INDOZONE.ID - Indonesia kaya akan beragam suku dan budaya yang memiliki keunikan masing-masing. Tak terkecuali Suku Sasak yang berada di Desa Sade, Rembitan, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.
Bila akhir-akhir ini viral berita perempuan diculik lalu dipaksa menikah di Sumba, di Desa Sade perempuan yang akan menikah juga harus “diculik” oleh pihak laki-laki. Sebelum proses penculikan, tempat pertemuan keduanya berada di depan pohon cinta. Pohon cinta merupakan pohon nangka yang telah lapuk dimakan usia dan tumbuh di tengah-tengah desa. Mirip dengan tradisi kawin tangkap di Sumba, Nusa Tenggara Timur, tradisi unik yang disebut Merariq ini dilakukan dengan cara pengantin wanita “diculik” tanpa sepengetahuan orang tuanya. Calon pengantin menikah tanpa paksaan, sama-sama saling suka, dan siap menikah. Namun, ada juga pengantin yang dijodohkan antarkeluarga. Walaupun si perempuan tidak menyukai calonnya, ia boleh dipaksa untuk menikah dan diculik oleh pihak pria.
Baca juga: Kula Ring di Kepulauan Trobriand, Papua Nugini : Tradisi Pertukaran yang Menjaga Harmoni Sosial
Calon pengantin perempuan sebelum menikah harus pandai menenun seseq atau tenun ikat. Tak heran para perempuan diajarkan menenun sejak dini. Hasil tenun perempuan Suku Sasak dijual sebagai buah tangan bagi wisatawan yang berkunjung ke Desa Sade. Selain menenun, penduduk Desa Sade juga membuat berbagai aksesori seperti gelang, cincin, hiasan dinding, hingga menjual hasil perkebunan seperti kopi dan berbagai olahan kuliner lainnya.
Suku Sasak yang berjumlah sekitar 152 keluarga ini mempertahankan tradisi dan budaya sejak zaman dahulu, dengan keunikan rumah-rumah beratap pelepah daun rumbai yang sudah kering, berlantai tanah liat bercampur sekam padi, serta berdinding anyaman bambu. Tak hanya itu, suku ini membersihkan lantai rumah dengan kotoran kerbau yang masih baru, lalu dicampur tanah liat dan digosokkan ke lantai. Biasanya mereka melakukannya sebulan sekali. Suku Sasak percaya bahwa lantai yang dilumuri kotoran kerbau akan membuat rumah mereka tetap suci.
Dengan luas desa sekitar 3 hektare, Desa Sade yang sudah ada sejak 1.500 tahun lalu, melarang pengunjung memakai pakaian minim, menyakiti sesama, serta berteriak-teriak di lingkungan desa. Wisatawan diperbolehkan menyusuri desa, tetapi dilarang memasuki rumah penyimpanan pusaka.
Baca juga: Tradisi Sewengenan: Wujud Rasa Syukur dan Kebersamaan Warga di Boyolali
Rumah-rumah di desa yang berjarak 30 kilometer dari pusat Kota Mataram ini memiliki beberapa fungsi, mulai dari Bale Kodong sebagai tempat tinggal para jompo atau pasangan baru menikah yang belum memiliki rumah, hingga Bale Tani sebagai tempat tinggal para petani. Rumah-rumah Suku Sasak yang dihuni sekitar 700 orang ini juga tahan gempa. Terbukti saat gempa melanda Nusa Tenggara Barat, rumah-rumah di desa ini tetap kokoh berdiri. Dengan mata pencaharian sebagai petani dan peternak, Suku Sasak juga memperoleh penghasilan dari kunjungan wisatawan yang memberikan donasi secara sukarela.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan