INDOZONE.ID - Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, tidak banyak desa yang mampu melahirkan tradisi baru yang kemudian berkembang menjadi festival kebanggaan bersama.
Namun, Desa Gatak, Klaten, Jawa Tengah, berhasil melakukannya melalui Tradisi Cethik Geni, sebuah perayaan budaya yang telah berlangsung rutin sejak 2018. Tradisi ini bermula dari obrolan sederhana.
“Dulu awalnya di sini belum ada acara seperti ini. Lalu, dari teman-teman Kelanten, salah satunya Mas Yusy, ada ide membuat ogoh-ogoh berbentuk ular yang bagus sekali,” kenang penggagas Cethik Geni.
Ide kreatif itu mendorong terbentuknya sebuah paguyuban bernama Goro Suworo, yang beranggotakan warga dari berbagai daerah seperti Bharapan, Merapi, dan Jalan Meriki.
Baca juga: SIPA 2025 Gandeng Patricia Arstuti: Budaya Indonesia, Gaya Gen Z!
Paguyuban ini kemudian menggelar berbagai kegiatan kebudayaan, berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain.
Dari Gondang Pabrik Gula hingga Merapi, setiap penyelenggaraan selalu membawa pertunjukan kesenian dan kuliner khas lokal.
Dari situ, warga Gatak mulai mengembangkan acara yang akhirnya diberi nama Cethik Geni.
Makna Filosofis Api
Nama Cethik Geni sendiri mengandung makna mendalam. Geni berarti api, sementara cethik dapat dimaknai sebagai pemantik atau pemicu.
Baca juga: Mengenal 6 Tari Tradisional Bali, Warisan Budaya yang Memesona
“Filosofinya, budaya yang sempat ‘padam’ diibaratkan seperti api yang mati, kemudian dinyalakan lagi supaya menyala terang,” jelas sang penggagas.
Seperti banyak inisiatif budaya, perjalanan awal Cethik Geni tidak selalu mulus.
Sebagian warga awalnya ragu atau belum yakin dengan manfaat acara ini. Namun, pendekatan yang digunakan bukan paksaan, melainkan ajakan santai.
“Kami mengundang mereka untuk ikut. Kalau mau, ya bagus. Kalau tidak, tetap kami hormati. Lama-lama, banyak yang tertarik karena melihat acaranya meriah,” ungkapnya.
Baca juga: Mengenal Bonsai, Seni Hortikultura Asal Tiongkok Kuno yang Sudah Berusia Seribu Tahun
Perkembangan Hingga Festival Besar Sejak pertama digelar pada 2018, Cethik Geni sudah berlangsung tujuh kali hingga 2025.
Format acara relatif tetap, meski ada variasi—misalnya, tahun ini tidak ada gunungan seperti biasanya.
Kendati demikian, antusiasme warga tetap tinggi, bahkan melibatkan generasi muda.
Estafet Budaya untuk Generasi Muda
Bagi sang penggagas, keberlangsungan Cethik Geni kini bergantung pada partisipasi generasi muda.
“Kami yang sekarang mengelola sudah tidak muda lagi. Semoga nantinya ada anak-anak muda yang mau memegang tongkat estafet ini, bekerja sama dengan pemerintah desa dan warga, agar Cethik Geni tetap hidup dan berkembang,” ujarnya penuh harap.
Baca juga: Tari Dames, Warisan Seni Spiritual Purbalingga yang Berusaha Bertahan Melintasi Zaman
Tradisi Cethik Geni kini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi dan hiburan, tetapi juga simbol identitas desa.
Api yang pernah padam kini kembali menyala terang, menjadi warisan yang diharapkan terus berkobar di tangan generasi berikutnya
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung