Ilustrasi Hepatitis (Foto/jcomp via Freepik)
INDOZONE.ID – Hepatitis masih menjadi ancaman kesehatan global, meski sering dianggap sebagai penyakit masa lalu. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, hepatitis sebagai peradangan hati akibat virus maupun faktor non-infeksi.
Hal itu dapat menyebabkan kerusakan hati parah hingga kanker, bahkan berujung fatal. Adapun lima jenis utama virus hepatitis, yaitu A, B, C, D, dan E.
Menurut National Institutes of Health (NIH), lebih dari 2 miliar orang di dunia telah terinfeksi virus hepatitis B (HBV). Lalu sekitar 248 juta di antaranya mengalami infeksi kronis.
Sementara itu, WHO mencatat, India menempati urutan kedua kasus hepatitis B dan C terbanyak setelah Tiongkok pada tahun 2022.
Baca juga: 4 Alasan Anak Harus Mendapatkan Vaksin Hepatitis B, Apa Saja?
Dalam wawancara yang dikutip dari Hindustan Times, Medical Director International SOS (India), Dr. Vikram Vora, mengungkapkan, ada simbol kebebasan dan modernitas.
Misal vaksinasi, tato, dan layanan medis, kini ikut menyumbang meningkatnya kasus hepatitis.
“Mungkin mengejutkan bahwa pada 2025, hepatitis masih menjadi ancaman serius. Penyakit ini diam-diam menginfeksi jutaan orang. Ironisnya, hal-hal yang kita anggap aman seperti vaksin, tato, hingga perawatan medis, bisa menjadi pemicu infeksi baru,” ujar Dr. Vora.
Meski vaksin hepatitis B sudah tersedia selama puluhan tahun, tidak semua orang terlindungi. Dr. Vora menjelaskan, di India vaksin hepatitis B baru diwajibkan bagi bayi sejak 2007. Artinya, mereka yang lahir sebelumnya, kemungkinan besar tidak mendapat vaksin lengkap.
“Bahkan di rumah sakit, jarang ada protokol pemeriksaan kekebalan hepatitis B sebelum memberikan suntikan, atau melakukan prosedur kecil. Inilah celah besar yang sering diabaikan,” katanya.
Dr. Vora menyarankan, masyarakat meminta dokter melakukan tes antibodi anti-HBs untuk memastikan perlindungan.
Ilustrasi seniman tato. (Freepik/Frolopiaton Palm)
Risiko penularan hepatitis juga datang dari jarum tato dan tindikan. Menurut Dr. Vora, studio tato yang tidak berizin, sering kali mengabaikan prosedur sterilisasi, menggunakan jarum berulang, atau tinta terkontaminasi.
“Piercing juga punya risiko serupa. Berapa banyak dari kita yang benar-benar menanyakan prosedur autoclave atau penggunaan tinta sekali pakai kepada seniman tato? Padahal, itu menyangkut darah kita,” tegasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Hindustan Times