Sabtu, 07 MARET 2026 • 19:31 WIB

Kenapa Bukber Kini Terasa Melelahkan? Ini Penjelasan Sosiolog

Author

Ilustrasi bukber tema baper (freepik/rawpixel-com)

INDOZONE.ID - Buka puasa bersama atau bukber selama ini identik dengan kebersamaan, silaturahmi, dan kehangatan sosial. 

Namun di balik suasana hangat itu, muncul fenomena baru yang makin terasa: kelelahan sosial atau social burnout. 

Undangan yang bertubi-tubi, ekspektasi sosial untuk hadir, hingga tekanan tampil “kompak” di media sosial membuat sebagian orang justru merasa terkuras, bukan hanya secara finansial, tetapi juga emosional dan spiritual.

Menurut sosiolog dari Universitas Indonesia, fenomena ini berkaitan erat dengan pergeseran makna praktik keagamaan dalam masyarakat modern. 

Bukber, yang awalnya berakar pada nilai spiritual, kini cenderung bergerak ke ranah budaya dan ritual sosial.

Baca juga: Momen Langka Bukber Lintas Agama, Netizen: Ini Baru Toleransi!

Dalam kacamata sosiologi agama, praktik keagamaan tidak hanya dipahami sebagai ibadah personal, tetapi juga sebagai fenomena sosial. Namun, bukber saat ini dinilai semakin jauh dari dimensi spiritualnya.

“Kalau kita bicara bukber, itu lebih lari ke culture daripada spiritualnya itu sendiri. Jadi bukan lagi spiritual, tapi dia lari ke ritual,” ujar Dr. Nadia Yovani M.Si saat diwawancarai Indozone.

Fenomena ini bukan hanya terjadi pada satu agama, tetapi menjadi pola umum dalam kehidupan beragama modern. 

Aktivitas keagamaan sering kali dipraktikkan sebagai kebiasaan kolektif yang dilakukan berulang, tanpa selalu diiringi refleksi spiritual yang mendalam.

Dalam sosiologi agama, ada beberapa unsur yang membentuk praktik keagamaan: adanya pemimpin ritual, pemisahan antara yang suci dan tidak suci, keberadaan komunitas, serta struktur makna yang menopang praktik tersebut. 

Baca juga: Cara Menolak Ajakan Bukber dengan Elegan Tanpa Bikin Canggung dan Anti Drama!

Ketika praktik seperti bukber lebih didorong oleh kebiasaan sosial daripada kesadaran spiritual, maka batas antara yang sakral dan yang sekadar sosial menjadi kabur.

Secara teologis, berbuka puasa tidak harus dilakukan dalam pertemuan besar. Berbuka bersama keluarga di rumah pun memiliki nilai yang sama. 

Namun dalam praktik sosial, bukber berkembang menjadi ajang berkumpul lintas komunitas: teman sekolah, rekan kerja, hingga jejaring profesional.

“Budaya kolektif di antara komunitas itu tidak sadar membawa manusia menjauh dari yang sacred itu sendiri. Sehingga momen spiritualnya jadi hilang. Jadinya itu hanya sebuah ritual,” ungkap Nadia. 

Artinya, yang dipertahankan bukan lagi makna ibadahnya, tetapi format sosialnya.

Salah satu pemicu social burnout adalah tekanan sosial untuk hadir. Menolak undangan bukber sering dianggap sebagai tindakan yang kurang menghargai relasi.

Baca juga: Cara Menolak Ajakan Bukber dengan Elegan Tanpa Bikin Canggung dan Anti Drama!

“Menolak itu sebenarnya ada social sanction. Karena dianggap memutus silaturahmi. Manusia Indonesia cenderung malas menolak undangan bukber,” jelasnya. 

Akibatnya, banyak orang menghadiri bukber bukan karena kebutuhan spiritual atau keinginan pribadi, tetapi karena tuntutan sosial. 

Di sinilah kelelahan sosial mulai muncul: energi emosional terkuras untuk memenuhi ekspektasi kolektif.

Bukber juga sering berlangsung dalam lingkaran kelompok tertentu: alumni sekolah, rekan kantor, atau komunitas tertentu. Meski terlihat inklusif, praktik ini tetap menunjukkan batas-batas sosial.

“Saya masih melihat ada eksklusivitas. Kelompok di mana manusia itu berada,” jelas Nadia.

Dengan kata lain, bukber tidak sepenuhnya meleburkan perbedaan sosial, tetapi sering kali justru mereproduksi batas kelompok dan identitas sosial.

Baca juga: Gelar Bukber 1000 Porsi Opor Ayam Gratis untuk Anak Panti dan Pengunjung, Jogja City Mall Gaet 30 Chef Profesional

Percepatan fenomena bukber juga tidak bisa dilepaskan dari peran media sosial. Konten berbuka bersama, rekomendasi restoran, hingga dokumentasi kebersamaan memperkuat dorongan untuk ikut merayakan dalam format yang sama.

Algoritma di platform seperti Instagram, TikTok, dan Facebook terus menampilkan momen kebersamaan Ramadan, yang secara tidak langsung membentuk persepsi bahwa bukber adalah pengalaman yang “harus” dilakukan.

“Algoritma mengarahkan kita pada momen buka puasa bersama sepanjang Ramadan. Itu mempercepat kita berpikir: ayo cepat saja melakukan bukber,” tambah Nadia.

Dari sisi ekonomi, tren ini juga menggerakkan sektor konsumsi: restoran, kafe, hingga penyedia ruang pertemuan mendapat lonjakan permintaan selama Ramadan.

Perubahan paling mendasar terletak pada makna sosial bukber itu sendiri. Ia tidak lagi sekadar ibadah atau refleksi spiritual, melainkan juga menjadi ruang performatif, tempat menunjukkan kebersamaan, keaktifan sosial, bahkan citra diri.

“Ritual sosial ini berubah makna menjadi ritual performa. Bukan lagi ritual spiritual, tapi momen kita ngumpul-ngumpul,” ungkapnya. 

Menariknya, bukber kini juga melibatkan banyak orang di luar komunitas religius yang menjalankan puasa. Pertemuan lintas agama dan latar sosial membuat Ramadan menjadi momentum sosial bersama, bukan hanya pengalaman spiritual individual.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wawancara

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU