini, warga Kedungbenda berharap Tari Dames dapat bertahan dan terus dilestarikan oleh generasi-generasi mendatang. 

Keterlibatan anak-anak tidak hanya menciptakan generasi penerus penari, tetapi juga membangun rasa bangga terhadap warisan budaya mereka.

Baca juga: Pergelaran Aniwayang Live “Desa Timun” Meriahkan Hari Anak Nasional di Museum Wayang Jakarta

Peran Sosial Tari Dames dalam Kehidupan Masyarakat

Tari Dames lebih dari sekadar hiburan. Ia memainkan peran penting dalam kehidupan sosial masyarakat Purbalingga. 

Pertunjukan tari ini sering kali digelar dalam perayaan atau acara penting, seperti menyambut tamu atau merayakan kebersamaan antar warga. 

Melalui pertunjukannya, Tari Dames mempererat hubungan sosial dan menciptakan nuansa keakraban.

Meskipun di era modern ini minat terhadap seni tradisional cenderung menurun, Tari Dames tetap bertahan sebagai simbol identitas budaya Purbalingga. 

Dengan adanya dukungan dari pemerintah, masyarakat, dan komunitas seni, Tari Dames diharapkan terus eksis dan menjadi warisan budaya yang tidak lekang oleh waktu.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Skripsi

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU