Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 03 NOVEMBER 2025 • 17:55 WIB

Pentingnya Skrining Anemia Defisiensi Zat Besi, Bisa Dicegah Sejak Dini dengan Kalkulator Ajaib

Pentingnya Skrining Anemia Defisiensi Zat Besi, Bisa Dicegah Sejak Dini dengan Kalkulator AjaibIlustrasi Anemia. (Photo/Ilustrasi/familydoctor.org)

INDOZONE.ID – Tahukah kamu kalau 1 dari 3 anak dan perempuan usia produktif di Indonesia masih mengalami defisiensi zat besi? Kondisi ini sering kali tidak disadari karena gejalanya tidak langsung terlihat, padahal dampaknya bisa serius terhadap kesehatan, perkembangan otak, dan masa depan anak.

Dokter Spesialis Anak dr. I Gusti Ayu Nyoman Partiwi, Sp.A, MARS atau yang akrab disapa dr. Tiwi menjelaskan bahwa kekurangan zat besi adalah silent condition. Bahkan masih banyak masyarakat yang tidak menyadari bahwa defisiensi zat besi bisa berdampak besar pada performa dan masa depan anak.

"Indonesia masih menempati posisi ke-4 dengan prevalensi anemia tertinggi di Asia Tenggara. Ironisnya, survei juga menemukan bahwa 50% ibu belum tahu kalau kekurangan zat besi dapat memengaruhi kecerdasan anak," ujar dr Tiwi dalam acara Danone x IdeaFest 2025 di Jakarta.

Mengapa Zat Besi Begitu Penting?

Secara biomedis, zat besi merupakan elemen penting dalam pembentukan hemoglobin, yaitu komponen sel darah merah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh.

Kalau tubuh kekurangan zat besi, produksi hemoglobin menurun, dan otak pun jadi kekurangan oksigen. Efeknya bisa dirasakan mulai dari tubuh mudah lelah, sulit fokus, hingga gangguan kognitif dan emosional seperti kecemasan atau depresi.

Bagi anak-anak, kekurangan zat besi bisa berdampak langsung pada perkembangan otak dan kemampuan belajar. Kalau dibiarkan, efeknya bisa terbawa hingga dewasa dan memengaruhi produktivitas.

 
Asupan Zat Besi dari Makanan Sehari-hari

Menurut dr. Tiwi, cara paling sederhana untuk mencegah defisiensi zat besi adalah dengan memastikan pola makan seimbang. Sumber zat besi terbaik bisa didapat dari protein hewani (zat besi heme): daging merah, hati ayam, telur, ikan. Ada juga sumber nabati (zat besi non-heme): bayam, kacang-kacangan, dan biji-bijian

Biar penyerapan zat besi lebih maksimal, konsumsi juga Vitamin C, misalnya dari buah jeruk, stroberi, atau tomat. Kombinasi zat besi dan vitamin C bisa membantu penyerapan zat besi hingga dua kali lipat lebih efektif.

Baca juga: Anemia Jadi Silent Killer di Kalangan Anak Muda, dr. Tiwi: Bisa Pengaruhi Kecerdasan!


Deteksi Dini dengan Kalkulator Zat Besi

Masalahnya, tidak semua orang tahu apakah tubuhnya sudah cukup zat besi atau belum. Karena itu, skrining dini jadi langkah penting sebelum kondisi berkembang menjadi anemia.

Sebagai langkah inovatif, Sarihusada menghadirkan alat bantu deteksi dini pertama di Indonesia, yaitu Kalkulator Zat Besi. Lewat alat ini, orang tua bisa mengecek potensi kekurangan zat besi pada anak hanya dalam waktu kurang dari 3 menit.

Kalkulator Zat Besi bisa digunakan secara mandiri. Hasilnya dapat menjadi pemantauan awal sebelum pemeriksaan lanjutan oleh tenaga kesehatan.

"Kita harus tahu status besi, itu sebabnya skirining penting dan kalau kurang besi, anak anemia bisa mengganggu otaknya dan itu bs diintervensi," ujar  Medical Science Director Sarihusada Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH.

Cara Mencegah Defisiensi Zat Besi

Defisiensi zat besi bukan sekadar angka di data kesehatan, tapi isu nyata yang bisa menghambat potensi generasi muda Indonesia. Dengan skrining dini, edukasi gizi, dan konsumsi makanan bergizi seimbang, kita bisa membantu membentuk generasi yang lebih kuat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Pentingnya Skrining Anemia Defisiensi Zat Besi, Bisa Dicegah Sejak Dini dengan Kalkulator Ajaib

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!