INDOZONE.ID - Bulan Muharram menjadi momen istimewa bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah dan berbagi kepada sesama. Di Indonesia, bulan pertama dalam kalender Hijriah ini bahkan dikenal sebagai Bulan Anak Yatim atau Idul Yatama, terutama pada 10 Muharram.
Di balik tradisi santunan yang telah berlangsung turun-temurun, terdapat makna mendalam tentang kepedulian sosial yang diajarkan dalam Islam.
Mengapa Muharram Disebut Bulan Anak Yatim? Ini Makna Idul Yatama dalam Islam
Muharram bukan sekadar menandai pergantian Tahun Baru Islam. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram atau bulan mulia yang disebut dalam Al-Qur'an, sehingga umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh dan berbagai bentuk kebaikan.
Di Indonesia, Muharram memiliki tradisi khas berupa santunan anak yatim yang banyak digelar oleh masjid, lembaga sosial, hingga komunitas masyarakat. Tradisi tersebut membuat Muharram juga dikenal sebagai Bulan Anak Yatim atau Idul Yatama.
Lantas, mengapa Muharram begitu identik dengan anak yatim?
Perhatian pada Anak Yatim PunyaTempat Istimewa dalam Islam
Islam memberikan perhatian besar kepada anak yatim. Al-Qur'an berulang kali mengingatkan umat Islam agar menjaga, melindungi, dan memperlakukan mereka dengan kasih sayang.
Baca juga: Aksi Berbagi di Ramadhan Akhir: Senyum Anak-anak Yatim BPS Al Fajri Ngabuburit Seru di Wahana Modern
Salah satunya terdapat dalam Surah Ad-Dhuha ayat 9:
"Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang."
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa memuliakan anak yatim bukan sekadar anjuran, melainkan bagian dari akhlak seorang Muslim.
Tradisi berbagi kepada anak yatim yang berkembang pada 10 Muharram pun lahir dari semangat tersebut. Masyarakat memanfaatkan Hari Asyura untuk memberikan santunan, hadiah, hingga mengajak anak-anak yatim mengikuti berbagai kegiatan yang membawa kebahagiaan.
Rasulullah SAW Berikan Teladan Menyayangi Anak Yatim
Kedekatan Islam dengan anak yatim juga tidak lepas dari keteladanan Rasulullah SAW yang sejak kecil tumbuh sebagai seorang yatim.
Dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah SAW bersabda "Aku dan orang yang menanggung anak yatim akan berada di surga seperti ini."
Beliau kemudian merapatkan jari telunjuk dan jari tengah sebagai gambaran kedekatan keduanya di surga.
Hadis tersebut menunjukkan besarnya keutamaan bagi siapa saja yang merawat, mendidik, maupun membantu memenuhi kebutuhan anak yatim.
Bentuk kepedulian itu tidak hanya berupa bantuan materi, tetapi juga pendidikan, pendampingan, perhatian, dan kasih sayang.
Kepedulian pada Anak Yatim Tidak Cukup Sekali Setahun
Meski tradisi santunan pada Muharram sangat baik, kepedulian kepada anak yatim seharusnya tidak berhenti pada kegiatan seremonial tahunan.
Anak-anak yatim membutuhkan dukungan yang berkelanjutan, mulai dari akses pendidikan, pengembangan keterampilan, hingga kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Karena itu, semangat Muharram dapat menjadi pengingat bagi umat Islam untuk terus memperkuat empati dan solidaritas sosial sepanjang tahun, bukan hanya pada 10 Muharram.
Banyak Cara Membahagiakan Anak Yatim
Membantu anak yatim tidak selalu harus berupa uang tunai. Ada banyak bentuk kepedulian yang dapat dilakukan, di antaranya:
- Mengajak berbelanja kebutuhan sekolah.
- Mendampingi proses belajar.
- Memberikan pelatihan keterampilan.
- Menjadi relawan pendamping.
- Meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita dan kebutuhan mereka.
-
Baca juga: Viral Kisah Inspiratif Rakean, Pemuda Ciamis yang Hidupi 13 Anak Yatim dengan Gaji Ngarit Rp 25 Ribu
Langkah-langkah sederhana tersebut dapat memberikan dampak besar bagi tumbuh kembang anak yatim sekaligus menghadirkan rasa diperhatikan dan dicintai.
Muharram Jadi Momentum Berbagi
Melalui berbagai program pemberdayaan anak yatim, seperti Kado untuk Yatim, Belanja Bareng Yatim, hingga bantuan bagi yatim di wilayah krisis, Dompet Dhuafa berupaya menghadirkan dukungan yang berkelanjutan bagi anak-anak yang membutuhkan.
Ketua Pengurus Yayasan Dompet Dhuafa, Ahmad Juwaini, mengatakan Muharram seharusnya menjadi momentum untuk menghadirkan harapan yang lebih besar bagi anak-anak yatim.
"Muharram menjadi pengingat bahwa anak yatim bukan hanya membutuhkan santunan sesaat, tetapi juga kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan meraih cita-cita. Karena itu, mari jadikan bulan yang mulia ini sebagai momentum untuk menebarkan kasih sayang dan kepedulian yang berkelanjutan," ujar Ahmad Juwaini.
Semangat Muharram mengajarkan bahwa setiap kebaikan yang diberikan hari ini dapat menjadi bekal bagi anak-anak yatim untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Dengan menghadirkan perhatian, kasih sayang, dan dukungan secara berkelanjutan, nilai-nilai hijrah tidak hanya menjadi simbol pergantian tahun, tetapi juga perubahan menuju pribadi yang lebih peduli terhadap sesama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: