Ilustrasi orang kehilangan nafsu makan karena mengidap penyakita addison. (Freepik)
INDOZONE.ID – Penyakit Addison merupakan gangguan kesehatan langka, yang terjadi ketika kelenjar adrenal tidak mampu memproduksi hormon penting dalam jumlah yang cukup.
Kondisi yang juga dikenal sebagai insufisiensi adrenal primer ini, dapat menyebabkan berbagai gejala. Mulai dari kelelahan berat, hingga penurunan berat badan yang tidak disengaja.
Meski tergolong jarang terjadi, penyakit Addison dapat menjadi kondisi yang mengancam jiwa, apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat.
Lantaran gejalanya berkembang secara perlahan, banyak penderita yang tidak menyadari, mereka mengalami gangguan hormonal serius.
Baca juga: Waspada! Kejang Berulang Bisa Jadi Tanda Penyakit Epilepsi Autoimun yang Menyerang Otak
Dikutip dari Mayo Clinic, penyakit Addison terjadi ketika kelenjar adrenal yang terletak di atas ginjal, mengalami kerusakan. Sehingga, tidak mampu menghasilkan hormon kortisol dalam jumlah yang memadai.
Bahkan pada banyak kasus, produksi hormon aldosteron juga ikut menurun.
Kortisol berperan penting dalam mengatur metabolisme tubuh, menjaga tekanan darah, membantu sistem kekebalan tubuh, serta mendukung respons tubuh terhadap stres.
Sementara itu, aldosteron membantu menjaga keseimbangan kadar natrium dan kalium, yang penting untuk mengontrol tekanan darah.
Ketika kedua hormon tersebut tidak diproduksi secara cukup, berbagai fungsi tubuh dapat terganggu.
Ilustrasi orang kehilangan nafsu makan karena penyakit addison. (Freepik)
Gejala penyakit Addison umumnya berkembang secara perlahan selama berbulan-bulan. Pada tahap awal, gejalanya sering disalahartikan sebagai kelelahan biasa atau dampak stres berkepanjangan.
Beberapa gejala yang paling umum meliputi:
Selain itu, penderita juga dapat mengalami perubahan fisik berupa penggelapan warna kulit, terutama pada bekas luka, lipatan kulit, atau tahi lalat. Kondisi ini dikenal sebagai hiperpigmentasi dan menjadi salah satu tanda khas penyakit Addison.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Mayo Clinic