INDOZONE.ID - Pindah rumah bagi sebagian orang identik dengan kegiatan mengemasi barang-barang ke dalam dus, lalu mengangkutnya ke lokasi baru.
Namun, konsep ini tidak berlaku bagi masyarakat Suku Bugis di Sulawesi Selatan.
Bagi mereka, pindah rumah memiliki makna harfiah, yakni memindahkan seluruh bangunan rumah secara utuh. Tradisi unik ini dikenal dengan sebutan Mappalette Bola.
Baca juga: Keunikan Wajah Orang Nepal, Perpaduan Etnis dari India dan Tibet
Tradisi ini biasanya dilakukan ketika seseorang menjual tanahnya, tetapi ingin tetap memiliki rumahnya.
Bukan sembarang rumah, yang dipindahkan adalah rumah adat panggung khas Bugis yang umumnya terbuat dari kayu.
Prosesnya melibatkan kolaborasi puluhan hingga ratusan warga kampung, menjadikannya salah satu wujud nyata dari semangat gotong royong.
Baca juga: Menyingkap Kisah Pasola Sumba, Ritual Sakral yang Digelar untuk Kesuburan Tanah
Syarat dan Persiapan Sebelum Mengangkat Rumah
Rumah adat Bugis memiliki ciri khas kerangka tiang dan balok yang dirangkai tanpa menggunakan paku, serta berbentuk persegi panjang yang memanjang ke belakang.
Tiang-tiang rumah ada yang ditancapkan ke dalam tanah, dan sebagian lainnya diletakkan di atas batu dengan keseimbangan.
Sebelum rumah dipindahkan, perabotan di dalamnya, seperti lemari dan barang pecah belah, harus dikeluarkan terlebih dahulu untuk menghindari kerusakan.
Baca juga: Tradisi Bahari Hidup di Parepare, Ratusan Warga Saksikan Pelepasan Perahu Sandeq
Selanjutnya, bilah-bilah bambu atau kayu yang kuat dipasang di bawah tiang-tiang rumah panggung sebagai alat bantu untuk mengangkat.
Ada dua metode pemindahan yang dilakukan yakni jika lokasi baru tidak jauh, rumah akan didorong setelah bagian bawahnya dipasangi roda atau ban.
Namun, jika jaraknya jauh, seluruh warga akan bergotong royong mengangkat rumah bersama-sama.
Baca juga: Reak Dogdog, Warisan Budaya Tak Benda Jawa Barat yang Sudah Ada Sejak Zaman Majapahit
Gotong Royong Ratusan Warga dan Peran Ketua Adat
Prosesi ini merupakan sebuah acara besar yang hanya melibatkan kaum laki-laki, sementara para ibu bertugas menyiapkan hidangan.
Sebelum dimulai, doa bersama dipanjatkan agar seluruh proses berjalan lancar.
Pengangkatan dan pemindahan rumah dipimpin oleh seorang ketua adat.
Ia akan memberikan aba-aba dan meneriakkan "mantra" khusus untuk membangkitkan semangat dan kekuatan para warga.
Aba-aba ini menjadi komando kapan harus mengangkat, berjalan, hingga mengontrol kecepatan langkah.
Baca juga: Tradisi Unik 17 Agustus di Medan: Warga Kampung Aur Nyebur Massal ke Sungai
Dua Jenis Hidangan yang Disajikan Saat Prosesi
Makanan memiliki peran penting dalam tradisi Mappalette Bola. Ada dua jenis hidangan yang disajikan untuk para laki-laki yang berpartisipasi:
- Sebelum pindahan, dihidangkan kue-kue tradisional khas Suku Bugis, seperti kue bandang, baronggo, dan suwella, ditemani teh atau kopi.
- Setelah pindahan, disajikan masakan berat berupa sup saudara, salah satu makanan khas Sulawesi Selatan, serta berbagai masakan dari ikan bandeng yang dibumbui saus kacang.
Baca juga: Uniknya Kesenian Singo Barong di Desa Bumiayu, Kecamatan Weleri
Upacara Maccera Bola, Menolak Bala di Rumah Baru
Setelah rumah berhasil dipindahkan dan ditempati selama kurang lebih satu tahun, Suku Bugis akan melakukan upacara adat lain yang disebut Maccera Bola.
Upacara ini bertujuan untuk menolak bala dan mendatangkan keberkahan. Caranya adalah dengan menyapukan darah ayam pada tiang-tiang rumah, sebagai simbol pembersihan dan perlindungan bagi penghuninya.
Tradisi Mappalette Bola bukan hanya sekadar memindahkan bangunan, tetapi juga menjadi cerminan eratnya ikatan kekeluargaan dan semangat kebersamaan yang terus dijaga oleh masyarakat Bugis secara turun temurun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Indonesia.go.id